Tuesday, October 25, 2005

Pernikahan

Pekan kemarin adalah pekan yang penuh dengan aura pernikahan. Kamis 20 Oktober 2005/16 Ramadhan 1426 H, sepasang teman melangsungkan pernikahan di Masjid Salman. Semalam sebelumnya, aku merenungkan banyak hal tentang pernikahan mereka dan bagaimana aku menatap masa depan. Hmmph...

Saat pernikahan mereka dilangsungkan, air mata meleleh di kedua pipiku. Berbagai hal berkecamuk dalam benak. Berbagai rasa berlarian dalam dada. Allah Maha Tahu betapa aku juga ingin menyegerakan pernikahanku. Telah begitu banyak hal terjadi...

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ’Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Q.S. 2: 286)

Ahad 23 Oktober 2005, seorang teman lain berkata padaku, ”Yus, aku batal menikah.” Aku tercenung mendengarnya. Persiapan pernikahannya telah memakan waktu berbulan-bulan dengan begitu banyak usaha kompromi dan ikhtiar berlapang dada. Kedua keluarga sudah bertemu, persiapan tinggal finishing, bahkan gedung sudah hampir dipesan. Karena perbedaan dalam satu hal prinsip, mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pernikahan. Allah... beginikah jadinya kalau kehendak-Mu yang bicara?

”...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. 2: 216)

Pekan kemarin adalah pekan yang penuh dengan tanya dalam benak, tentang sebuah tahapan kehidupan bernama pernikahan...

Thursday, October 20, 2005

Kutipan Favorit

”Kita begitu berbeda dalam semua. Kecuali dalam cinta.”
(Nicholas Saputra, Gie)

Instead Of

It’s like being in a world you really hate!
Instead of crying, why don’t you just start to put that sarcastic smile on your face?
And instead of blaming yourself, try to blame other people :p

Love yourself...
Enjoy your life!

Surat Sakti

[edisi don’t care]

”... Berdasarkan data kemajuan akademik anak sdr, maka anak sdr masih memiliki matakuliah Sarjana Muda yang belum lulus. ... Apabila dalam batas waktu tersebut anak sdr belum berhasil menyelesaikan semua kuliah untuk tahap Sarjana Muda tersebut, maka kami dengan sangat menyesal menyarankan agar anak sdr mengajukan pengunduran diri sebelum batas waktu tersebut.”

Huekekekekekekek... dapat surat sakti dari Pak Eniman. Seberapa saktinya surat itu? Cukuplah untuk bikin ponsel berdering-dering akibat sms-sms Papi. Cukuplah bikin sakit perut sebentar. Tapi cuma sebentar. Nggak lama kemudian, amplop surat saktinya udah jadi alas cangkir kopi gw, huehehehe... Dasar gebleg...

Nggak usah dikasih batas waktu, Pak! Kalau dibolehin sama ortu sih, udah dari dulu gw cabut dari elektro...

Epik Rama-Sinta


Sendratari Ramayana, drama tari tanpa dialog yang bertutur tentang kisah Rama-Sinta, dipentaskan pertama kali di panggung open air Prambanan pada 1961. Epik Ramayana terlalu panjang untuk dikisahkan dalam satu pementasan. Oleh karena itu, Sendratari Ramayana dipadatkan menjadi empat lakon: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Kisah Ramayana terpahat pada relief Candi Prambanan dengan indahnya sejak abad ke-9. Relief kisah ini terpahat pada dinding penyangga Candi Siwa, diawali dengan kisah Dewa Wisnu menobatkan ular (naga) Ananta menjadi penguasa dunia sampai kisah Anoman memimpin pasukan kera menyeberangi lautan menuju negeri Alengka. Kisah ini kemudian berlanjut pada relief yang terpahat pada Candi Brahma yang terletak di selatan Candi Siwa. Selain Candi Prambanan, candi lain yang reliefnya memuat kisah Ramayana adalah Candi Panataran di Jawa Timur, sekitar abad ke-12 hingga abad ke-15. Pada relief Candi Panataran, kisah Ramayana bermula dari misi Anoman ke Alengka sebagai utusan dan berakhir dengan kematian Kumbakarna, saudara Rahwana.

Kisah Ramayana dalam budaya Jawa pertama kali ditulis oleh seorang penyair (kemungkinan bernama Yogiswara) yang mengarang kitab Ramayana Kakawin. Kitab yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada awal abad ke-10 ini bisa jadi merupakan literatur Jawa tertua, meskipun ditengarai berbeda dengan versi asli dari India. Kemudian pada abad ke-19, penyair sekaligus bangsawan Jawa bernama Yosodipuro I menulis kisah Ramayana versi Jawa bertajuk Serat Rama. Kisah Ramayana versi Jawa yang berkembang hingga saat ini banyak didasarkan pada versi Yosodipuro I tersebut.

Terdapat beberapa perbedaan utama antara kisah Ramayana versi Jawa dengan versi aslinya yang berasal dari India. Pada versi Jawa, tokoh Rama lebih humanis dan manusiawi. Pada versi aslinya, tokoh Rama digambarkan hampir seperti dewa. Perbedaan lainnya terletak pada ending cerita, yaitu tentang pengorbanan Sinta menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesucian dirinya. Pada versi India, kisah ini berakhir tragis dengan menghilangnya Sinta ditelan bumi. Pada versi Jawa, kisah ini malah berakhir bahagia. Ketika terbakar api, Sinta tidak terluka sedikitpun melainkan justru bertambah cantik. Pengorbanan Sinta itu, yang disebut-sebut sebagai ujian kesucian dirinya, berakhir dengan kesediaan Rama menerima kembali Sinta yang setia di sisinya. Happily ever after. Ihik ihik... kayak dongeng putri dan pangeran.

Terlepas dari hikayat dan sejarah mengenai kisah Ramayana (aiihhh, jadi ingat Babad Tanah Jawi-nya Papi... ke mana ya buku itu??), hal yang paling tidak kusukai dari kisah Rama-Sinta adalah kisah penolakan Rama. Ia tidak mau menerima kembali Sinta yang dianggapnya sudah ternoda oleh Rahwana. Wong yang diculik Sinta kok malah Sinta-nya yang disalahkan. Bukannya gimana gitu istrinya udah terselamatkan, Rama malah sibuk nolak-nolak. Bukannya menerima dengan tangan terbuka, Rama malah menyuruh istrinya menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesetiaan. Nah ini dia, potret khas kultur patriarki. Laki-laki merasa: mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Seolah-olah wanita harus pasrah bagaimanapun mereka diperlakukan. Aduuhh, nggak banget dehh. Masa kayak gini yang namanya cinta sejati??