Tuesday, August 28, 2007

Ah, Sayang...

Dan beberapa kecupan pun melintas kala tanganku sibuk dengan bak cuci piring atau masakan di atas kompor, di sela perjalananmu melewati dapur...
Belaian dan sentuhan lembut juga sering mampir di tengah langkahmu menyalakan televisi...
Juga pelukan hangat yang menyertai serunya balapan MotoGP atau pertandingan sepak bola...
Selalu seperti itu...
Perhatian-perhatian yang tampak sepele namun sebenarnya sangat berarti...
Mencerahkan hari-hari dan membuat kasihmu terasa nyata...
Ah, Sayang...
Kau membuatku jatuh cinta habis-habisan...

Refleksi

Catatan-catatan kecil kutemukan...
Catatan-catatan yang kutulis di Tumaritis, satu setengah tahun yang lalu...

Lembang, 1 Desember 2005

Yang paling aku inginkan tapi tidak pernah aku dapatkan: kebahagiaan menjadi diri sendiri.

Yang tidak bekerja dengan efektif dalam hidupku sehingga aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan: rasa bersyukur kurang, motivasi kurang.

Nilai-nilai positif yang perlu kukembangkan dalam diriku agar aku mendapatkan apa yang aku inginkan: rasa bersyukur, positive thinking.

Resiko yang siap kubayar untuk mendapatkan apa yang aku inginkan: mengubah paradigma dan sudut pandang diri.

Dukungan yang kuminta: mau menerimaku apa adanya, membuatku merasa dibutuhkan dan disayang.

Lembang, 2 Desember 2005

Apa yang selama ini paling menyakitkan adalah ketika aku harus memakai topeng kepura-puraan, merasa tidak dicintai, merasa tidak bahagia, dan tidak bersyukur.

Apa yang selama ini paling aku ingkari adalah perasaan membutuhkan orang lain, perasaan ingin dicintai dan dipahami.

Apa yang paling aku cintai adalah kebahagiaan memberi dan kebahagiaan mencintai, baik buat diri sendiri maupun orang lain.

Apa yang paling aku inginkan adalah dipahami apa adanya, didukung dalam suka dan duka / benar dan salah, dilindungi, serta dicintai.

Apa yang paling ingin aku berikan terhadap orang lain adalah kebahagiaan mereka, ketika aku bisa memenuhi ekspektasi mereka.

Apa yang paling aku inginkan adalah bahagia dunia dan akhirat.

Cikarang, 30 Juli 2007

Dibanding diriku di Tumaritis, aku merasa diriku yang sekarang sudah sedikit banyak berubah. Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Aku lebih bahagia dan menikmati hidup, lebih bersyukur dengan apa yang ada. Aku menikmati hari-hari yang mengalir, berusaha mengambil hal-hal positif di sekelilingku, paling tidak aku selalu tersenyum setiap pagi... ketika menengok keluar jendela dan mendapati bunga-bunga di petak tamanku bermekaran.

Perubahan yang paling kurasakan: aku merasa sangat dicintai oleh orang-orang terdekatku. Aku berdamai dengan bundaku, berusaha memahami beliau apa adanya, bahkan menangis karena merindui beliau dan menyadari cinta beliau yang luar biasa *hmm, jadi ingat hari-hari yang telah lampau, yang penuh dengan pertengkaran dan pemberontakan*.

Aku bahagia dengan diriku, tidak ngoyo dalam menjalani hidup, berusaha pasrah dan ikhlas sambil terus berusaha. Kalau teman-teman lain sudah banyak yang bekerja di Telkomsel, Ericsson, Nokia, atau perusahaan-perusahaan top lainnya... so what gitu lohh. Kalau teman-teman lain sudah banyak yang punya baby... ah, giliranku juga akan tiba. Ternyata sabar dan ikhlas dengan ketentuan Allah itu asyik. Bikin hidup lebih nikmat. Nggak munafik sih, aku masih suka nangis kalau ada hal yang disesali. Tapi belaian dan pelukan suami selalu jadi obat mujarab untuk bangkit lagi. Tak lupa juga berdoa sama Allah.

Subhanallah, hidup ini indah sekali.

Saturday, June 16, 2007

Cincin


Kalau ada perhiasan yang aku suka, itu adalah cincin. Dari dulu aku suka pakai cincin. Dibanding gelang atau kalung, aku lebih suka pakai cincin. Sampai hari ini, ada empat cincin yang paling aku sayangi.

Yang pertama, cincin perak berukir yang dibelikan kakak laki-lakiku saat usiaku 13 tahun. Cincin perak itu oleh-oleh dari Bali. Cincin ini sebenarnya udah patah, tapi sampai sekarang masih kusimpan baik-baik karena buatku ia monumental, tanda kasih dari kakak tersayang.

Yang kedua, cincin emas bermata batu akik hijau pemberian Mami. Cincin ini ada ceritanya sendiri: emasnya hadiah dari bank tempat Mami menyimpan tabungan, sedangkan batu akik hijaunya pemberian kakek. Mendiang kakekku dulu sering mengumpulkan batu akik mentah yang kemudian diasah sendiri hingga mengkilat. Jadi, cincin ini juga monumental banget.

Cincin yang ketiga adalah cincin emas putih yang paling sering kupakai. Cincin ini dari Mami juga, bentuknya unik, rada meliuk di bagian mata cincinnya. Gara-gara dibelikan cincin ini, sekarang aku jadi ngefans banget sama emas putih.

Nah, cincin yang keempat ini adalah cincin yang paling baru. Apalagi kalau bukan cincin nikah :D Cincin ini kupesan di Jakarta bareng suami. Modelnya sama dengan punya suami, tapi bahannya lain: punyaku emas putih, punya dia perak. Aku sayang banget sama cincin ini. Di saat-saat kangen suami seperti sekarang ini, aku jadi sering memandang dan mengelus cincin nikah. Sambil berpikir, nun jauh di sana... suami sedang apa ya?

Aku nggak pernah bermaksud menggantikan kedudukan seseorang dengan benda. Tapi buatku... membawa sebagian dari benda-benda kenangan tentang seseorang, sedikit banyak membuat orang itu “lebih hidup” di dalam hatiku dan mengobati kerinduanku padanya. Maka jangan heran kalau aku suka sekali mengoleksi foto dan benda-benda yang mengingatkan aku pada orang-orang yang aku kasihi.

Hehe, jadi ingat: kalau suami belum juga pulang dari kantor dan aku udah kangen banget, biasanya aku meluk-meluk bantal yang sering dipakainya tidur, buat ngobatin kangen. Huahhh, udah nggak sabar pengen ketemu suami. Seminggu lagi, aku akan bisa memeluknya kembali.

Foto: Cincin nikah milik aku dan suami.

Wednesday, June 13, 2007

Dan Setiap Hari Aku Semakin Mencintainya

Untuk senyum mentari yang diberikannya setiap pagi
Untuk kecupan hangat yang diberikannya setiap malam sebelum tidur
Untuk pijatan pelepas penat setiap kali sakit punggungku kambuh *padahal aku tahu kau juga lelah, Sayang*
Untuk segala peluk dan belai peneduh gundah
Untuk kesabaran seluas samudra tak bertepi
Untuk kasih sayang yang tiada berbatas
Terima kasih pada-Mu karena telah mengirimkannya padaku

Dan setiap hari aku semakin mencintainya

Foto Pernikahan


Aku tu paling suka lihat foto pernikahan atau foto prewedding yang mesra. Apalagi kalau foto itu ”dapat banget” momennya. Wuihh, serasa ngelihat fairytale aja deh...

Dulu sebelum nikah, aku suka buka-buka majalah pernikahan dan jalan-jalan ke berbagai wedding site. Di sana banyak foto mesra yang bagus-bagus, sekedar buat inspirasi kapan-kapan kalau difoto *FYI, aku juga suka difoto :p*. Ternyata kebiasaan itu keterusan sampai sekarang. Kemarin aku habis lihat wedding site-nya seorang teman. Foto-fotonya keren-keren. Oprah calls them: ”the kodak moments”.

Btw foto-foto pernikahanku kutaruh di beberapa tempat. Tapi yang resmi ada di wedding site-ku. Sayangnya jumlah foto yang bisa ditaruh di situ terbatas, jadi versi yang lebih banyak ada di multiply-ku. Please enjoy them...