Korespondensi Lanjutan dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine

Tuesday, June 29, 2010
Pada 21 Juni 2010, aku mengirim e-mail lagi demi memuaskan pertanyaan yang masih menggelitik rasa penasaran.

Terima kasih, Dok. Anda baik sekali mau menjawab pertanyaan2 saya. Tapi saya masih ada pertanyaan lanjutan, tolong diberi pencerahan lagi ya.

Pada jawaban dokter:
4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
===>Skoliosis pada kurva14 derajat silakan saja. Bahkan kalau Anda juga seorang atlit penerjun payung sekalipun, saya rasa tidak ada alasan untuk menghentikan kegiatan tersebut. Asal Anda tau bahwa potensi penambahan kurva akan lebih besar bila Anda tidak melakukan aktifitas tsb diatas.

Nah, bagaimana saya tahu kalau senam aerobik "aman" untuk saya? Bagaimana saya tahu kalau kegiatan2 saya tidak akan menambah kurva menjadi lebih besar? Masa saya harus coba2? Apa rekomendasi dokter: terus senam atau sebaiknya berhenti saja (mana yang lebih baik)?

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
===> Tergantung umur, kekakuan, dan kepentingannya. Maksud saya kepentingannnya adalah seberapa penting kita perlu membuat kurva yang 14 derajat menjadi nol derajat. Literatur mengatakan kurva 14 derajat seharusnya tidak memberikan keluhan apapun. Bila ditemukan adanya keluhan maka keluhan itu dipastikan bukan karena skoliosisnya.

Keluhan saya berupa pegal dan nyeri punggung sebelah kanan, Dok. Celana sebelah kiri juga jadi lebih pendek. Kalau bukan karena skoliosis, jadi karena apa dong?

Terima kasih sekali lagi. Dijawab ya, Dok.

Berikut balasan dari dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine pada 28 Juni 2010.

Nah, bagaimana saya tahu kalau senam aerobik "aman" untuk saya? Bagaimana saya tahu kalau kegiatan2 saya tidak akan menambah kurva menjadi lebih besar? Masa saya harus coba2? Apa rekomendasi dokter: terus senam atau sebaiknya berhenti saja (mana yang lebih baik)?
===> Ya.. saya merekomendasikan Anda tetap beraktifitas spt biasa jadi lakukanlah senam dst spt yang sekarang anda kerjakan. Dan jangan lupa Anda harus mengevaluasi skoliosis anda setiap 6 bulan. Bila dari evaluasi ada penambahan yang signifikan maka disinilah kita mulai berfikir untuk melakukan pilihan apakah akan mengubah kegiatan dst. Seharusnya sikap ini tidak menjadi beban buat Anda.

Keluhan saya berupa pegal dan nyeri punggung sebelah kanan, Dok. Celana sebelah kiri juga jadi lebih pendek. Kalau bukan karena skoliosis, jadi karena apa dong?
===> untuk menjawab ini perlu pemeriksaan yang teliti. Pegal dan nyeri dipunggung dst... masih bisa disebabkan oleh yang lain misalnya infeksi, peradangan non infeksi, penyakit degeneratif dsb. Perlu pemeriksaan yang teliti mengenai ini. Faktor lain yang perlu dicermati adalah kadangkala diagnosis yang tidak akurat dst.

mudah2an bisa mencerahkan Anda

Rahyussalim

Labels:

 
posted by Yustika at 12:01 PM | Permalink | 0 comments

Konsultasi dengan dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine: My Third Opinion

Friday, June 25, 2010
Dalam rangka mencari opini lanjutan dari sebanyak-banyak ahli tentang skoliosisku, pada 22 Juni 2010 aku berangkat ke RS Halmahera untuk berkonsultasi dengan dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine. Beliau ini seorang ahli medis mengenai tulang belakang di Bandung yang direkomendasikan oleh seorang teman.

Aku tak tahu kalau pendaftaran bisa dilakukan lewat telepon. Alhasil ketika aku sampai pukul 17.15, aku mendapat nomer antrian 8 padahal praktek baru saja dimulai. Sambil menunggu dipanggil, aku memperhatikan pasien-pasien yang datang. Durasi mereka berada di dalam ruang praktek rata-rata memakan waktu cukup lama. Aku berharap hal ini berarti dokternya memberikan waktu sebanyak-banyaknya untuk observasi pasien dan berkenan memberikan waktu tanya-jawab yang memuaskan.

Setelah menunggu hampir dua jam, pukul 19.10 aku dipanggil. Dugaanku tak meleset. Dari pengamatan sepintas ketika dr. Husodo Dewo Adi, SpOT, K-Spine mengantar pasien-sebelumku ke pintu, aku langsung tahu bahwa beliau betul-betul enak dijadikan tempat berkonsultasi.

Dengan ramah beliau menyambut diriku yang langsung mengangsurkan hasil rontgen sambil berkata, “Apa yang bisa Dokter ceritakan dari hasil rontgen ini?”

Dengan detil beliau menjelaskan foto-foto itu sambil memberiku kesempatan bertanya. Ketika beliau merasa sudah cukup menjelaskan dan memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplopnya, kemudian demi melihatku yang masih terus menanyakan beberapa pertanyaan lanjutan, dengan rela beliau mengeluarkan foto-foto dan kembali menjelaskan. Ah, baiknya. Penjelasan yang sangat simpatik.

Terlepas dari pribadi sang dokter yang menyenangkan, berikut ini kesimpulan yang kudapatkan dari sesi konsultasi ini.
  • Senada dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine, pada dasarnya beliau mengatakan bahwa derajat skoliosisku masih ringan dan tidak perlu membatasi gerakan. “Semuanya normal, hanya ada sedikit lengkungan,” begitu kata beliau.
  • Tulang dan persendianku bagus, alhamdulillah.
  • Mendekati umur tiga puluh tahun, mungkin elastisitas otot di area tulang belakang agak berkurang. Ditambah dengan persendian tulang belakang yang sering berbenturan akibat gerakan senam yang rutin, bisa menyebabkan pegal di daerah punggung. Untuk itu beliau menyarankan aku mengurangi frekuensi senam aerobik dan menambah frekuensi berenang dan senam fisioterapi.
  • Aku masih boleh senam aerobik (“Kenapa tidak?” kata beliau) tetapi harus diimbangi dengan berenang dan senam fisioterapi, plus mencoba olahraga lain (misal: jogging, voli) agar olah tubuhku tidak melulu senam aerobik.
  • Senada dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine lagi, boleh-boleh saja aku melakukan yoga karena itu sesungguhnya untuk melatih teknik pernapasan dan boleh-boleh saja aku mencoba chiropractic karena itu sesungguhnya hanya terapi untuk meredakan keluhan nyeri punggung.
  • Tas ransel lebih baik daripada tas selempang atau tas wanita yang kebanyakan disandang hanya di sebelah tubuh.
  • Aku harus datang dua bulan lagi untuk kontrol.

Tak terasa hampir lima belas menit aku di dalam. Beginilah sikap dokter yang aku cari: komunikatif, bersedia menjelaskan dengan baik, membuka diri untuk segala pertanyaan, dan memberi kesempatan untuk bertanya sebanyak-banyaknya—sampai-sampai aku kehabisan pertanyaan, hehehe.

Ternyata beliau kenal dengan dr. F (baca di sini), dan mengatakan memang ada sedikit beda pandangan dengan dr. F mengenai apakah aku masih boleh senam aerobik atau tidak. Yah, untunglah sejauh ini dua dari tiga dokter yang kutanyai mengatakan aku masih boleh senam. Jadi, aku akan terus senam, alhamdulillah. Yes, I’m back on stage!

Benang merah dari ketiga dokter itu adalah: bahwa aku harus melakukan evaluasi berkala untuk mengetahui progresivitas kurva kelengkungan tulang belakangku pada masa-masa selanjutnya. Memang harus disadari, penyakit ini bukan sekedar penyakit seperti flu, melainkan suatu kelainan yang melekat seumur hidup. Menjadikan tulang belakangku kembali lurus adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaganya supaya tidak bertambah lengkung lagi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Labels:

 
posted by Yustika at 10:57 AM | Permalink | 0 comments

Korespondensi dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine: My Second Opinion

stress tidak akan memperbaiki keadaan skoliosis bahkan menambah beban. (tulis dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine di sini)

Setelah bergabung dengan Masyarakat Skoliosis Indonesia dan googling tentang skoliosis, aku menemukan nama dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine, seorang ahli medis mengenai tulang belakang di Jakarta.

Menurut kesaksian Nilvia Hakim, pasien yang pernah dioperasinya, beliau merupakan seorang dokter yang responsif, komunikatif, dan mampu membuat analogi sederhana tentang penanganan skoliosis yang terasa asing. Pertemuan pertama Nilvia yang berlangsung kurang lebih satu jam dihabiskan dengan sesi tanya-jawab untuk lebih memahami apa tujuan dilakukannya operasi sebagai sebuah bentuk koreksi skoliosis. Aku sangat sepakat dengan tulisan Nilvia bahwa pasien harus “pintar” dan sebaiknya mengenal terlebih dahulu dokter yang akan menangani sang pasien sehingga tercipta rasa nyaman dan kepercayaan yang berkesinambungan.

Berdasar kesaksian tersebut, aku berpikir bahwa mungkin saja aku bisa menanyakan skoliosisku kepada dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine. Maka pada 14 Juni 2010, aku mengirim e-mail di bawah ini lewat akun Multiply.

Salam,
saya seorang penderita skoliosis ringan dengan angulus 14 derajat ke kanan pada lumbal spine. Ingin bertanya-tanya sedikit pada dr. Salim, karena saya tidak berhasil memperoleh pencerahan dari dokter ortopedi yang saya temui.

Saya sudah merasa sering pegal bertahun-tahun lalu (mungkin ada 10 tahun), tapi baru periksa minggu lalu dan disarankan rontgen sampai akhirnya ketahuan bahwa saya skoliosis ringan. Dokter yang saya temui sama sekali tidak simpatik dan tidak memberikan saya kesempatan untuk banyak bertanya dan konsultasi.

Dia cuma menyarankan saya untuk berenang dan tidak mengangkat yang berat-berat. Saya juga tidak diperbolehkan lagi senam aerobik meskipun cuma low impact (FYI selama 5 tahun ini saya rutin senam 2-3 kali seminggu). Dokter juga bilang bahwa yoga atau chiropractic tidak perlu dilakukan karena "tidak akan ngaruh" (saya sempat baca postingan dari bung Erikar tentang Iyengar Yoga untuk skolioser di board MSI). Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
2. Apakah mungkin menjadi lurus kembali? (menurut bung Erikar kan bisa)
3. Apa yang sebaiknya saya lakukan dan apa yang sebaiknya tidak saya lakukan?
4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
5. Apa betul yoga dan chiropractic tidak akan berpengaruh?
6. Apakah saya hanya bisa diam saja? Tidak adakah terapi atau olahraga yang bisa saya lakukan (selain renang)?

Sementara ini dulu ya, dr. Salim yang baik. Saya sangat mohon pencerahannya.

Alhamdulillah, pada 18 Juni 2010, dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine membalas e-mail-ku.

yustika15 yth,
Saya coba jawab langsung dibawah pertanyaan.

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
===> Tergantung umur, kekakuan, dan kepentingannya. Maksud saya kepentingannya adalah seberapa penting kita perlu membuat kurva yang 14 derajat menjadi nol derajat. Literatur mengatakan kurva 14 derajat seharusnya tidak memberikan keluhan apapun. Bila ditemukan adanya keluhan maka keluhan itu dipastikan bukan karena skoliosisnya.

2. Apakah mungkin menjadi lurus kembali? (menurut bung Erikar kan bisa)
===>Pasti dong, tapi yang pasti tidak oleh yoga atau tindakan manipulasi non operatif lainnya. Ingin saya katakan adalah kurva kecil kadangkala bisa kembali lurus (0 derajat) oleh mekanisme yang dibangun oleh tubuh sendiri. Atau bisa juga tindakan operasi, itupun tidak ada ahli bedah yang mau melakukan operasi untuk mengoreksi skoliosis dengan kurva 14 derajat. Lagian Erikar ngerti nggak sih apa itu skoliosis??? Jangan2 pengertian skoliosis yang dipahami oleh dunia kedokteran berbeda dengan pemahaman dia. Saya kira ini perlu dipertegas dulu. Saya bisa pastikan bahwa pengertian saya mengenai skoliosis berbeda dengan pemahaman oleh teman saya yang juga ahli orthopaedi tapi tidak mendalami masalah tulang belakang (skoliosis) apatah lagi seorang irekar yang tidak belajar ilmu kedokteran sama sekali.

3. Apa yang sebaiknya saya lakukan dan apa yang sebaiknya tidak saya lakukan?
===>untuk skoliosis yang 14 derajat sebaiknya wait and see saja. Anda cukup bersikap se normal mungkin dan melakukan evaluasi 6 bulanan untuk melihat progresifitas kurva sehingga anda tau kapan waktu yang paling ideal dilakukan intervensi.

4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
===>Skoliosis pada kurva14 derajat silakan saja. Bahkan kalau Anda juga seorang atlit penerjun payung sekalipun, saya rasa tidak ada alasan untuk menghentikan kegiatan tersebut. Asal Anda tau bahwa potensi penambahan kurva akan lebih besar bila Anda tidak melakukan aktifitas tsb diatas.

5. Apa betul yoga dan chiropractic tidak akan berpengaruh?
===>untuk koreksi ya. Tapi untuk kenyamanan dan kebugaran boleh2 saja. Chiropractic sesungguhnya hanyalah pijat, pijit, urut saja.

6. Apakah saya hanya bisa diam saja? Tidak adakah terapi atau olahraga yang bisa saya lakukan (selain renang)?
===> ah... enggak. Lakukanlah aktifitas sesuai keinginan Anda tidak perlu membatasi gerakan, namun yang penting Anda tau bahwa Anda perlu mengevaluasi penambahan kurva paling tidak 6 bulan atau setahun sekali.

Demikian mudah2an bisa menjawab Anda.

Rahyussalim

Langsung plong hatiku membaca e-mail ini. Artinya aku masih bisa senam aerobik lagi :D

Tapi aku juga tidak mau gegabah. Aku masih akan mencari opini lagi dari dokter lain.

Satu hal yang sangat penting yang aku pelajari dari dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine adalah tentang sikap mental bahwa tidak ada gunanya menjadi stress karena skoliosis. Sarannya tentang berusaha hidup senormal mungkin, senyaman mungkin, serta melakukan aktivitas sesuai keinginan dan tidak perlu membatasi gerakan, cukup membuatku percaya diri lagi untuk menjalani hari. Yah, meskipun harus dibarengi dengan evaluasi progresivitas kurva paling tidak enam bulan atau setahun sekali, aku rasa itu sepadan.

Labels:

 
posted by Yustika at 10:51 AM | Permalink | 0 comments

My Lovely Scoli


Seperti yang aku tulis di tulisanku sebelumnya, aku menderita skoliosis thorakolumbal dengan angulus 14 derajat ke kiri. Disebut thorakolumbal karena areanya terdapat pada thoracic spine dan lumbar spine (baca keterangannya di sini). Informasi ini kudapat setelah membaca surat dari dokter spesialis radiologi yang menganalisa foto rontgen-ku.


Pada gambar di atas, sudut 14 derajat diukur dari ruas T11 sampai L3. Tapi kalau kulihat-lihat lagi, sebenarnya bentuk melengkungnya itu sudah dimulai dari ruas T9, terus memanjang sampai ruas L5 (huaaa, hiks hiks).

dr. F, dokter ortopedi yang memeriksaku pertama kali, bukan tipe dokter yang simpatik dan enak diajak diskusi atau konsultasi. Hanya melihat hasil rontgen selama satu detik, dia langsung memasukkan foto-foto itu kembali ke dalam amplopnya. Dia hanya menyarankanku untuk berenang dan meresepkan obat pereda nyeri punggung. Ketika kutanya apakah aku masih boleh senam aerobik, dia langsung melarang keras. Ketika aku bertanya lagi apakah aku perlu yoga, chiropractic atau adakah terapi lain yang bisa kulakukan, dia berkata bahwa semua itu tidak akan ada pengaruhnya.

Sambil terus melarang aku untuk senam aerobik, dia mengatakan beberapa kalimat seperti, “Senam nggak boleh karena ada loncatnya. Saya pernah jadi pelatih senam osteoporosis, jadi saya tahu.”, “Jangan angkat yang berat-berat.”, “Kamu mau saya bohongin dengan terapi macam-macam? Semua itu nggak akan ada pengaruhnya.”, “Chiropractic itu buat kaki, bukan buat kayak gini.”, “Emangnya kamu mau dioperasi? Operasi itu nggak enak.”, “Mau sakit apa mau sehat?”

Baru aku akan membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, pandangannya seolah berkata, “Mau nanya apa lagi?”. Cepat dia bilang, “No no no. Pokoknya berenang, berenang, berenang.”

Alih-alih mendapat kejelasan tentang skoliosis yang aku hadapi, aku malah mendapat serangan yang bertubi-tubi tentang tidak boleh melakukan ini-itu. FYI, selama lima tahun terakhir ini aku rutin melakukan senam aerobik 2-3 kali seminggu, sehingga kenyataan bahwa aku tidak boleh senam lagi cukup memukul kesadaranku. Bagaimana tidak sedih kalau hal itu sudah benar-benar menjadi bagian hidup? Tidak bermaksud lebay, tapi yes... it’s been a part of my life for years.

Gontai aku melangkah keluar dari ruangan dokter. Sambil menunggu resep di bagian farmasi, tanpa sadar air mata menitik. Shock karena membaca hasil rontgen lima hari sebelumnya bertambah dengan shock hari itu karena pernyataan dokter yang—menurutku—keras.

Shock ini lebih kepada kesadaran tentang: ya Allah, ternyata aku cacat. Aku tidak bisa berbuat ini-itu akibat kelainan tulang belakang ini. Tapi untungnya shock ini cuma bertahan beberapa hari. Aku bertekad: oke, kalau memang aku ditakdirkan dengan kelainan ini, lalu apa yang bisa kuperbuat?

Pada kelas senam aerobik hari berikutnya, sambil melaraskan diri dengan irama yang berdentam, aku berpikir dengan hati basah: ya Allah, olahraga yang sedemikian menyenangkannya seperti ini... mengapa aku sampai tidak boleh melakukannya? Sore itu aku bertekad: aku akan mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang skoliosis, kalau perlu akan menuliskannya di blog untuk berbagi informasi bagi sebanyak-banyak orang yang mungkin bisa merasakan manfaatnya, serta akan mencari opini lanjutan dari sebanyak-banyak ahli tentang skoliosisku ini. Aku bertekad: I’ll do anything to keep moving. Bismillah...

Labels:

 
posted by Yustika at 10:41 AM | Permalink | 0 comments

Skoliosis [2]: Penanganan

Penanganan Medis

Meskipun tidak harus dilakukan, skoliosis yang parah sebaiknya dioperasi, demikian menurut dr. Luthfi Gatam, SpOT. dr. Michael Cornish juga menegaskan bahwa operasi merupakan usaha terakhir. “Perawatan-perawatan lain harus dicoba terlebih dulu. Jika kondisinya terus memburuk hingga tahap sangat serius (membahayakan jiwa penderita), maka perlu dipertimbangkan untuk dioperasi,” tutur dr. Michael.

dr. Luthfi Gatam, SpOT. mengatakan, jika baru pada tahap 20 derajat (disebut Cobb angle), hanya akan dilakukan observasi saja. Tahap 20 sampai 40 derajat dianjurkan mengenakan brace, sedangkan lebih dari 40 derajat perlu dilakukan operasi. Namun, operasi tulang punggung kemungkinan besar menimbulkan rasa takut pada pasien semua usia. Apalagi bila dikatakan bahwa penyembuhannya perlu 5-7 hari, sedangkan reda rasa sakit pasca operasi membutuhkan waktu lebih lama lagi. Masih ditambah dengan adanya bekas operasi berupa bekas luka yang memanjang.

Penanganan Lain

Menurut penelitian para ahli sejauh ini, selain penanganan medis, penanganan lain seperti stimulasi elektrik, manipulasi chiropractic, dan terapi fisik cukup efektif. Seorang skolioser bernama Prita tetap menjalani terapi chiropractic dan latihan tertentu yang diberikan oleh chiropractor-nya, meski keadaannya telah membaik. “Agar skoliosis saya tidak bertambah parah,” ujarnya. Skolioser lain bernama Astrid merasakan kemajuan yang sangat nyata setelah mengikuti paket perawatan sejak dini di klinik chiropractic. Sementara Ade Rose mengikuti latihan yoga. “Setiap hari saya melakukan yoga, ibarat minum obat,” kata ibu satu anak ini. Dengan dipandu Ann Baros, seorang master yoga Iyengar, gerakan-gerakan yoga yang dilakukan Ade semakin tepat. “Kini kondisi saya sudah stabil, normal.” Olah tubuh dengan gerakan tertentu yang sesuai kemampuan fisik, bisa membuat kondisi tubuh penderita lebih nyaman.

Berikut ini beberapa penanganan skoliosis yang melibatkan olah tubuh.

Chiropractic

Seorang chiropractor percaya bahwa tubuh memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Penanganan yang dilakukan chiropractor bersifat memberdayakan tubuh agar kembali memiliki mekanisme dan sistem tubuh yang baik. Demikian pendapat dr. Tinah Tan.

Menghadapi pasien skoliosis, chiropractor akan melakukan pemeriksaan dengan mempelajari postur tubuh pasien (examine posture), mengamati pergerakan tubuh (motion palpation), dan memeriksa ototnya (static palpation). Pasien diminta membuat foto X-ray untuk memastikan kondisi kurva tulang belakangnya. Jika ditemukan adanya masalah, akan dilakukan koreksi (adjustment) dan terapi, atau perawatan (treatment). Pasien juga diminta melakukan latihan tertentu (exercise) dan olahraga yang disarankan.

Olahraga yang disarankan untuk pasien skoliosis antara lain berenang gaya bebas, jogging, yoga, pilates, dan taichi. “Yang penting teknik dari olah tubuh yang dilakukan harus benar,” ujar dr. Tinah Tan.

Yoga

Gerakan yoga untuk pasien skoliosis ditujukan untuk mengoreksi dengan cara menarik dan mengarahkan tulang belakang secara tepat, ke depan, samping kiri, dan samping kanan. Demikian menurut Ann Barros, guru yoga asal Santa Cruz, Amerika Serikat, yang sejak kecil menderita skoliosis bawaan. Lebih dari 30 tahun ia mengajar yoga Iyengar. Gerakan ditujukan untuk menarik dan mengembalikan tulang belakang pada posisinya yang alami. “Bukan lurus melainkan ada lengkungannya,” ujarnya.

Jadi, dalam menentukan terapi pasien skoliosis, Ann Barros tidak bisa menerapkan sembarang gerakan yoga, tetapi harus mengobservasi pasien terlebih dulu dengan melihat hasil X-ray untuk mengetahui derajat keparahannya. “Ada kalanya saya harus membahasnya dengan seorang ahli tulang belakang,” tutur Ann yang awal Agustus lalu datang ke Jakarta atas undangan Jakarta Do Yoga.

Dalam memandu gerakan pun Ann tidak memaksa, karena semua gerakan merupakan bagian dari observasi. Dari keterbatasan gerak yang dilakukan pasien, sedikit demi sedikit Ann bisa menentukan ketepatan gerak serta alat bantu terapi bagi pasien.

Menurut Elise B. Miller, ahli yoga, dalam tulisannya di situs Yoga for Teens with Scoliosis, latihan gerakan yoga (asana) ditujukan untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, dengan cara menarik dan memperkuat otot-otot yang menunjang tulang belakang. Posisi Adho Mukha Svanasana dan Urdhva Mukha Svanasana baik untuk membentuk dan memperbaiki lengkungan dan rotasi tulang belakang. Sedangkan Bharadvajasana untuk memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang.

Pilates

Ada enam prinsip dalam pilates yang efektif membantu penderita skoliosis, yaitu concentration, control, centering, precision, flow of movement, dan correct breathing technique. Demikian tutur Nancy Wuisan dari Pilates Bodymotion, Bimasena Club, The Dharmawangsa Jakarta.

Concentration artinya setiap gerakan dan hitungan dalam pilates harus dilakukan dengan penuh konsentrasi. Control artinya setiap gerakan harus terkontrol oleh pikiran, jadi bukan pikiran yang dikontrol oleh tubuh. Centering artinya perhatian harus terpusat pada tujuan berlatih pilates, misalnya tujuannya untuk meringankan skoliosis. Precision, setiap gerakan harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat, misalnya kalau harus mengangkat kaki setinggi 90 derajat ya harus tepat 90 derajat. Flow of movement berarti gerakan yang dilakukan harus urut dan berkesinambungan, menggunakan napas yang benar yaitu pernapasan perut. Pernapasan perut dapat mendorong tulang belakang bersama otot-ototnya kembali berfungsi secara seimbang.

“Dengan gabungan dari enam prinsip dasar tersebut, tulang akan membantu mengoreksi skoliosis,” tutur Nancy. Postur tubuh dan pernapasan yang benar, otot yang elastis, akan membuat organ tubuh termasuk tulang belakang kembali berfungsi dengan baik. “Pilates dengan bantuan alat-alat berusaha menyeimbangkan otot-otot, melenturkan otot yang meregang, dan membuat persendian menjadi lebih sehat. Latihan diberikan setahap demi setahap sesuai kemampuan pasien, karena tidak semua gerakan cocok untuk semua pasien skoliosis. Dari gerakan-gerakan awal, bisa diketahui tingkat keparahan pasien. Dengan demikian dirancanglah sebuah program untuk mengatasi masalah yang dideritanya.”

Meskipun kini banyak beredar buku dan VCD tentang pilates, namun Nancy Wuisan tidak menganjurkan penderita belajar sendiri. “Setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda. Pilates yang dicontohkan dalam buku dan VCD sifatnya umum. Untuk menghindari cedera atau semakin parahnya skoliosis, sebaiknya latihan dilakukan di bawah pengawasan ahlinya,” tutur Nancy.

Kesimpulan

Secara garis besar, seperti yang aku baca di blog dr. Rahyussalim, SpOT., terapi skoliosis ini terdiri atas 3 macam:
  1. Olah tubuh (berenang, yoga, pilates)
  2. Pemasangan brace
  3. Operasi

Tidak ada yang berani mengatakan bahwa berenang dapat memberikan dampak koreksi pada skoliosis, apalagi menyembuhkan skoliosis itu sendiri. Berenang diyakini hanya mampu memperlambat progresivitas skoliosis.

Sementara operasi merupakan jalan terakhir yang dilakukan setelah upaya olah tubuh tidak berhasil atau memang karena perlu dilakukan penanganan yang cepat, sebab derajat kemiringannya sangat besar dan dapat membahayakan organ-organ tubuh lainnya, misalnya jantung atau paru-paru.

Yang perlu diingat, langkah penting yang harus disadari adalah mengetahui detil skoliosis itu sendiri sebelum melakukan apapun tindakan pengobatannya. Dan untuk mengetahui ini tentunya harus pada orang yang mengerti, konsern, dan ahli, karena setiap kasus skoliosis adalah unik dan berbeda antara satu skolioser dengan yang lainnya.

Sumber:

Labels:

 
posted by Yustika at 10:26 AM | Permalink | 11 comments

Skoliosis [1]: Definisi dan Penyebab

Dua pekan yang lalu, 10 Juni 2010, aku mengambil hasil rontgen di bagian radiologi rumah sakit St. Borromeus. Rontgen ini atas rujukan dokter ortopedi di rumah sakit yang sama ketika aku berkunjung untuk konsultasi dua hari sebelumnya. Setelah membaca hasil rontgen, aku tertegun dan sedikit shock. Mengapa? Ternyata aku menderita skoliosis, Saudara-saudara!

Mengenal Susunan Tulang Belakang Manusia

Sebelum mengenal lebih jauh mengenai skoliosis, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu struktur tulang belakang manusia. Seperti halnya kasus skoliosis dengan segala keunikannya, tulang belakang manusia pun merupakan struktur yang unik dan kompleks. Gambar di bawah ini dapat menjelaskan susunan tulang belakang manusia.


Tulang belakang di bagian leher atau istilah medisnya “Cervical Spine”, terdiri dari 7 ruas yang dalam dunia kedokteran diberi label C1 sampai dengan C7 (Cervical 1 sampai dengan Cervical 7). Seperti terlihat di gambar, C1 jaraknya terdekat dengan tengkorak, sementara C7 terdekat dengan dada. Dokter biasanya menyebut “servikal”.

Tulang belakang di bagian punggung atau istilah medisnya “Thoracic Spine”, terdiri dari 12 ruas yang dalam dunia kedokteran diberi label T1 sampai dengan T12. Sering mendengar dokter menyebutnya dengan istilah “Torakal”. Torakal ini terhubung ke tulang rusuk sehingga bagian tulang belakang ini relatif kaku dan stabil. Pergerakan Torakal tidak sedinamis pergerakan di bagian lain dari tulang belakang manusia.

Tulang belakang di bagian pinggang atau istilah medisnya “Lumbar Spine”. Terdiri dari 5 ruas yang dalam dunia kedokteran diberi label L1 sampai dengan L5 (Lumbar 1 sampai dengan Lumbar 5). Lumbar merupakan bagian tulang belakang yang memiliki penampang terluas dan terkuat sehingga mampu menumpu berat badan manusia.

Selanjutnya adalah Sacrum dan Coccyx. Sakrum yang merupakan bagian dari panggul (pinggul) terdiri dari 5 ruas tulang dan biasanya menyatu pada usia dewasa untuk membentuk satu tulang, sedangkan Coccyx atau yang dikenal dengan tulang ekor memiliki 4 ruas tulang (terkadang 5 ruas) yang juga menyatu membentuk satu tulang.


Pada dasarnya, tulang belakang yang normal memiliki kurva (kelengkungan pada tulang belakang) - seperti gambar di atas, bagian tengah. Jika dilihat dari sisi (tampak samping), akan terlihat bahwa ada kurva keluar (cekung) di bagian tulang belakang leher (cervical spine), kemudian turun ke torakal akan terdapat kembali kurva yang melengkung ke dalam (cembung), dan kurva yang keluar lagi di bagian lumbar.

Pada susunan tulang belakang yang normal, jika dilihat dari depan atau dari belakang kelengkungan kurva tersebut seharusnya tidak tampak dan hanya tegak lurus saja seperti gambar pada sisi kiri dan kanan di atas.

Nah, pada kasus skoliosis kemiringan kurva yang terjadi, melengkung ke arah yang tidak seharusnya (salah), sehingga terjadilah Skoliosis (bisa membentuk kelengkungan tulang belakang yang menyerupai huruf “S” atau huruf “C”).

Apa Itu Skoliosis?

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping (lateral curvature of the spine). Kata skoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Kelainan tulang punggung ini tampak jika dilihat dari belakang.

Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita skoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Seseorang didiagnosa skoliosis jika ditemukan dua macam kelainan pada tulang belakangnya, yaitu:
  1. Lateral curvature: terjadi jika tulang belakang bengkok. Ini bisa dilihat dari belakang ketika penderita pada posisi berdiri dengan tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan. Jika tulang tampak seperti huruf S, bentuknya menyimpang, punggung tidak sama tinggi atau ada tonjolan, berarti skoliosis.
  2. Rotation: terjadi jika ada sendi tulang belakang yang terputar. Kadarnya hanya sedikit, namun selalu ada pada setiap gejala skoliosis. Aspek ini menyebabkan tulang belakang berbentuk berliku. Penyimpangan kurang dari 10 derajat dianggap masih normal.

Apa Penyebab Skoliosis?

dr. Michael Cornish, chiropractor lulusan RMIT, Melbourne, Australia, yang berpraktik di klinik chiropractic di Indonesia, mengatakan, “Secara keilmuan, penyebab skoliosis tidak diketahui. Namun, secara spekulatif, saya menduga salah satu penyebabnya adalah pola makan yang salah dan postur tubuh yang kurang baik.”

Senada dengan pernyataan tersebut, dr. Tinah Tan, chiropractor dari Citylife Chiropractic, mengatakan bahwa kekurangan asam folat pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko sambungan spina tulang belakang pada bayi yang dikandung menjadi tidak sempurna (cacat spina bifida). Keadaan ini dapat memicu skoliosis.

Sedangkan menurut dr. Luthfi Gatam, SpOT., spesialis ortopedi & traumatologi dari RS Fatmawati, bahwa 80% skoliosis tidak diketahui penyebabnya. Ini disebut idiopathic scoliosis. Kata idiopathic menunjukkan bahwa penyebabnya tidak diketahui. Usia penderita bisa di bawah 3 tahun sampai di atas 19 tahun. Literatur terbaru sekalipun masih mengatakan bahwa penyebab patofisiologi terjadinya skoliosis idiopatik belum diketahui. Sekitar tahun 1998 terdapat teori yang mengaitkan patofisiologi ini dengan hormon melatonin. Terdapat dugaan yang kuat bahwa skoliosis ini banyak dipengaruhi oleh sistem hormonal reproduksi (adrenal, hipofisis, ovarium, dsb.) dengan melihat kenyataan bahwa penderita memang pada umumnya wanita dan organ reproduksi yang dimiliki wanita tidak dimiliki oleh kaum pria (demikian sebaliknya).

Banyak literatur tidak menyebutkan skoliosis idiopatik sebagai penyakit keturunan. Namun, seorang wanita yang memiliki saudara yang menderita skoliosis dikatakan memiliki peluang yang besar untuk mengalami skoliosis.

Ada juga skoliosis yang diketahui penyebabnya, yaitu dikategorikan sebagai congenital scoliosis atau kelainan bawaan. Ini disebabkan oleh perkembangan tulang belakang yang tumbuh abnormal. Termasuk kelompok ini adalah sindrom kerdil (osteochondrodystrophy). Contoh-contoh tersebut termasuk kategori skoliosis struktural.

Ada pula skoliosis non-struktural yang disebabkan adanya masalah dengan bagian tubuh lain. Misalnya kaki yang tidak sama panjang, sehingga terjadi lengkungan abnormal pada tulang belakang. Kejang otot dan radang otot juga bisa menimbulkan kelainan tulang belakang. Jika penyebab skoliosis didiagnosa non-struktural, penanganannya bukan reposisi tulang belakang melainkan reposisi bagian tubuh yang menyebabkan skoliosis tersebut.

Akibat dari Skoliosis

Kasus skoliosis memerlukan pemeriksaan atau check-up pada waktu-waktu tertentu secara reguler. Kondisi tulang belakang yang tidak sempurna akan menyebabkan fungsi organ yang ada di dalam tubuh menjadi terganggu. Contohnya, skoliosis bisa menghambat pergerakan rusuk dan volume paru-paru (pulmonary hipertention) sehingga penderita sering sulit bernapas (sesak napas).

Penderita skoliosis juga lebih mudah terkena osteoartritis akibat pergerakan sendi yang terhambat pada satu sisi. Selain itu, skoliosis juga menyebabkan kelelahan tulang dan sendi, sehingga penderitanya sering merasakan nyeri, sakit kepala, kaku otot, atau pegal punggung.

Beberapa penderita bisa mengalami gejala kesemutan dan kejang kaki ketika hamil. Ada indikasi bahwa skoliosis yang parah bisa menyulitkan proses persalinan. Namun, tulis dr. Rahyussalim, SpOT. dalam blog-nya, sejauh ini skoliosis tidak mempengaruhi kehamilan dan melahirkan, justru sebaliknya kehamilan akan memperburuk kondisi skoliosis (kurva makin besar, progresnya juga bertambah).

Skoliosis bisa diderita setiap orang, namun lebih banyak diderita wanita. “Di klinik saya perbandingannya 10:1,” ujar dr. Michael Cornish. Sedangkan di RS Fatmawati rasionya 9:1. “Sampai sekarang masih merupakan misteri, kenapa wanita lebih banyak menderita skoliosis dibanding pria,” kata dr. Luthfi Gatam, SpOT.

Sumber:

Labels:

 
posted by Yustika at 9:24 AM | Permalink | 0 comments

Berurusan dengan Agen

Monday, June 14, 2010
Sebagai reseller berbagai produk untuk GriyaKabita.com, tentu aku berurusan dengan banyak agen tempat aku mengambil produk. Ada suka duka tersendiri mengenai hal ini. Ingin berbagi sedikit ya.

Agen Top
Ini cerita tentang salah satu agenku dari Cimahi yang menurutku top-banget.
  • Kalau aku sms pesanan, dia segera merespon.
  • Kalau produk yang kuminta sedang kosong, dia segera mengabarkan.
  • Kalau produknya ada semua, dia segera siapkan dan segera dia kirimkan ke Sarijadi, tempat aku mengambilnya.
  • Stok yang ada padanya hampir selalu lengkap sehingga memudahkan pesanan, sepertinya dia termasuk agen yang sadar stok, alhamdulillah.
  • Kalau janjian bertemu selalu tepat waktu.
  • Meskipun kadang ada salah ukuran dan salah kode produk *hehe, maklum manusia*, ibu ini sangat baik. Hari hujan tak menjadikannya halangan untuk mengirimkan produk pesananku ke Sarijadi, bahkan ketika jumlah produk yang kupesan sedikit sekalipun.
  • Berbasis kepercayaan, dia juga mengizinkanku transfer uang belakangan setelah produk darinya kuterima (FYI, kebanyakan agen mensyaratkan pembayaran di muka), which is sesuatu yang tak pernah kulakukan karena aku selalu berusaha transfer uang lebih dulu atau membayar langsung padanya.

Agen Lelet
*hehehe, namanya nggak-banget ya*
  • Si ibu yang ini responnya agak lambat. Saat sms pesanan aku kirimkan, sms balasan dikirimkan satu hari kemudian—itupun setelah aku kirim sms ulang.
  • Ketersediaan produk (kosong atau tidak kosong) tidak segera dikabarkan. Alasannya dia harus cek dulu di toko. OMG, memangnya dia tidak punya data yang disimpan di rumah? Di tokonya aku tidak melihat adanya komputer atau buku stok. Jadi bertanya-tanya, di mana gerangan data-riil-stok dia simpan?
  • Selang waktu antara dia berkata, “Nanti aku cek dulu di toko ya.” dengan konfirmasi ketersediaan produk biasanya berselang satu hari. Hal ini sangat merepotkan bila produk banyak yang kosong, karena kita harus mendata ulang daftar pesanan. Bayangkan bila pesanan kita dikonfirmasi olehnya sehari kemudian, lalu kita mendata dan memesan ulang, dikonfirmasi lagi sehari kemudian, kalau kosong lagi kita harus mendata dan memesan ulang lagi, lalu dikonfirmasi lagi sehari kemudian… yang ada juga: CAPE DEHH…

Agen Standar
Kalau agen golongan ini sih biasa saja. Rata-rata baik hati—meskipun ada juga yang sedikit nyolot heuheu, namanya juga manusia. Mereka ramah; cepat tanggap dan responsif; rapi dalam invoice, daftar stok, dan packing pesanan.

Secara keseluruhan, mengelola toko online-ku ini membawaku pada pengenalan yang lebih dalam terhadap berbagai karakter manusia. Belum lagi kalau bicara tentang pembeli yang tentu lebih beraneka ragam karakternya. Memang aku baru memulai, jadi masih sangat awam soal masalah jual beli, masih taraf belajar. Insya Allah akan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

*Terima kasih ya Allah, karena telah memberiku kesempatan yang lebih bermakna tentang hablum minannas.*

Labels:

 
posted by Yustika at 3:32 PM | Permalink | 0 comments

Toko Online, Behind the Screen

[catatan: selain toko online, aku juga berjualan secara offline]

Ide awal:
  • Menyalurkan hobi belanja :)
  • Memang ingin jualan. Kata hadits, “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rejeki itu ada dalam perniagaan.” (HR. Ahmad)

Saat paling menyenangkan:
  • Waktu membuat daftar pesanan ke agen dan waktu memilih-milih barang untuk dibeli
  • Waktu barang datang dan waktu mengecek barang apa saja yang datang
  • Waktu mencoba produk :)
  • Waktu menerima uang dari pembeli :))

Saat paling tidak menyenangkan:
  • Waktu membayar barang
  • Waktu pembeli bilang mau berhutang :D
  • Waktu menagih hutang dari pembeli, apalagi kalau pembelinya tidak tahu diri :))
  • Waktu pembeli lupa sama hutangnya
  • Waktu pembeli kecewa dengan barang pesanan

Saat paling merepotkan:
  • Waktu mengumpulkan data produk satu persatu
  • Waktu memotret produk satu persatu dan meng-edit foto-foto tersebut
  • Waktu meng-input dan meng-upload data produk ke situs web

Saat paling menyebalkan:
  • Waktu harus mengulang input dan upload data produk ke situs web gara-gara koneksi internet putus-nyambung :(

Ini petikan yang kuambil dari sini.

Ternyata ngurus toko online itu tidak mudah. Musti cari barang. Trus ngukur barang itu. Masukin data-data. Masang barang di manekin. Ambil gambar barang tersebut. Ngedit foto. Bikin deskripsi barang. Upload gambar. Upload deskripsi gambar. Upload icon. Ngurus SEO. Cek pembayaran. Cetak invoice dan sending address. Packing barang yang terjual. Ngurus shipping. Dan hampir sebagian besar dari ritual itu musti aku kerjain sendiri. Karena suamiku kan kerja di luar kota. Paling pas hunting barang aja yang selalu kita lakukan bareng.

Sounds familiar to me, hahahaha. Meskipun terdengar ribet, sebenarnya mengurus toko online ini memiliki keasyikan tersendiri. Ribet tapi fun, ada kepuasan tersendiri. Juga jadi ajang belajar tentunya. So, semangat terus insya Allah.

Jangan lupa mampir ke toko online-ku ya ;)

Labels:

 
posted by Yustika at 3:15 PM | Permalink | 0 comments