Wednesday, March 19, 2008

26 di 15 Maret

”Ass. Selamat Ulang Tahun ke 26 (betul ngga ya?!). Semoga panjang umur, semakin dekat sama Allah dan penuh barokah dunyan wa ukhron... amien.” (Mbak Ida, 14/03/2008, 07:49)

”Yus, happy birthday ya. Semoga panjang umur, sehat, bahagia lahir dan batin, memiliki keluarga yang sakinah... Love you full.” (Iwuk, 15/03/2008, 00:21)

”I wish that Allah would hold you tight, not just to make you feel alright, but for you to have all the best things in LIFE! Happy birthday Bunda Yustika...” (Citra, 15/03/2008, 00:35)

”Asw, Yustika met milad ya, semoga waktu yang dijalani senantiasa berada dalam naungan kasih dan petunjuk-Nya.” (Yuti, 15/03/2008, 04:53)

”Mbakyu-ku, happy birthday to you, semoga panjang umur, sehat selalu, dan mendapat apa yang terbaik buat situ! Makin tua, makin sabar yo... huahaha... titip salam nggo Mas Catur dan ponakanku yo...” (Yesti, 15/03/2008, 05:05)

”Ass Yustika, apa kabar? Happy birthday ya! Semoga senantiasa dilimpahi rizki, diberikan umur panjang dan barokah...” (Diyah, 15/03/2008, 06:25)

”Barakallaahulak... Met milad ke-26 ya Mbak. Semoga makin mencintai dan dicintai Allah. Love you coz Allah.” (Widya Arrum, 15/03/2008, 06:28)

”Yus... happy birthday 26th. Semoga senantiasa dilindungi Allah dan bahagia lahir batin. Amin. Salam buat suami dan si kecil di perutmu ya...” (Ilma, 15/03/2008, 08:26)

”Happy birthday, Yus! Semoga menjadi anak yang sholeh dan berbakti dan proses melahirkannya lancar... Selalu berbahagia... mudah rejeki... dan istiqomah... the most difficult thing to do.” (Fatimah, 15/03/2008, 16:13)

”Eh Yustika ulang tahun... Met ultah ya... Moga panjang umur, tambah iman taqwa, rukun terus sama suami, tambah bahagia pokoke. Met menanti buah hati lahir ya...” (Icha, 15/03/2008,19:53)

”Ass... met milad ya, semoga umurmu barokah, dan selalu dilindungi Allah...” (Erti, 15/03/2008, 21:34)

”...happy belated milad juga Mbak... Semoga sehat selalu menanti kehadiran si kecil dan senantiasa dalam lindungan serta keberkahan Allah.” (Ika, 16/03/2008, 09:14)

”Met ultah Mbak Ika... Semoga panjang umur dan sehat selalu... Cium jauh dari ayah dan bunda dan aku yo...” (Rere dan Bulik Wulan, 16/03/2008, 10:36)

”Met milad ya Yus, moga usia yang telah berlalu diberkahi Allah dan yang tersisa dikaruniai kenikmatan untuk senantiasa dalam rahmat dan ridho-Nya. Tetap ikhlas, sabar, dan istiqomah ya... sori telat 1 hari.” (Ika Mulatsih, 16/03/2008, 10:40)

”Selamat ultah ke-26 (sori telat!). Semoga banyak barokah di umur ini... Keluarga rukun, rejeki lancar, dst...” (Naning, 17/03/2008, 05:14)

”Hai Yustika, barusan mengulang hari ya? Maaf ya telat. Jadi ultah pertama setelah nikah kan ya. Selamat Yus!” (Zaki, 17/03/2008, 09:25)

*Tak lupa terima kasih juga buat Mami, Mas Didik, Mbak Mita, Mbak Titik, Tommy, Fani, dan teman-teman lain yang ikut mengirimkan doa*

Monday, March 10, 2008

Kado

When you want some thing, all the universe conspires in helping you to achieve it.” (Paulo Coelho)

Hari-hari menjelang usiaku yang ke-26…

Akhir pekan lalu suamiku menanyakan kado apa yang ingin kudapatkan. Tahun-tahun sebelumnya aku bisa menjawabnya dengan pasti: buku, satu set sarung bantal sofa, dll. Tapi tahun ini aku cuma menggeleng pelan. Aku ingin apa ya? Baju hamil, buku (lagi), bibit bunga untuk ditanam di taman, atau apa? Entahlah… rasanya kok nggak ada yang spesifik.

Hmmm… sebenarnya ada sih. Aku ingin serumah lagi dengan suamiku dan bersama-sama mengasuh buah hati ini, lalu aku akan bisa merasakan lagi senyum mentari yang diberikannya setiap pagi, kecupan hangat yang diberikannya setiap malam sebelum tidur, pijatan pelepas penat setiap kali sakit punggungku kambuh, juga segala peluk dan belai peneduh gundah... kapanpun aku butuh. That’s my biggest wish. Akan jadi kado terindah kalau itu bisa terwujud.

Usia seperempat abad sebentar lagi berakhir, Yus. Be strong. Be tough. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Terima Kasih, Sayang…

Badanku penat sekali setiba di Cikarang siang itu. Aku langsung melongo melihat taman depan yang dipenuhi ilalang dan rumput liar setinggi betis. Suamiku cuma nyengir. “Jangan lebih kaget kalau melihat ruangan di dalam,” katanya sambil membukakan pintu.

Masya Allah… mau tak mau aku geleng-geleng. Kok bisa dia tinggal di rumah yang keadaannya seperti itu. Lantai kotor sekali. Baju-baju bersih yang belum disetrika terbagi atas beberapa tumpukan, diletakkan secara sembarangan di atas kursi ruang tamu dan di atas lantai. Dapur juga tampak berdebu, sementara tumpukan baju kotor di sudut ruang belakang menanti untuk dicuci. “Minggu ini nggak ada waktu buat bersih-bersih, Sayang,” katanya dengan nada meminta maaf.

Aku yang sudah teramat letih hanya bisa diam. Perasaanku bercampur antara geli, sebal, dan terenyuh. Geli membayangkan dia bersih-bersih rumah sendirian, sesuatu yang teramat jarang dia lakukan semasa tinggal berdua denganku. Sebal karena membayangkan hari itu akan aku habiskan untuk bersih-bersih rumah yang sedemikian kotor. Terenyuh karena aku merasa tak berdaya mengurusnya dan melakukan hal-hal yang seharusnya aku lakukan untuknya, akibat jarak yang terpisah Bandung-Jakarta.

Aku beranjak ke kamar untuk merebahkan diri, berkata sambil lalu, “Akan aku bersihkan, tapi nanti. Sekarang aku mau tidur dulu.”

Tak berapa lama kemudian, dengan kepala masih di atas bantal, aku mendengar suamiku membuat suara-suara berisik. Oh, ternyata dia sedang mengelap, menyapu, dan mengepel. Juga merendam cucian di ruang belakang. Sekaligus mengawasi tukang kebun keliling yang sudah dipanggilnya untuk merapikan taman. Merasa tidurku terganggu, aku berseru kesal, “Nanti aku bersihin! Mas nggak usah repot-repot kayak gitu!”

Tapi suamiku tetap meneruskan kegiatannya. Sampai akhirnya ketika aku bangun, aku mendapati rumah dalam keadaan bersih dan mengkilat. Semua sampah sudah dibuang. Bahkan hampir semua perkakas dapur dicucinya sampai bersih. Aku nggak tahu harus bilang apa.

Malamnya, aku memintanya untuk jujur kenapa dia ngotot bersih-bersih sampai capek seperti itu. Alasannya ialah karena dia melihat mukaku yang sebal siang harinya, sehingga dia merasa bersalah dan merasa harus bersih-bersih untuk membuatku nyaman berada di rumah *dia tahu aku sangat sensitif terhadap sesuatu yang kotor*. “Habisnya Sayang udah bete duluan, begitu dateng langsung tidur, males ngapa-ngapain gara-gara rumah kotor,” begitu katanya.

Seketika itu juga aku merasa sangat bersalah. Memang tadinya aku sebal, tapi langkahku untuk beranjak tidur itu memang lebih disebabkan karena penat dan letih. Aku sama sekali tidak berniat membuat suamiku merasa begitu. Aku maklum kok kalau rumah sedemikian kotor. Aku mengerti dia memang benar-benar tak punya waktu untuk bersih-bersih. Atau kalaupun punya, aku mengerti dia sudah kecapekan karena bekerja seharian di kantor, tiba di rumah pun malam-malam.

Suamiku itu… betapa besar usahanya untuk membuatku merasa nyaman. Sampai dibela-belain membersihkan seluruh rumah hanya karena aku datang. Sebenarnya inilah yang paling membuatku merasa sangat bersalah dengan kepergianku ke Bandung. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian dengan berbagai urusan rumah untuk diselesaikan, padahal seharusnya itu menjadi tanggung jawabku. Nggak kebayang tiap hari dia pulang ke rumah dalam keadaan capek, lalu masih harus membereskan ini itu, terutama masalah bersih-bersih rumah dan mencuci baju. Duh, suamiku… benarkah kehidupan yang kita jalani ini benar-benar keputusan yang terbaik?

*dan setiap hari aku semakin mencintainya, bahkan menulis ini pun membuatku merindukannya lagi dan lagi… setengah mati…*

Wednesday, March 05, 2008

?!*#@$%

Saat makan siang, teman-teman asyik bercerita tentang pekerjaan dan kegiatan mereka. Mereka tampak excited. Ada yang berkutat dengan alat counting dan ada yang sibuk dengan filter-filter. Lalu aku?

Sebenarnya keberadaanku di sini adalah sesuatu yang (mungkin) disayangkan. Akunya sendiri nggak enjoy. Instansi juga rugi punya pegawai yang nggak niat kerja kayak aku begini :( Jadi lose-lose solution dong. Sebenarnya keputusanku untuk kerja ini bener nggak sih? >_<

*nggak tahu kenapa aku jadi mikir begini*

Bosan

Memang ya, kalau bekerja tidak dinikmati itu akan terasa berat. Saat ini aku merasa bosan luar biasa. Aku belum (atau tidak?) menemukan kegairahan bekerja di kantor. Bukan apa-apa sih. Bukan karena tempatnya tidak menyenangkan *bahkan lingkungan dan rekan-rekan kerja sebenarnya cukup menyenangkan*. Mungkin lebih karena aku tidak pernah benar-benar ingin bekerja.

Aku merindukan rumah Cikarang. Aku rindu aktivitas keluar rumah waktu subuh untuk berbelanja sayur-mayur dan bahan-bahan lain yang akan kumasak. Aku rindu aktivitas menyapu dan mencuci. Aku rindu melihat lantai rumah Cikarang yang bersih mengkilat. Aku rindu menonton Oprah Winfrey Show di sela-sela aktivitas mengurus rumah. Aku rindu aktivitas meracik bumbu dan memasak di dapur sore-sore. Aku rindu pada mawar-mawar manisku. Di atas segalanya, aku sangat merindukan aktivitas menanti suami pulang kerja, dan rindu pada binar matanya ketika melihatku membukakan pintu.

Bekerja diniatkan untuk beribadah itu betul, tapi itu sesuatu yang klise dan mudah diucapkan. Prakteknya? Susah kalau hati kita tidak benar-benar berada di situ. Keikhlasan menjadi sesuatu yang kabur dan susah untuk digenggam.

Kata Pak Mario Teguh, pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang ketika kita mengerjakannya, kita sangat menikmatinya dan kita dibayar untuk itu. Aku belum (atau tidak?) menikmati detik-detik berada di kantor. Aku tidak menikmati memakai baju setelan kerja yang bagus dan rapi ini. Aku justru sangat menikmati memakai piyamaku dan bergerak lincah ke sana kemari untuk berkeringat mengurus rumah. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat kunikmati, impian kehidupan sejak lama… dan aku bahkan tidak perlu dibayar untuk itu.

*setelah sejenak mengunci diri di kamar mandi kantor sambil berlinang air mata*