Thursday, July 12, 2012

Mencari Sebuah Gendongan

Tidak boleh menggendong anak! Kalimat tegas dan lugas yang keluar dari mulut dokter itu membuatku tertegun seketika. Belum habis rasa kagetku, kalimat larangan berikutnya mengalir bagai air bah: tak boleh senam, tak boleh loncat-loncat, tak boleh mengangkat barang berat, dan seterusnya. Ketika aku keluar dari ruang praktek dokter spesialis tulang belakang itu, raut mukaku meredup. Kugigit bibir untuk menahan pilu. Aku seorang bunda, bagaimana mungkin tak boleh menggendong anak?

Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu ketika dokter memvonisku dengan kelainan skoliosis. Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping kanan atau kiri. Kata skoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita skoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Ternyata skoliosis-lah penyebab sering munculnya pegal-pegal di punggung ketika beraktivitas selama ini, terutama ketika melakukan aktivitas yang banyak mengandalkan punggung sebagai penopang. Menggendong anak adalah salah satunya. Semenjak vonis skoliosis itu datang, tiba pula waktunya mencari tahu bagaimana menjadikan aktivitas menggendong anak menjadi sesuatu yang tidak memberati punggung. Maka tanpa disadari, mulailah aku “berburu” gendongan yang nyaman.
Pilihan pertama jatuh pada jarik atau slendang (Bahasa Jawa), kain batik panjang yang biasa digunakan untuk menggendong secara tradisional. Apa pasal? Tak lain dan tak bukan karena aku punya beberapa jarik yang diberikan oleh ibu mertua tiap kali aku melahirkan. Tapi ternyata aku tak mahir menggunakan kain gendongan satu ini. Tali simpul tak pernah kencang benar, anak-anak serasa mau melorot saja. Buatku tak nyaman, buat anak apalagi. Khusus buat skoliosisku, gendongan ini juga tak cocok karena memberati punggung hanya pada satu sisi. Hal yang harus dihindari jauh-jauh karena dapat mengakibatkan kelengkungan punggung bertambah secara progresif.
Digendong dengan jarik, si dedek terlihat tidak nyaman.

Pilihan berikutnya adalah kain gendongan instan dengan ring besi untuk kaitan simpul. Hmm, bagus karena aku tak perlu terlalu sering membetulkan ikatannya, pikirku. Tinggal masuk langsung jadi. Cukup nyaman buat anak-anakku. Tapi gendongan ini ternyata masih membuatku pegal. Tentu saja, karena ia masih memberati punggung hanya pada satu sisi.

Setelah cukup lama tengok sana-sini, akhirnya aku melirik kain gendongan modern atau yang lebih populer dengan sebutan babywrap. Memang agak ribet cara pakainya karena harus dibelitkan ke seluruh tubuh. Memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk menggendong anak, meski hal itu bisa dieliminasi dengan banyaknya jam terbang. Kurasa aku cukup puas dengan gendongan model ini. Anak terdekap sempurna dengan berbagai cara, dan yang terpenting: kain gendongan ini membagi rata beban ke seluruh bahu dan punggung sehingga aku tidak cepat pegal.


Gendongan pembagi beban.

Terlepas dari apapun kain gendongan yang dipilih, kurasa sangat sulit bagi seorang bunda untuk tidak menggendong anaknya. Menggendong anak itu aktivitas alami yang dapat mempererat bonding, serta memberi rasa nyaman dan aman pada anak. Bahkan pada kasus anak sakit atau anak lahir prematur, aktivitas menggendong bisa jadi bagian dari solusi mempercepat penyembuhan dan peningkatan berat badan. Khusus untuk pengidap kelainan skoliosis yang tak bisa disembuhkan seperti diriku, aktivitas menggendong ternyata juga bisa menjadi ajang kontemplasi untuk lebih peduli, menghargai, dan sayang terhadap tubuh sendiri.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba di sini.
Naskah aslinya berada di sini.

Saturday, May 05, 2012

[Hanif] Berbagi Mainan


Sudah lama aku merasa gerah dengan mainan-mainan Hanif yang banyaknya sampai tiga kontainer itu. Sebagian besar di antaranya adalah mobil-mobilan. Paling sebal kalau dia mulai menumpahkan kontainer dan membuat isinya berserakan. Makin sebal lagi kalau tiap minggu dia masih minta mobil-mobilan dan ayahnya dengan gampang menurutinya.

Sudah lama pula aku punya keinginan untuk mengajarkan Hanif sesuatu, bahwa ada anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung dirinya yang berkelimpahan mainan. Dulu aku menawarinya komitmen: kalau ada mainan yang masuk, maka harus ada mainan yang keluar. Maksudnya ‘keluar’ di sini adalah menyumbangkan mainannya untuk anak-anak panti asuhan yang pernah kami kunjungi dulu. Namun, selalu saja dia menolak, mungkin masih merasa sayang dengan mainan-mainannya itu.

Akhirnya pagi tadi, setelah diawali dengan episode nangis-nangis, jadilah kami menjalani komitmen itu. Terharu rasanya Hanif mau diajak memilah dan menyortir mainannya: mana yang akan disimpan buat dirinya, mana yang sudah rusak dan perlu dibuang, serta mana yang akan disumbangkan ke panti asuhan. Setelah tersortir, mainan-mainan yang akan disumbangkan dimasukkan ke kotak, diselotip rapi, dan dimasukkan ke kantong plastik.

Menjelang siang, Hanif dan ayahnya siap berangkat. Satu agenda untuk ‘mengajarkannya sesuatu’ akhirnya terselesaikan. Semoga ke depan, Hanif tumbuh menjadi anak yang suka bersyukur, berbagi, dan berempati dengan kesusahan orang lain.

Saturday, December 10, 2011

Kelahiran Abi

Meet my second son: Muhammad Abimanyu Martono :)

Akhirnya resmi sudah namanya, pada saat aqiqah di hari ke-14 setelah kelahirannya. Abimanyu terdiri dari dua kata Sansekerta, yaitu abhi (berani) dan man’yu (tabiat). Dalam bahasa Sansekerta, kata Abhiman’yu secara harfiah berarti “ia yang memiliki sifat tak kenal takut” atau “yang bersifat kepahlawanan” (sumber dari sini). Dalam kisah pewayangan, Abimanyu adalah putra Arjuna dan ia adalah ksatria termuda dari pihak Pandawa dalam peperangan Bharatayuddha.

Meskipun konsep nama ini sudah di-godhog sebelum Abi lahir, ternyata proses kelahirannya membawa kenangan tersendiri akan arti sebuah keberanian. Dan tanpa rasa takut, Abi berhasil melaluinya.

Kisah kelahiran Abi bermula pada Sabtu, 19 November 2011. Sehari menjelang HPL, tak ada juga tanda-tanda mau melahirkan. Dokter kandungan langganan menyarankan untuk melakukan CTG guna merekam detak jantung dan gerakan janin, sekaligus untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Hasil CTG memang menunjukkan kalau semuanya baik-baik saja dan beberapa kontraksi lemah sudah mulai berlangsung. Pada saat CTG, setelah diperiksa dalam, ternyata aku sudah pembukaan dua. Akibat periksa dalam pada saat CTG itu, ketika kami pulang dari rumah sakit, kontraksi makin sering terjadi.

Sabtu menjelang tengah malam, setelah memastikan Hanif baik-baik saja di bawah penjagaan Mbak Nunung (asisten yang pulang hari) karena pengasuhnya sedang izin pulang kampung, aku diantar suami ke rumah sakit. Tengah malam itu aku sudah pembukaan empat. Segera masuk kamar bersalin untuk bersiap.

Minggu dini hari pukul setengah empat, pembukaan baru mencapai bukaan enam. Berasa aneh, mengapa proses pembukaan berjalan sangat lambat, tidak seperti waktu kelahiran Hanif dulu? Minggu pukul delapan pagi, diputuskan untuk dilakukan induksi karena sudah empat setengah jam proses pembukaan tidak mengalami kemajuan dari bukaan enam.

Ya Allah, baru kali ini merasakan diinduksi. Tak berhasil menepis khawatir karena pernah mendengar cerita bahwa kontraksi hasil induksi akan jauh lebih sakit dibanding kontraksi yang terjadi secara alami. Dan memang benar, selama satu setengah jam kemudian, aku benar-benar merasakan apa yang namanya perjuangan. Progres pembukaan berlangsung cepat, dan pada 20 November 2011 pukul 09.45 Abi lahir.

Dari sinilah perjuangan yang lain dimulai. Entah akibat menelan air ketuban atau akibat terlilit tali pusar, tangisan Abi tak jua keras. Setelah dilakukan observasi, ternyata Abi harus segera diberi oksigen melalui selang dan tak bisa melanjutkan proses IMD. Akibatnya Abi juga tak bisa rawat gabung denganku karena harus diobservasi intens di kamar bayi. Saat itu, di tengah rasa lemas habis melahirkan, hatiku diliputi oleh berbagai kegalauan. Galau terhadap perkembangan kondisi Abi, juga galau memikirkan Hanif yang ditinggal di rumah tanpa ayah bundanya.

Tak bisa IMD dan rawat gabung membuatku bertekad bahwa Abi tetap harus bisa ASI eksklusif. Maka perjuangan berikutnya dimulai. Karena Abi terikat dengan alat pulse oximeter di kamar bayi, maka per 2-3 jam aku harus datang untuk menyusuinya. Hal ini sangat melelahkan untuk seseorang yang baru saja melahirkan, karena itu berarti aku harus mengabaikan rasa sakit dan rasa lelah, juga mengabaikan panggilan tidur meski terasa sangat mengantuk. Alhasil selama tiga hari di rumah sakit, bisa dibilang aku hanya tidur sekedarnya. Tapi ini tak masalah, karena dari awal aku sudah berniat memberinya ASI eksklusif.

Hati bunda mana yang tak pilu melihat bayinya diselang-selang begitu. Satu selang untuk oksigen, satu selang untuk sonde, dan kabel di kaki yang terhubung dengan pulse oximeter. Observasi terus dilakukan, tapi tiap kali selang oksigen dicoba dilepas, proses oksigenasi Abi menjadi tidak stabil. Bahkan di awal-awal tubuhnya sempat membiru.

Ada suatu masa ketika aku sempat tergugu memangkunya, yaitu ketika suster mengatakan kalau badan Abi demam akibat asupan ASI yang kurang, dan menyuruhku mempertimbangkan pemakaian susu formula untuk memperbanyak asupan ke tubuhnya. Jujur, waktu itu aku sangat takut kalau-kalau niat kuatku untuk memberinya ASI eksklusif justru akan membahayakan dirinya. Kata suster, untuk seorang bayi yang sehat, jumlah ASI yang sedikit di awal-awal memang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Tapi untuk kondisi Abi yang kurang sehat, tidak diperlukan adanya ancaman tambahan seperti kurang asupan ASI yang dapat menyebabkannya demam dan kuning. Salah-salah malah harus disinar sehingga akan makin lama pulihnya, mengingat waktu itu proses oksigenasinya juga belum stabil.

Hasil rembugan dengan suami membuatku tetap keukeuh pada rencana ASI eksklusif sambil melihat perkembangan kondisi Abi. Selasa pagi aku sudah boleh pulang, tapi kepastian untuk Abi belum juga muncul. Mana mungkin aku bisa pulang ke rumah tanpa dia. Akan lebih susah lagi proses ASI eksklusifnya nanti. Alhamdulillah demamnya sudah turun, dan setelah dites darah pun kadar bilirubinnya tidak tinggi. Artinya asupan ASI selama itu cukup. Yang lebih membahagiakan lagi: ketika selang oksigen dilepas, proses oksigenasinya sudah stabil! Alhamdulillah, akhirnya Abi diizinkan pulang bersamaku.

Perjuangan demi perjuangan yang aku dan Abi lalui membawaku pada muara syukur yang tak terkira. Betapa proses melahirkan itu sangat bergantung pada skenario Allah Sang Maha. Seberapa sempurnanya kita mencoba merencanakan sesuatu (IMD dan rawat gabung), kalau Allah tak berkehendak, ya tidak terjadi. Juga terpetik hikmah bahwa niat yang terhujam kuat pasti akan mendapat ujian yang lebih berat (dalam hal ini: niat untuk ASI eksklusif). Barangkali itu cara Allah untuk menguji seberapa kuat niat dan ikhtiar kita.

Alhamdulillah aku dan Abi berani dan berhasil melaluinya. Abi anakku yang hebat, sudah begitu berani berjuang bahkan sejak usia awal kehidupannya. Benar-benar tak salah aku berniat menamainya Abimanyu.

Jadi, selamat datang ke dunia, dedek Abi. Bunda, Ayah, dan Mas Hanif sungguh menyayangimu.

Monday, November 14, 2011

Penghargaan Sebagai Kakak

Sampai juga akhirnya pada minggu ke-40 usia kehamilan. Tak terasa sebentar lagi Hanif akan menjadi seorang kakak. Ingin cerita sedikit soal sharing-ku dengan Bunda Evie, konsultan pendidikan di sekolah Hanif, beberapa pekan yang lalu.

Saat itu kami sedang sibuk membicarakan perkembangan Hanif di rumah dan di sekolah. Alhamdulillah aku banyak mendapat masukan yang bermanfaat. Ternyata memang diperlukan orang lain yang bisa menilai anak kita secara objektif dan menuturkan kelebihan-kelemahan anak pada kita, karena bagaimanapun anak selalu tampak sempurna di mata kita sehingga kadang kita menutup diri terhadap “kelemahan” mereka.

Di akhir sesi konsultasi, ada usulan Bunda Evie yang benar-benar membuka mataku. Jadi beliau punya pendapat, ketika seorang adik lahir, yang perlu diberi kado bukanlah adiknya melainkan kakaknya. Si adik hanyalah orok yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu kado dan hadiah. Tapi sang kakak sudah sangat mengerti apa itu arti cemburu. Bayangkan bila semua orang dan kerabat yang datang hanya mengerubuti si adik, melimpahinya dengan banyak hadiah dan kasih sayang, sementara sang kakak menjadi terlupakan di pojokan. Menurut Anda, bagaimanakah perasaannya?

Alangkah indahnya bila hari si adik lahir menjadi hari yang tak terlupakan bagi sang kakak, hari ketika dia diberi kado atau hadiah sebagai penghargaan, hari ketika semua orang memberinya ucapan selamat karena ia telah menjadi kakak yang hebat! Jadi di memorinya akan tertanam, bahwa hari ketika adiknya lahir adalah hari yang sangat membanggakan dan menyenangkan.

Bunda Evie menyarankan untuk membagikan paradigma ini pada sebanyak-banyak orang, agar tak ada lagi kisah sedih seorang kakak yang merasa terlupakan karena semua perhatian tertumpah pada adiknya, atau malah yang lebih parah lagi: kisah ketika semua orang menganggapnya “caper” hanya karena ia merasa cemburu. Bila tak ada kisah-kisah seperti itu, tentunya akan mudah bagi sang kakak untuk menerima kehadiran adiknya dan menyayanginya setulus hati.

Pesan sponsor: jadi nanti kalau adiknya Hanif lahir, yang diberi kado Hanif saja ya *ge-er bakalan dikado, hehehehe*

Foto: Senyum Hanif, taken from my “butut” handphone.
Berapapun jumlah adik yang kamu miliki.. you’ll always be my favorite, Nak :-*

Kehamilan Kedua

OMG, sudah lama sekali rasanya aku tidak menulis di blog ini. Begitu banyak kabar yang bisa dibagi, dan entah sudah berapa banyak ide menulis yang berkejaran di kepala. Sayangnya karena berbagai kesibukan (sok sibuk, hihihi), hanya beberapa ide saja yang sempat tercatat di memori.

Kali ini aku ingin bercerita tentang kehamilanku yang kedua. Saat ini (calon) adiknya Hanif sudah berusia 39 minggu di kandungan. Pertama aware mengenai kehamilan ini sejak pekan kedua Maret 2011. Sempat mencoba testpack sendiri dua kali (testpack pertama pada 15 Maret—hari ultahku, dan testpack kedua pada 18 Maret—hari ultah suami), dua-duanya kurang yakin karena garis kedua hanya terlihat samar. Tapi tetap berencana untuk mengeceknya ke dokter kandungan, karena haid sudah terlambat datang, sesuatu di luar kebiasaan. Juga agar peristiwa kehamilan Hanif yang terlambat ketahuan (baru ketahuan saat berusia 8 minggu!) tidak terulang lagi.

Jadilah datang ke dokter kandungan ketika usia kehamilan menginjak 6 minggu. Ternyata memang benar hamil. Sempat tidak percaya karena selama 6 minggu itu tidak terasa ada yang berubah, hanya stamina fisik yang berasa lebih cepat capek. Selebihnya tidak ada, mual pun tidak. Sempat merasa senang, berharap semoga kehamilan kedua ini jauh lebih mudah dibanding kehamilan pertama yang mual-muntah sampai 5 bulan.


Ternyataaa... perjuangan baru dimulai. Mabok-mual-muntah baru dirasa setelah 6 minggu itu. Dan ternyata pula, perjuangannya lebih berat dibanding kehamilan pertama. Kalau yang dulu hanya mual-muntah, yang ini ditambah dengan pusing dan lemas hampir sepanjang hari. Sama sekali tidak bisa minum susu karena akan langsung mual-mual. Selera makan sih hampir tak berubah, makanan yang masuk masih tetap banyak, tapi banyak juga yang akhirnya keluar lagi. Berasa sekali perjuangannya. Semoga kesabaran menghadapinya dinilai pahala, amin.


Setelah trimester pertama yang penuh dengan cerita mual-muntah-pusing-lemas berlalu, badanku lambat laun mulai berasa lebih segar dan fit. Di trimester kedua, mual-muntah-pusing-lemas masih terus berlanjut, namun sudah jauh berkurang. Nafsu makan mulai menggila. Ketika usia kehamilan 24 minggu, berat janin 700 gram. Ini termasuk normal meskipun secara kasat mata, perutku tampak lebih kecil dibanding perut teman-teman lain yang berusia kehamilan sama. Antara usia kehamilan 21-24 minggu, pertambahan berat badanku mencapai 1 kilogram per minggu. Anehnya, antara 24-27 minggu, berat badanku tidak mengalami kenaikan. Mungkin karena nafsu makanku sedikit menurun akibat mual-mual yang kembali melanda. Aneh juga ya, sudah hampir trimester ketiga kok masih mual-mual saja. Meskipun demikian, berat janin tetap normal. Berikut ini perkembangan berat janin yang kudapat dari perkiraan USG tiap kali kontrol:

  • 27 minggu, 1027 gram
  • 30 minggu, 1460 gram
  • 32 minggu, 1780 gram
  • 34 minggu, 2110 gram
  • 36 minggu, 2533 gram
  • 38 minggu, 2786 gram

Menginjak trimester ketiga, aku mulai berbelanja sedikit barang untuk adiknya Hanif. Ada beberapa alas ompol, cloth diaper, cooler bag, dan botol tempat menyimpan ASIP yang kubeli. Ada juga kelas edukasi AIMI yang kuikuti, bertema “Breastfeeding Tips for Working Moms”. Yah, meskipun berkejaran dengan aktivitas perkuliahan di kampus, semoga kehamilan dan persalinan kedua ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Amin.

Foto 1: Usia janin 16 minggu.

Foto 2: Usia janin 21 minggu.