Dua Hal...

Saturday, January 29, 2005
Dua hal yang paling saya gilai sekarang ini: sepak bola dan boneka!
Hmm, tampak seperti dua kutub yang berlawanan, bukan? Padahal sebenarnya tidak juga. Toh di kamar kost, saya punya Winnie the Pooh yang sedang menendang bola. :p
 
posted by Yustika at 11:53 AM | Permalink | 1 comments

Formasi Sama, Hasil Beda

Tuesday, January 11, 2005
Mencermati hasil pertandingan antara Indonesia melawan Singapura pada final pertama di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, hari Sabtu lalu, mungkin ada pertanyaan mengemuka: bukankah formasi Indonesia saat itu sama dengan saat Indonesia menggebuk Malaysaia 4-1? Lantas mengapa Indonesia malah kalah telak 1-3?

Tentu jawabnya simpel: karena kondisinya memang berbeda. Saat Indonesia melawan Malaysia pada semifinal kedua dulu, kita berada dalam kondisi sulit: kemasukan satu gol padahal harus menang dengan selisih minimal dua gol. Kita tak punya pilihan lain selain tampil habis-habisan menyerang. Itu sebabnya Kurniawan dimasukkan pada babak kedua sehingga jumlah pemain bertipe menyerang ada empat orang, ditambah dengan Boas, Ilham, dan Elie Aiboy.

Waktu itu, status Kurniawan yang masuk pada babak kedua juga punya pengaruh tersendiri. Ia sudah mengamati jalannya pertandingan selama babak pertama, sehingga ia tahu benar bagaimana karakter, taktik, dan tipe permainan yang dikembangkan lawan. Maka saat ia mendapat instruksi pelatih untuk terjun, ia sudah siap dengan counter taktik untuk mengoyak konsentrasi pertahanan lawan. Lahirlah gol pertama yang membangkitkan semangat pemain Indonesia, dan menyusullah gol demi gol yang dihasilkan dari goyahnya pertahanan lawan.

Saat Indonesia melawan Singapura, Kurniawan dimainkan sejak awal dengan maksud sama: habis-habisan menyerang dan mengegolkan sebanyak-banyaknya. Padahal pemain bertahan Singapura jauh lebih tangguh, dan mungkin itu yang luput dari perhatian. Mereka jago duel-duel atas, mereka juga disiplin dalam bertahan dan mengawal pemain-pemain kita. Itu sebabnya penyerang-penyerang kita mati kutu dan frustrasi berusaha menembus lawan. Apalagi kita sebelumnya juga sudah dikejutkan dengan gol dari Daniel Bennet pada menit ke-2. Bertambah frustasilah pemain-pemain kita.

Tidak tampilnya Ismed Sofyan juga membawa catatan tersendiri. Indonesia lemah dalam bertahan. Pemain-pemain kita terlalu asyik menyerang dan sering terlambat turun. Ilham yang seharusnya berkonsentrasi di depan malah sering berlari-lari turun membantu pertahanan, sehingga Kurniawan tidak cukup mendapat pasokan bola. Maka kekosongan terjadi di mana-mana, membuat penyerang Singapura, terutama Agu Casmir, dapat dengan mudah mempermainkan dan menceploskan bola. Dan seperti yang sudah dapat diduga, mental pemain-pemain kita langsung turun. Semakin turun ketika Boas ditarik karena cedera, dan semakin turun lagi ketika Mauly Lessy diganjar kartu merah akibat akumulasi kartu kuning. Sudah tidak mungkin rasanya mengejar Singapura. Bahkan saya terkejut dengan gol Mahyadi pada injury time. Ternyata masih bisa mengegolkan juga. He he he, jahat ya saya...

Berbekal pengalaman final pertama, saya rasa Peter Withe harus menerapkan taktik baru yang lebih jitu. Tidak bisa tampilnya Mauly Lessy dan Charis Yulianto (akibat akumulasi kartu pada dua pertandingan berbeda) cukup membuat saya ketar-ketir membayangkan tidak solidnya pertahanan Indonesia. Pertahanan kita yang kemarin sudah diobrak-abrik lawan kini makin bertambah lemah. Masih ditambah kondisi Boas yang belum pasti bisa tampil di final kedua. Lantas bagaimana?

Saya tak tahu. Saya bukan Peter Withe. Saya cuma penonton. Analisis di atas juga bukan analisis jago, cuma berdasarkan pengalaman menonton selama ini. Maka sah-sah saja kalau sebagai penonton, saya masih berharap pada tim nasional kita, meski langkah yang menanti di depan bukanlah pekerjaan enteng...
 
posted by Yustika at 3:32 PM | Permalink | 0 comments

Kamar Hijauku

Monday, January 10, 2005
Pagi tadi aku beres-beres kamar, setelah hari-hari sebelumnya penuh dengan serakan kertas-kertas sisa belajar. Ujian tinggal dua lagi, dan rasanya nggak enak banget belajar di tengah-tengah suasana ancur kayak gitu. Jadilah bersih-bersih kamar menjadi agenda pagi tadi.

Aku mulai dengan menata rangkaian bunga di atas "meja" kecil di sudut kamar. Ini bunga beneran, karena aku memandang tinggi dekorasi bunga asli dan merasa janggal dengan bunga plastik. Entah kenapa, rasanya lebih hidup dan lebih segar aja kalau bunga yang dipajang itu bener-bener bunga asli. Setelah terangkai apik, pada vasnya kuikat melingkar sebuah scarf untuk menambah aksen. Hmm, beautiful... Lalu aku beranjak ke kertas-kertas yang berserakan, menata sprei, menata boneka, menyapu, de el el...

Puas rasanya melihat kamarku bersih. Meski tak besar, kamarku terasa lebih lega dengan barang-barang yang ditata sedemikian rupa. Gorden kamar berwarna hijau, selaras dengan warna sprei, sarung bantal, lemari pakaian, dan keset kain di depan pintu. Boneka-boneka bertengger manis di sudut kasur, di atas rak, di atas komputer, dan di sebelah vas bunga. Ada Aggy, ada Snowy, ada Brownies, ada Minky, ada Blue, ada Ima, juga ada JR. Eits, satu lagi: si Pinky.

Ah, senangnya lihat kamar lebih rapi. Hmm, kayaknya enak juga tuh, tiduran di atas kasur yang sudah rapi. Akhirnya setelah itu malah tidur pulas, bukan belajar. Keenakan di kamar yang sudah nyaman. Lho...
 
posted by Yustika at 3:29 PM | Permalink | 1 comments

Bunga Putih Ungu

Sunday, January 09, 2005
Kemarin pagi, saya keluar rumah pukul 04.45 selepas shubuh. Setelah sejenak menghirup udara pagi sambil menggigil diterpa hawa, saya mengeluarkan sepeda motor dengan hati-hati. Di luar benar-benar masih gelap. Baru kali itu saya keluar jam segitu. Seorang teman meminta tolong diantar ke bandara untuk mengejar pesawat pukul 05.30, itu alasannya. Malam sebelumnya berlalu tanpa tidur sedetik pun, tapi wajah sedikit lebih segar setelah dibasuh air wudhu dan dibelai angin fajar.

Sepanjang jalan menuju bandara, suasana teramat sepi. Kalaulah ada kendaraan lalu lalang, itu cuma satu dua. Jalanan gelap, sepi, dan dingin. Membuat saya bisa memacu motor kencang-kencang. Alhasil, kami sampai di bandara hanya dalam waktu 20 menit. Rekor nih, he he he...

Saya cuma sebentar di bandara. Hanya menurunkan teman. Lantas segera pulang, kembali menyusuri jalanan yang gelap, sepi, dan dingin. Dan entah mengapa, sambil memandangi semburat jingga di ufuk timur yang mulai nampak, saya termenung (eh, bisa dong, termenung di atas sepeda motor!). Saya berpikir, betapa indah hidup ini. Dan betapa sering saya mengeluh tentang hidup, terutama karena merasa nelangsa "terjebak" di sebuah jurusan yang tidak saya suka. Bahkan sering menyesali mengapa ketidaksukaan yang memuakkan itu datang terlambat, ketika sudah tiba masanya mengambil tugas akhir. Pergi begitu saja jelas tak mungkin, mengingat pengorbanan orang tua yang begitu besar, mengingat tinggal sedikit lagi semuanya berakhir. Oh, tapi mungkinkah tinggal sedikit lagi? Bagaimana jika yang "tinggal sedikit lagi" itu justru memakan waktu bertahun-tahun? Sementara bila studi ini diteruskan, saya tak yakin mampu menanggung kesedihan yang menggelegak akibat nilai-nilai yang ... (sensor). Jadi, bagaimana?

Lalu lintasan lain hadir. Meloncat dari tema akademis ke tema utama bangsa ini: Aceh. Saya terpikir tentang betapa banyaknya jumlah korban meninggal: 150.000 orang, yang setara dengan tiga kali jumlah penonton di Stadion Old Trafford, Manchester. Saya membayangkan orang-orang di stadion itu bergelimpangan, lalu jumlahnya dikali tiga. Tiba-tiba tersadar, ini sedang memikirkan Aceh atau sepak bola? Lho...

Kemudian pikiran serta merta terbang ke tema sepak bola: final Tiger Cup antara Indonesia dan Singapura. Hmm, saya tak tahu apa yang bakal terjadi. Singapura lawan yang berat. Tiga (atau empat?) pemainnya adalah pemain asing dari Nigeria dan Inggris, yang tentu skill-nya sudah lebih dari biasa. Ah, entahlah. Lalu pikiran terbang lagi ke tema-tema lain, sebelum akhirnya tersadar bahwa saya sudah sampai di dekat kios bunga Wastu Kencana. Terbersit keinginan untuk membeli bunga sebagai penghias ruangan.

Pada dasarnya, saya seorang penyuka bunga, bunga apa saja. Bahkan saya punya kebiasaan untuk memetik bunga di tempat-tempat mana saja yang saya kunjungi. Begitu sampai di kios terdekat, saya terpikir untuk membeli bunga mawar, bunga kesayangan saya. Sayangnya, ternyata harga mawar sangat mahal. Dengan enggan saya mengurungkan niat dan beralih ke bagian shrubs. Saya terpana melihat bunga putih dan bunga ungu yang menawan. Kebetulan harganya terjangkau. Maka tersenyumlah saya...

Akhirnya, saya tiba di kos dengan seikat bunga putih ungu di tangan. Betapa cantiknya. Tak henti-hentinya saya kagumi. Hmm, ternyata seikat bunga ini kembali menyadarkan saya tentang betapa indah hidup ini. Masalah akademik hanya akan menjadi sepenggal cerita yang segera selesai (semoga). Dan ketika saya keluar ke teras untuk mengambil koran yang tadi dilempar loper koran, saya memandangi ufuk timur sekali lagi. Semburat jingga itu sudah berubah menjadi lembut terang dunia. Semoga demikian pula halnya dengan asa saya, yang insya Allah kembali mekar seperti bunga putih ungu yang menunggu di kamar...

NB: Masih tersisa pula sedikit asa untuk tim nasional kesayangan, meski ternyata kalah di final pertama. Ayo dong, rebut Tiger Cup untuk pertama kalinya!
 
posted by Yustika at 4:39 PM | Permalink | 0 comments

Manusia, Unsur Terindah dalam Sepak Bola

Saturday, January 08, 2005
Lagi-lagi, saya menemukan sebuah artikel menarik di halaman olahraga harian Kompas Jumat, 7 Januari 2005. Artikel yang ditulis oleh Anton Sanjoyo ini mengangkat wacana mengenai penggunaan teknologi canggih di lingkungan sepak bola. Berikut ini tulisan lengkapnya.

-----------------------------------------------------------
Sudah lewat setengah tahun sejak pertemuan saya dengan Joel Katz, seorang wartawan tua sarat pengalaman di arena Euro 2004 Portugal. Hari-hari ini, wajah renta penuh kerut Katz kembali mengusik bilik memori. Saya teringat kata-katanya: “Hanya sepak bola yang bisa membuat drama seperti ini. Sepak bola menjadi indah karena ada drama manusia di dalamnya,” ujar Katz saat menyaksikan partai Portugal melawan Belanda di babak semifinal.

Drama manusia karena sepak bola sangat manusiawi. Ada passion yang demikian menggelegak, ada pekik sorak, juga air mata. Barangkali hanya di sepak bola, manusia menemukan wujudnya yang paling dasar, tak pernah lepas dari kesalahan. Pada momen ini, bukan hanya pemain atau pelatih yang berbuat kesalahan, tetapi juga pengadil dan para asistennya.

Hari-hari ini, di lingkungan Liga Inggris, korps pengadil sedang mendapat sorotan tajam. Paling mutakhir adalah hujaman kritik kepada asisten wasit Rob Lewis, yang membantu wasit Mark Clattenburg saat memimpin partai Manchester United (MU) melawan Tottenham Hotspur, Selasa lalu di Old Trafford. Clattenburg tidak mengesahkan gol gelandang Spurs, Pedro Mendes, ke gawang Roy Carrol karena Lewis tidak melihat bola telah melewati garis gawang.

“Saya berada dalam jarak 25 yard (sekitar 25 meter--Red) dari gawang Carrol saat kejadian itu,” ujar Lewis. “Saya harus punya kemampuan lari secepat Linford Christie untuk melihat apakah bola melewati garis atau tidak,” lanjut asisten wasit asal Shrewsbury itu.

Beberapa hari sebelum insiden Old Trafford, wasit Mike Riley juga membuat blunder besar di Anfield, saat Liverpool menjamu Chelsea. Riley tidak memberikan hadiah penalti kepada Liverpool, padahal jelas-jelas gelandang Chelsea, Tiago Mendez, memukul bola dengan tangannya di kotak penalti. “Bola yang datang ke tangan Tiago,” ujar Riley.

Baik insiden Anfield maupun Old Trafford, keduanya diyakini memengaruhi hasil akhir. Chelsea akhirnya menang 1-0, sementara MU mendapat berkah dengan hasil imbang tanpa gol. Dengan demikian, dalam kasus Chelsea, sangat mungkin tiga nilai yang mereka dapat adalah bagian penting dari perjalanan mereka (kalau) kelak menjadi juara.

Dipicu insiden di dua stadion tadi, desakan lama agar teknologi media (video dan rekaman televisi) dipakai dalam pengambilan keputusan di lapangan, merebak kembali. Badan tertinggi sepak bola dunia, FIFA, bahkan merencanakan memakai bola yang dilengkapi microchip, untuk mendeteksi, apakah bola sudah melewati garis atau belum. Kabarnya, teknologi baru tersebut akan dipakai pada final Piala Liga Inggris mendatang.

Sejauh ini, wacana penggunaan teknologi canggih di lingkungan sepak bola, masih menjadi perdebatan sengit. Ada yang pro, tapi lebih banyak yang kontra.

Di Inggris kalangan yang kontra berpendapat, sepak bola akan kehilangan getar dan suspensnya jika teknologi, terutama teknologi rekaman gambar, terlalu merasuki permainan. Yang ekstrem menolak beranggapan, teknologi akan “membunuh” permainan sepak bola.

Pandangan kalangan ini agak mengejutkan mengingat Inggris pernah sangat disakiti oleh ulah Diego Maradona di perempat final Piala Dunia 1986. Kala itu, kiper Peter Shilton diperdaya oleh “tangan Tuhan” Maradona, dan wasit Ali Bennaceur (Tunisia) bergeming mengesahkan gol itu. Dalam rekaman televisi jelas terlihat, Maradona meninju bola itu dan melesat masuk gawang Shilton.

Gol “tangan Tuhan” toh tetap menjadi gol yang sah, bahkan setelah Maradona mengakuinya sendiri. Orang Inggris, meski dongkol, akhirnya mengakui kekalahan mereka. Gol Maradona, dan kesalahan judgement Bennaceur, adalah bagian dari permainan itu sendiri. “It’s part of the game,” kata bek Inggris, Terry Butcher.

Butcher pasti benar. Dia tetap jengkel pada keculasan Maradona, namun mahfum bahwa wasit pun punya kelemahan. Dia bisa salah membuat keputusan, dan bahkan keputusannya menghancurkan harapan sebuah bangsa. Meski pahit buat Inggris, Butcher dan kawan-kawan akhirnya menerima kesalahan Bennaceur sebagai hal yang lumrah dan manusiawi.

Karena pemain dan wasit tak pernah luput dari kesalahan itulah yang membuat sepak bola tetap punya daya magisnya sendiri. Dengan asumsi, segala kesalahan tidak dikehendaki dan disengaja, sepak bola tetap menjadi olahraga paling populer, paling menghibur, karena semua usaha untuk memperbaiki kesalahan adalah juga atraksi tersendiri.

Maka hanya dalam sepak bola, dikotomi salah dan benar dalam keputusan wasit, atau perilaku pemain, selalu menjadi drama yang tak ada habisnya. Hanya di lapangan itu kita bisa melihat fair play dan sportivitas diperjuangkan dengan begitu gigihnya. Ingatlah bagaimana Robbie Fowler (saat masih bermain di Liverpool), menolak mengeksekusi tendangan penalti karena menganggap wasit salah memberikan hukuman kepada Arsenal.

Tanpa teknologi canggih yang terlalu mengintervensi, dan kelangsungan pertandingan sepenuhnya diserahkan kepada wasit, pertarungan sportivitas dan fair play, akhirnya menjadi suguhan yang punya dramanya sendiri di lapangan hijau. Lapangan sepak bola akhirnya menjadi laga kehidupan bagi para pelakunya sendiri, termasuk jutaan penonton yang nongkrong di depan layar televisi.

Maka, karena masih ada kesalahan manusia di dalamnya, sepak bola selalu punya getar dan gairah tak terperikan untuk dinikmati.
-----------------------------------------------------------

Komentar saya: Wah, wah. Ternyata bola inovasi terus bergulir. Dulu ide tentang dua wasit dalam satu lapangan, sekarang ide tentang penggunaan bola yang dilengkapi microchip. Saya rasa, tiap pecinta sejati sepak bola yang bercita rasa seni tinggi, (mungkin juga) termasuk saya, pasti akan kontra dengan penggunaan teknologi canggih yang terlalu mengintervensi. Ya, tentu saja. Nanti sepak bola malah jadi seperti teknik digital dong, hanya ada 0 dan 1, hanya ada benar dan salah. Biarkan wilayah abu-abu yang mengasyikkan itu tetap ada. Sepak bola kan bukan hanya sekedar sebuah permainan berebut dan menceploskan bola. Sepak bola punya jauh lebih banyak daripada itu, salah satunya adalah drama manusia. Completeness sepak bola yang bukan hanya sekedar sebuah cabang olahraga itulah yang membuat saya jatuh cinta pada sepak bola bertahun-tahun lalu, sejak saya berusia 14 tahun dan menyaksikan Manchester United lawan Liverpool untuk pertama kalinya. Dan yang pasti, kalau teknologi canggih terlalu mengintervensi sepak bola, kata teman saya, “Nanti nggak ada misuh-misuh-nya lagi!” He he he…
 
posted by Yustika at 1:54 PM | Permalink | 0 comments

Terima Kasih kepada Withe dan Kurniawan

Thursday, January 06, 2005
Pada harian Kompas Rabu, 5 Januari 2005, saya menemukan sebuah artikel menarik dengan judul seperti di atas. Artikel itu ditulis oleh Ronny Pattinasarany, seorang pengamat sepakbola sekaligus mantan pemain tim nasional Indonesia. Saya pikir, ada baiknya saya men-share artikel ini di blog saya.

-----------------------------------------------------------
Ada dua faktor kunci kemenangan Indonesia melawan Malaysia. Pertama, kita beruntung punya pelatih yang mampu membaca permainan dan tidak larut dalam situasi kalut timnya. Peter Withe menunjukkan kelas ini. Ia mampu menghadapi segala tekanan, tetap tenang dan penuh konsentrasi mengamati setiap situasi di lapangan.

Ketinggalan satu gol dan harus mencetak lebih dari 2 gol untuk bisa lolos ke final bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pelatih. Tidak sedikit pelatih yang kehilangan konsentrasi dan tidak mampu untuk secara tenang mengamati situasi serta tidak berani mengambil keputusan yang berisiko tinggi terhadap kelangsungan status jabatannya.

Tidak demikian dengan Withe. Ia sadar akan posisinya yang bisa terancam jika gagal membawa kemenangan, apalagi di dunia persepakbolaan kita, sikap menghargai kinerja pelatih hanya dinilai berdasarkan prestasi menang atau kalah.

Berbekal pengalaman serta kemampuannya membaca situasi permainan, ia dengan berani mengambil keputusan untuk mengubah komposisi timnya. Guna mengejar ketinggalan, penempatan tiga pemain yang berfungsi mengawal daerah sentral pertahanan tidak lagi dianggap penting. Kalau toh ada serangan lawan, diharapkan dua pemain yang berfungsi menjaga daerah sentral pertahanan mampu mengatasinya.

Dalam situasi yang kurang menguntungkan, Withe harus cepat dan tepat mengambil keputusan siapa dari kelima pemain lini pertahanan yang harus ditarik keluar. Akhirnya pilihan jatuh ke Ismed Sofyan yang memang penampilannya mulai menurun dan kurang agresif membantu serangan. Berbeda dengan Ortisan Salossa, yang masih banyak diharapkan bisa menunjang serangan melalui sisi kiri lapangan.

Untuk bisa mengejar ketinggalan, ia memasukkan Kurniawan. Pergantian ini membuat komposisi pemain berubah. Mauly Lessy yang berperan di daerah sentral pertahanan digeser ke kanan mengambil peran Ismed dan hanya menempatkan dua pemain di sentral pertahanan: Charis Yulianto dan Firmansyah Agus.

Di lini depan juga terjadi perubahan, Kurniawan yang masuk mengambil peran Ilham Jayakesuma sebagai target man, sedang Ilham ditarik mundur sedikit beroperasi di belakang Kurniawan. Di sini kelebihan Withe. Ia tidak menempatkan dua pemain ini dalam posisi sejajar. Jika ini terjadi, akan lebih mudah bagi lini pertahanan Malaysia karena pemain banyak bertumpuk di jantung pertahanan, hingga daerah operasi mereka makin sempit.

Dengan Ilham dan Boas beroperasi di belakang Kurniawan, daya serang Indonesia makin bervariasi. Gerakan ketiga pemain ini sulit terbaca lawan, Boas bebas bergerak di antara pemain lini pertahanan lawan, demikian juga dengan Ilham. Situasi ini memecah konsentrasi pemain belakang Malaysia.

Taktik ini ampuh dalam merusak konsentrasi pemain lawan, akibatnya mereka tidak lagi disiplin dan sulit meng-cover daerahnya akibat pergerakan pemain yang cepat dan sering berubah arah.

Masuknya Kurniawan di awal babak kedua, yang mengubah taktik tim, tidak mampu diantisipasi Malaysia. Terlihat mereka tidak siap mental dengan perubahan ini. Pelatih dan pemain Malaysia tidak sempat lagi mengubah pola main timnya sebagai counter taktik yang dikembangkan Indonesia.

Di sini kelebihan Withe. Dia tidak melakukan perubahan komposisi pemainnya saat istirahat, yang kemungkinan kalau ini dilakukan, pihak Malaysia bisa membaca dan mempersiapkan penangkalnya.

Faktor kedua, tampilnya Kurniawan sebagai penyelamat tim. Ia mampu memberi inspirasi bagi rekan lainnya yang mulai terlihat frustrasi untuk kembali tampil percaya diri. Kehadiran Kurniawan di depan mampu merusak konsentrasi pemain lini pertahanan lawan.

Organisasi lini pertahanan mulai goyah, Rosdi Thalib, Khaironisam Shabudin, dan Norhafiz Zamani yang begitu tangguh menghadapi serangan Indonesia mulai goyah. Perubahan arah permainan yang cepat membuat mereka sering kehilangan posisi, dan lahirlah gol balasan Kurniawan.

Tak pelak, tampilnya Kurniawan di saat pemain dalam keadaan frustrasi menembus pertahanan lawan patut diacungi jempol. Motivasinya begitu tinggi. Kendati punya nama besar, ia tidak kecewa diposisikan sebagai pemain cadangan.

Ia mampu mengendalikan dirinya untuk bisa menerima keadaan dan tidak membuat ia berkecil hati, tapi justru menjadi cambuk untuk selalu bisa tampil maksimal bagi tim.

Penampilan gemilang Kurniawan menjadi modal besar bagi tim. Withe harus tetap bisa mempertahankan situasi ini. Duet Boas dan Ilham tetap harus dipertahankan, sedang Kurniawan tetap merupakan kartu truf saat dibutuhkan, saat tim mengalami kebuntuan.

Jika ia tampil sebagai starter dan tim berada dalam kesulitan, saya tidak melihat ada pemain yang mampu bertindak sebagai penyelamat tim. Kalau toh ada, tidak sebaik Kurniawan.
-----------------------------------------------------------

Komentar saya: He he he… Jadi Mr. Pattinasarany, lebih baik Kurniawan tetap diposisikan sebagai
cadangan, begitu?
 
posted by Yustika at 1:41 PM | Permalink | 0 comments

Belajar Dari Tim Nasional Indonesia

Tuesday, January 04, 2005
“Yus, hiks… Mnyedihkan… Tampaknya ada tanda2 Indonesia tdk msk final.” Begitu bunyi SMS yang saya dapat semalam, ketika Indonesia tertinggal 0-1 dari Malaysia pada menit ke-27 akibat gol pemain Malaysia, Amri Yahya. Mau tak mau saya ikut tertunduk lesu. Bagaimana tidak, sampai akhir babak pertama pertandingan semifinal kedua, skor masih bertahan 0-1 untuk kekalahan Indonesia.

Ditaklukkan Malaysia dengan skor 1-2 pada semifinal pertama di Stadion Senayan, Jakarta, siapapun akan mengakui bahwa kans Indonesia cukup kecil. Untuk bisa lolos ke final, paling tidak Indonesia harus menang dengan selisih dua gol pada semifinal kedua di Stadion Nasional Bukit Djalil, Malaysia. Bayangkan, selisih dua gol! Di kandang lawan, lagi! Akhirnya ketika pemain turun minum, saya segera mengambil wudhu untuk shalat isya sambil menyelipkan doa: semoga Indonesia lolos ke final! Ya, harus lolos ke final. Jika tidak, hal itu merupakan penurunan prestasi sebab sebelumnya Indonesia sudah dua kali berturut-turut masuk final Tiger Cup (2000 dan 2002), meskipun dua-duanya kalah dari Thailand.

Peter Withe, pelatih Indonesia --yang pada 2000 dan 2002 melatih Thailand-- memasang strategi yang sangat jitu pada babak kedua dengan memasukkan Kurniawan Dwi Yulianto menggantikan Ismed Sofyan. Dengan adanya empat penyerang --bayangkan, EMPAT!--, tentu permainan Indonesia menjadi jauh lebih menyerang. Formasi 3-4-1-2 berubah menjadi 4-4-2. Strategi ini berbuah manis. Pada menit ke-59, memanfaatkan kesalahan pemain belakang Malaysia, Kurniawan berhasil menyarangkan gol cantik.

Berhasil menyamakan skor, mental pemain Indonesia kian bersemangat, serangan Indonesia kian menekan lawan. Pada akhirnya, tiga gol tercipta dalam waktu sepuluh menit. Gol kedua Indonesia tercipta lewat sundulan telak Charis Yulianto, pemain inti PSM Makassar, menyambut tendangan sudut Boas Salossa. Gol ketiga --goal of the match, menurut saya-- lahir dari kerja sama yang sungguh apik dari Kurniawan dan Ilham Jayakesuma. Saat itu, Kurniawan yang dikepung dua pemain Malaysia --posisi yang sulit-- masih sempat mengontrol bola sebelum mengumpankannya pada Ilham. Dengan sedikit sentuhan, Ilham berhasil mengegolkannya. Saya bersorak sangat keras. Betapa tidak, final sudah di depan mata! Gol penutup Indonesia dipersembahkan oleh Boas Salossa yang berhasil menceploskan bola dengan amat tenang, setelah mengecoh pemain bertahan dan kiper Malaysia. Sontak saya bergembira. Indonesia lolos ke final!

Dari perjalanan panjang mengikuti turnamen Tiger Cup kali ini, Indonesia tercatat hanya satu kali kalah, yaitu saat dikalahkan oleh Malaysia pekan lalu. Sebelumnya, seri satu kali dengan skor 0-0 melawan Singapura, dan selebihnya selalu menang besar (3-0, 6-0, bahkan 8-0). Hmm, saya sungguh berharap banyak pada tim nasional kita kali ini. Ada beberapa pemain unik di tim kita: Hendro Kartiko, Ilham Jayakesuma, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Boas Salossa.

Hendro Kartiko, siapa yang tak kenal? Pemain asal Jawa Timur ini sudah eksis sejak zamannya Aji Santoso dan Bejo Sugiantoro (rasanya sudah lama sekali, ya?). Di saat tim nasional didominasi wajah-wajah baru yang tak saya kenal, Hendro masih tercatat sebagai kiper terbaik. Hal itu jelas terbukti lewat penyelamatan-penyelamatannya yang gemilang, sehingga gawang Indonesia hanya kemasukan tiga gol sepanjang turnamen. Kontras dengan kiper gaek Hendro Kartiko, kita juga memiliki Boas Salossa. Anak muda asal Papua ini baru berusia 18 tahun! Namun, teknik individu dan teknik kerja sama yang dimilikinya sudah sangat tinggi. Ia seringkali melakukan tusukan dan penetrasi berbahaya ke daerah lawan. Maka tak heran, perannya membawa pengaruh besar bagi keberhasilan tim nasional sejauh ini.

Partner Boas di lini depan adalah Ilham Jayakesuma, yang juga memiliki karakter yang unik. Ilham biasanya diposisikan sebagai target man, tetapi bukan berarti ia hanya sekedar menanti umpan. Ia dengan rajin juga turut mengejar bola serta membuka ruang bagi pemain lain. Mengenai rajinnya Ilham ini, Peter Withe pernah berkomentar bahwa ia menyukai pemain tipe petarung yang tidak malas mengejar bola. Itulah sebabnya ia tidak memasukkan Bambang Pamungkas ke dalam tim nasional kali ini.

Pemain terakhir yang akan saya bahas adalah Kurniawan Dwi Yulianto, kelahiran Magelang, 13 Juli 1976. Bicara tentangnya berarti bicara tentang romantisme masa lalu. Ia pemain kesayangan saya sejak masih bergabung dengan PSM Makassar. Lima tahun lalu, ketika PSM Makassar bertandang melawan Pelita Solo, saya dengan bersemangat pergi ke Stadion Manahan, Solo untuk melihatnya. Ia sungguh pemain dengan talenta dan teknik yang bagus, bahkan Peter Withe pun mengakuinya. Kemampuannya itu antara lain diperoleh saat bermain di klub Sampdoria, Italia. Sering dianggap sebagai pemain yang sudah “habis” karena usianya yang sudah “tua” (zamannya sama dengan zaman Hendro), Kurniawan hampir tak masuk tim nasional. Ia dan Supriyono Salimin dipanggil masuk setelah Peter Withe mencoret Johan Prasetyo dan Suswanto karena tindakan indisipliner. Kehadiran pemain yang baru saja mengantarkan Persebaya menjuarai Liga Indonesia 2004 ini senantiasa membuat serangan Indonesia hidup. Meski masa kejayaannya sempat meredup, kecepatan dan kerja kerasnya di lapangan masih membuktikan bahwa ia layak dijadikan pilihan. Peran terbesarnya pada turnamen Tiger Cup kali ini terlihat pada semifinal kedua di Stadion Nasional Bukit Djalil, Malaysia semalam.

Menyaksikan pertandingan semalam, ada rasa haru membuncah, ada hikmah terpetik: bahwa tak pernah ada kata menyerah sebelum semuanya benar-benar berakhir. Dalam posisi yang berat karena harus menang dengan selisih minimal dua gol di kandang lawan, Indonesia malah berhasil unggul 4-1. Ini mengingatkan saya pada fenomena sepakbola yang lain, yaitu saat Manchester United menjuarai Liga Champion 1999. Saat itu, Bayern Muenchen unggul 1-0 hingga injury time, membuat setiap orang beranggapan bahwa gelar juara tinggal menunggu waktu habis untuk jatuh ke tangan Bayern Muenchen. Siapa menyangka, pada injury time tersebut, dalam tempo dua (atau tiga?) menit, Ole Gunnar Solkjaer dan Teddy Sheringham berhasil menyarangkan dua gol untuk membalikkan skor menjadi 2-1. Maka gelar juara Liga Champion 1999 pun jatuh ke tangan Manchester United, melengkapi gelar juara Premier League dan FA Cup.

Yah, sebuah teguran untuk saya, saya rasa. Bahwa tak pernah ada kata menyerah sebelum semuanya benar-benar berakhir. Maka seharusnya tak ada putus asa sebelum perjuangan mencapai titik penghabisan. Maka seharusnya tak ada leha-leha sebelum jiwa meninggalkan raga. Sesungguhnya istirahat itu nanti, saat tak ada lagi waktu di dunia. Teriring doa untuk kemenangan Indonesia di final Tiger Cup pada 8 dan 16 Januari mendatang. Selamat berjuang, tim nasional kebanggaan dan kesayanganku!
 
posted by Yustika at 10:26 PM | Permalink | 1 comments