Thursday, October 09, 2008

Perempuan-Perempuan Perkasa

Dua orang asisten rumah tangga di rumahku adalah perempuan-perempuan perkasa. Ada kesamaan yang jelas di antara mereka: sama-sama jadi tulang punggung keluarga. Suami-suami mereka kerjanya enggak jelas alias serabutan. Kadang kerja, kadang enggak. Terpaksa mereka ikut mencari nafkah agar asap dapur tetap mengepul. Kalimat ”ikut mencari nafkah” sebenarnya kurang tepat, karena justru dari mereka-lah pemasukan utama berasal.

Hmm, aku jadi mikir. Beruntung sekali aku punya suami yang punya penghasilan tetap, dan alhamdulillah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Memang aku cenderung sepakat bila perempuan sebaiknya di rumah saja, tapi kalau dihadapkan pada realita seperti ini.. ya dilema juga sih.

Aku kurang tahu, suami-suami mereka yang kerjanya serabutan itu akibat keengganan atau akibat ketidakberuntungan. Kadang suka ada perasaan gemes ya kalau melihat laki-laki yang nggak mampu menghidupi keluarga. Apalagi kalau memang si lelaki adalah tipe orang yang malas dan nggak bertanggung jawab alias sa’enake dhewe. Masih mending kalau dia nggak mampu menghidupi keluarga karena bener-bener susah cari kerja misalnya. Wallahu’alam, aku nggak berhak men-judge.

Ada satu lagi perempuan perkasa yang atas kehendak Allah aku dipertemukan dengannya. Beliau adalah penjaja jamu keliling yang tiap hari lewat di depan rumah kontrakanku. Udah satu setengah bulan ini aku jadi langganannya. Dan lewat obrolan-obrolan ringan, jalinan silaturahim kami terbentuk.

Nama beliau Bu Ratmi, asli Wonogiri. Di sini dia tinggal dengan anak laki-lakinya, sementara suaminya tetap tinggal di kampung sebagai petani dan peternak kambing. Beliau mengaku hidup dengan sangat pas-pasan dari hasil jualan jamunya, maka dengan setia beliau berkeliling tiap hari, tak peduli hari hujan atau panas, dalam keadaan sehat maupun sakit. Yang membuatku tercengang dan kagum, anak laki-lakinya ini mahasiswa ITB lho. Bukan mahasiswa sembarangan kukira, karena ia kuliah dengan beasiswa dan IP yang tak pernah kurang dari 3 *bahkan biasanya lebih dari 3,5*.

Alhamdulillah karena Allah berkenan membuat hidupku beririsan dengan hidup tiga perempuan perkasa ini. Lewat mereka, aku belajar banyak tentang makna keikhlasan, sekaligus perjuangan dan kerja keras menghadapi hidup. Yang paling penting, lewat mereka, aku belajar banyak tentang rasa bersyukur dan kenikmatan berbagi.

Monday, September 22, 2008

Gender @ Work

Waktu itu aku sedang berbincang dengan suamiku. Aku lupa tentang apa, pokoknya suamiku sempat mengutip perkataan atasannya yang enggan mempekerjakan karyawan perempuan. Hmmm, jadi mikir. Kenapa yah beliau begitu?

Alasan pertama, bisa jadi karena perempuan banyak izin dan cutinya. Jadi enggak produktif di tempat kerja. Alasan kedua, mungkin si bapak mikir sebaiknya perempuan di rumah saja, supaya anak lebih terurus. Dalam satu kesempatan, aku pernah berbincang dengan istri si bapak. Istri ini memang di rumah saja, kata si istri biar bisa ngurus anak. Tapi sambil bikin usaha juga, jadi tetap berkarya.

Terlepas dari alasan mana yang sebenarnya bikin si bapak enggan mempekerjakan karyawan perempuan, aku cenderung sepakat bila perempuan sebaiknya di rumah saja. Kalau sering baca blog-ku, pasti tahu alasan kenapa aku berpendapat begitu. Dengan catatan, perempuan juga tetap berkarya meskipun tinggal di rumah saja. Boleh-boleh saja ia punya karir, asal porsi anak dan suami tetap yang terbesar.

Jangan lantas berpikiran bahwa aku anti emansipasi. Memang aku sebel dengan gerakan feminisme yang kebablasan, ibu Kartini aja nggak segitunya *silakan baca buku Tragedi Kartini*. Ada banyak alasan kenapa aku berpikir sebaiknya perempuan di rumah saja. Salah satunya adalah karena seorang ibu punya kewajiban sebagai ummu madrasah. Di tangannya terletak masa depan anak yang jadi pilar utama generasi bangsa. Kalau anak nggak terurus, mau jadi apa keluarga kita? Lebih jauh lagi, mau jadi apa bangsa kita?

Mungkin ada yang berdalih, bisa-bisa aja tuh ngurus anak sambil kerja. Maap ya, menurutku itu omong kosong. Bagaimanapun juga, ngurus anak nggak akan bisa optimal kalau seharian kita di luar rumah. Bisa sih bisa, tapi dengan energi sisa. Bisa sih bisa, tapi ya ngurus seadanya. Susah ngejelasinnya kalau nggak mau memahami *silakan baca buku Mulai dari Rumah karangan Al Ghazali*.

It’s funny to realize that I used to be one of those feminists. Sejak dulu aku selalu berminat dengan isu keperempuanan. Siapa menyangka kini aku tak lagi sealiran dengan para feminis itu. Siapapun yang paham hakikat sesungguhnya Allah menciptakan perempuan, pasti akan sependapat denganku.

Blog Pribadi

Sekarang aku nggak lagi merasa nyaman nulis di blog ini. Gara-gara peristiwa ini, aku jadi merasa harus nulis yang senang dan yang baik saja dari kehidupanku. Nanti kalau aku nulis yang sedih dikit aja, ada yang protes lagi. Dibilangnya aku sebagai orang yang nggak bersyukur, yang selalu sedih dan mellow.

Hhhh, padahal sebenarnya siapa yang bisa melarang aku nulis apa aja? Ini kan blog pribadiku. Kalau aku nulis yang senang-senang aja, kalau aku pura-pura bahagia terus, apa malah nggak fake tuh? Tersenyum saat tertekan, tertawa saat hati menangis? *jadi ingat sms-nya Wiwit* Apa malah nggak bikin sakit jiwa tuh, bersikap palsu kayak gitu?

Tau nggak, derita jiwa *halah bahasanya* yang nggak dikeluarin itu bisa bikin sakit. Sebagai manusia, tentu ada hal-hal nggak enak, mana mungkin bahagia terus. Dan sebagai pemilik tunggal blog ini, seharusnya sah-sah aja kalau aku mau nulis yang sedih-sedih dong ya. Toh itu curhatku yang disalurkan lewat tulisan. Memangnya si pembaca yang protes itu bakalan mau nanggung kalau aku sakit jiwa?

Oke, oke... nggak perlu hiperbolis. Intinya, sekarang aku merasa nggak terlalu nyaman dengan blog ini. Sekarang aku punya blog rahasia yang bisa kutulisi sesuka hati, bahkan mengumpat pun nggak ada orang yang bakal protes hehehehehe. Nggak boleh pada tau, namanya juga rahasia.

Well, aku nggak suka sama orang yang palsu. Makanya aku nggak mau jadi seperti itu.

Sindrom

Masih inget dengan suasana hatiku (yang berimbas pada tulisan-tulisan di blog ini) yang cenderung kelabu pada masa kehamilanku? Yang akhirnya jadi rame karena ini. Waktu itu sering banget aku resah, gundah, nangis tanpa sebab, dan berbagai perilaku gloomy lainnya. Satu hal yang membuat terasa berat adalah ketakberdayaan menghadapi kehamilan sendirian. Butuh dukungan dan kehadiran suami di sisi. Pada waktu itu, mungkin ada di antara pembaca yang ngecap aku manja dan nggak mandiri.

Guess what, saat ini aku jauh dari semua perasaan itu. Sekarang ini rasanya lebih kuat dan nggak terlalu khawatir menghadapi dunia di luar sana sendirian. Nggak tahu deh kenapa bisa begitu. Karena udah jadi seorang bunda? Atau karena memang aku nggak lagi sendiri di rumah? *ada Hanif dan si mbak*

Satu lagi pertanyaan besar: apakah semua itu memang hanya sindrom yang dialami oleh seorang ibu hamil? Aku selalu tertarik dengan pembahasan sindrom-sindrom yang banyak dialami oleh perempuan, misalnya PMS dan baby blues. Lalu apakah pengalamanku itu salah satu dari sekian banyak sindrom? Apakah merasa tak berdaya, butuh dukungan, terus-terusan merasa khawatir, sensitif, dan gampang stres merupakan gejala-gejala sindrom ibu hamil?

Ada yang mau berkomentar?

Gaji PNS

Beberapa waktu lalu, seorang teman mampir ke Bandung. Teman ini bekerja sebagai PNS di lingkungan SekJen MPR. Obrolan tentang gaji PNS yang bermula di Pizza Hut berlanjut sampai ke rumah. Terusik oleh perbedaan yang sangat njomplang antara aku dengannya.

Temanku ini golongan II/d, tiap bulannya membawa pulang gaji lebih dari 7 juta rupiah. Jauh sekali bedanya denganku yang ”hanya” kurang dari 2 juta rupiah per bulan, meskipun bergolongan III/a. Oke, jadi di mana letak perbedaannya?

Kata dia, di tempatnya banyak tunjangan (waktu itu sempat dia sebutkan satu-satu, tapi sekarang aku lupa apa aja). Kalau nggak salah, ada tunjangan operasional kegiatan per hari senilai 130 ribu rupiah (kalikan aja jadi berapa per bulannya). Masih ditambah dengan ”uang lelah” untuk pekerjaan yang seharusnya memang ia digaji untuk itu. Jadi total take home pay-nya ya lebih dari 7 juta itulah. Lebih banyak daripada gaji pegawai swasta (yang berlevel staf) di Jakarta.

Pfff, di mana-mana gaji pokok PNS memang sama. Lalu apa yang melegitimasi tunjangan para PNS di rumah rakyat itu harus besar? Apa supaya mereka enggak korupsi? Atau karena beban kerja mereka memang lebih berat? Mikirin negara? *Jadi inget ucapan syaikhut tarbiyah Rahmat Abdullah di film Sang Murabbi. Ada yang lebih berat daripada mikirin negara, yaitu mikirin umat.*

Ketika obrolan tentang gaji semakin memanas dan aku curhat tentang dana riset instansiku yang sering dipotong oleh pemerintah, dia cuma berujar enteng, ”Habis kantormu miskin sih.” Aku cuma bisa tersenyum kecut.