Bunda

Monday, March 12, 2007

Seberapa penting sosok seorang bunda buatku? Mmm, entah bagaimana menjawabnya. Benar sih, kalau dijawab penting. Tapi aku tidak bahagia dengan hubunganku dengan bundaku, karena hubungan kami sama sekali tidak hangat. Bahkan kadang-kadang aku menganggap hubungan ini hanya seperti formalitas belaka.

Dalam hidupku, sejak aku kecil, aku selalu melewati masa-masa krusial seorang diri. Tanpa sosok bunda, apalagi teman. Lho, emang bundaku ke mana? Ada sih, tapi sibuk bekerja. Setiap kali pulang, ia sudah terlalu lelah untuk berakrab-akrab dengan anak-anaknya, hingga kedekatan, kehangatan, diskusi, dan ruang berbagi itu hampir tak pernah ada.

Ketika aku SD, aku sering tampil menari di panggung kesenian. Setiap anak pergi diantar, ditemani, dan pulang bersama bundanya masing-masing. Di ruang ganti, setiap anak mengenakan pakaian tradisional dan melipatnya kembali dibantu para bundanya. Di panggung, ketika mereka menari, bundanya menyaksikan dari depan panggung atau mengintip-ngintip dari belakang panggung dengan mata berbinar. Aku? Sendirian, tentu.

Ketika aku SMP, aku dikucilkan oleh teman-teman sepermainan di sekolah. Aku merasa sangat sedih hingga tampak murung berhari-hari. Bundaku hanya memberiku tambahan uang saku karena dikiranya kurang materi lah yang bikin aku murung dan minder dengan teman-temanku. Padahal bukan itu intinya. Melewati hari-hari bertemu dengan teman-teman yang menyebalkan, aku lalui seorang diri.

Ketika aku SMA, aku mulai tidak percaya dengan teman perempuan (dari pengalaman masa SMP) sehingga aku banyak bergaul dengan teman laki-laki. Beberapa kali aku bermasalah dengan mereka (you know lah) *bahkan satu di antaranya sangat parah*, aku juga lalui seorang diri.

Ketika aku kuliah, aku sempat depresi karena kesulitan mengikuti perkuliahan. Telepon-telepon interlokal dari bunda yang kadang-kadang datang, hanya formalitas menanyakan kabar dan nilai-nilai perkuliahan. Telepon makin sering datang ketika orang tua mendapat surat sakti dari Pak Eniman tentang batas DO kalau aku nggak berhasil. Tapi ya cuma itu, selebihnya... aku lalui seorang diri.

Ternyata benar apa kata orang tentang hubungan dua orang yang saling berdekatan, pasti akan saling melihat kejelekan masing-masing dengan sangat mudah. Namun beda bila mereka berjauhan, yang diingat pasti cuma kebaikan-kebaikan dan ruang rindu yang tercipta.

Aku dan bundaku juga begitu. Sejak aku pulang ke Solo Desember lalu, sering sekali kami bertengkar. Bunda kecewa sama aku, aku juga kecewa sama bunda. Setiap hari diserangnya aku dengan siksaan verbal. Dan sungguh, barut luka verbal itu jauh lebih dalam daripada luka fisik, karena siksaan verbal itu menyerang jiwa. Dan lukaku makin bertambah-tambah mengingat hubungan kami sebelumnya tidak pernah hangat. Bunda terluka, aku juga terluka. Kini hubungan kami seperti mencapai titik nadir ketika pagi tadi bunda menolak untuk bicara denganku.

Bagi bundaku, anak kesayangan adalah sosok kakakku yang selalu tampak sempurna di matanya. Selalu baik dan tidak tercela, mungkin karena jauh di Bandung sana. Sementara buat ayahku, anak kesayangan berarti adikku. Adikku itu bener-bener daddy’s little girl. Lalu aku? Sendirian, tentu.

Aku sudah terlalu sering menjalani hidupku seorang diri. Tanpa sosok bunda, apalagi teman. Tapi tetap tak menyangka kalau hal ini begitu menyakitkan. Kalau sudah begitu, aku jadi berharap-harap akan tiba masanya aku pergi dari rumah ini.

Kini hubungan kami tak akan pernah sama lagi.

*Kisah hidupku membawaku pada satu muara: tekad untuk memberikan yang terbaik buat anak-anakku kelak. Segala yang aku punya: waktu, kasih sayang, kedekatan, kehangatan... apapun yang diperlukan agar mereka bisa berkata bahwa bunda mereka adalah bunda terbaik di dunia... meski itu berarti aku harus menjadi seorang ibu rumah tangga sekalipun.*

Labels: ,

 
posted by Yustika at 10:01 AM | Permalink |


3 Comments:


  • At 11:28 AM, March 12, 2007, Anonymous ilma

    Sabar ya Yus..
    kalo aku kecewa sama Bapakku,
    mungkin juga Bapakku kecewa sama aku..
    Kami jarang banget ngomong,
    kalo ngomong cuma formalitas,
    trus nyebelinnya Bapakku tu pinter bgt ngomong, ga bisa didebat, menangan dhewe..
    Nuntut orang jadi sempurna, padahal dia sendiri.. hiks..

    Tapi ya sudah,
    diterima sajalah

    Yang penting kitanya gmn,
    berusaha jangan mengecewakan orang2 yang kita sayangi..

    Take care yaa..
    Aku pengen maen ke rumahmu euy,
    ngeliat kamu sekarang..
    ndut ato rus??
    :P

     
  • At 2:10 PM, March 12, 2007, Blogger cikubembem

    kalo ak sih sbenernya ga ada masalah seperti itu. cuman bapakku tll otoriter aja. makanya maunya sejak kuliah tu keluar dr yogya (pengin ITB). sayangnya malah ketrima PBUD di UGM. orang lain ketrima PBUD seneng ya, kl ak malah sedih. Makanya begitu ke jepang ya, seneeeeeeeeeeeeeeeeeng banget. ga pernah ngerasa homesick blass.

    but, skr hrs pulang. tapi situasi udah berbeda kali ya. jadi nemenin ortu adalah salah satu alasanku pulang. kadang... berjauhan itu jg membantu menyelesaikan masalah

    yg sabar ya. semua yg kita alami emang harus dijadikan pelajaran hidup, krn harganya sangat mahal

     
  • At 1:56 PM, March 29, 2007, Anonymous agnes

    Duh..terharu bacanya, muara tika bagus sekali, teriring doa dariku yaa :-). Aku juga merasa yang sama, tapi nggak separah tika, hanya merasa nggak hangat aja dengan ortu. Satu hal yang penting banget tika setelah aku jadi ibu, cara komunikasi, kalo bisa suatu saat nanti ikut pelatihannya bu elly risman dari yaysan buah hati jakarta ya, kalo udah hamil or sebelum anak bisa ngomong deh, bagus banget, oke :-)