Thursday, March 20, 2014

Tesis

Rabu, 19 Februari 2014 menjadi hari yang mendebarkan dalam hidupku, karena hari itu aku melakukan ujian sidang tesis tertutup untuk mempresentasikan tesisku yang berjudul “Penerapan Metrik Keamanan Mean Time-to-Compromise dan VEA-bility dalam Pemeriksaan Keamanan Jaringan Komputer”. Untungnya tiga dosen yang siang itu menguji bersikap santai. Ujian juga diawali dengan canda tawa. Lumayan lah untuk mencairkan suasana dan meredakan degup jantung yang tak karuan sedari pagi. Ketika lambat laun ujian berubah menjadi serius, aku sudah dapat menguasai diri dengan baik.

Draft tesis, awal Februari 2014

Tesisku bercerita tentang pemeriksaan keamanan jaringan (network security audit) dengan pengukuran yang menggunakan metrik keamanan yang sudah ada. Hasil akhir pengukuran berupa nilai numerik yang kuantitatif sehingga mudah dipahami oleh sebagian besar pengguna, bahkan yang awam sekalipun. Hasil dari pemeriksaan dapat dijadikan rekomendasi untuk penilaian kelayakan keamanan jaringan dan referensi untuk menentukan kebijakan terkait dengan pengelolaan jaringan komputer.

Aku mengerjakan tesis ini selama dua semester dua bulan, sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Semester pertama aku disibukkan dengan membaca jurnal penelitian sampai botak, setelah itu penelitian baru dilakukan secara resmi pada semester kedua. Alhamdulillah sangat dimudahkan Allah, baik dalam proses pengambilan dan pengolahan data, penulisan laporan, masa-masa bimbingan, sampai akhirnya ujian sidang.

Ketika akhirnya aku dinyatakan lulus, aku langsung mengungkapkan perasaan bahagia dengan memesan beberapa buku sekaligus, dari sebuah toko buku online dan dari beberapa orang teman. Yap, membaca buku itu menyenangkan. Dan kurasa hobi ini bisa menjadi pelipur setelah bosan membaca jurnal penelitian selama berbulan-bulan :D

Ngeborong buku, tiga buku di kanan adalah karya Adenita, seorang teman yang berbakat :)

Sebagai bentuk penghormatan kepada teman-teman seangkatan karena telah membantuku melewati masa perkuliahan dengan pertemanan yang luar biasa, aku mengundang mereka pada syukuran kelulusan di Warung Pasta. Sayangnya hanya sedikit yang datang, mengingat sebagian besar dari mereka sedang berada di luar Bandung. Yo wis ra popo, sing penting seneng yo, Cah :)

Makan-makan di Warung Pasta. Dari kiri ke kanan: Oktaf, Syawal, Kun, Ncie, dan Anti.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas kemurahan-Nya.

Wednesday, March 19, 2014

Mengurus Mutasi SIM

Sudah lama aku ingin mengurus proses mutasi SIM untuk mengubah status SIM Solo menjadi SIM Bandung, karena sejak 2012 lalu KTP-ku sudah resmi berubah menjadi KTP Bandung. Karena alasan malas dan belum merasa statusnya mendesak, aku menunda-nunda terus urusan ini. Kemudian kesibukan mengejar tenggat tesis beberapa bulan ini, sukses membuatku lupa sama sekali pada urusan mutasi.

Akhirnya beberapa hari menjelang ulang tahunku yang ke-32, setelah semua urusan revisi tesis dan persyaratan wisuda selesai, aku menyempatkan diri mengurus mutasi. Selain juga karena terdesak oleh masa berlaku SIM yang akan segera habis, hehe. Mulailah aku berkunjung ke kantor Satlantas Bandung di Jl. Jawa dan menanyakan bagaimana mengurus mutasi SIM. Oh, ternyata harus ada berkas-berkas yang dikirim dari Satlantas Solo. Maka aku menghubungi Mami untuk membantu mengurus berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.

Syarat untuk mendapatkan berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo:
  • Fotokopi KTP Bandung.
  • Fotokopi SIM A yang dikeluarkan Satlantas Solo.
  • Fotokopi SIM C yang dikeluarkan Satlantas Solo.
Masing-masing satu lembar saja.

Rabu, 12 Maret 2014, aku meluncur ke Jl. Jawa. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi ketika aku muncul di loket pendaftaran. Ternyata berkas Kartu Keluarga ketinggalan, Saudara-saudara! Nggak ngeh juga kalau harus melampirkan itu. Setelah pulang pergi ke rumah mengambil KK yang ketinggalan, jam 11 kurang aku sudah tiba kembali dan siap memulai proses mutasi. Jadi begini alurnya:

Pemeriksaan kesehatan
Satlantas Bandung tidak menyediakan pos pemeriksaan kesehatan, tapi kita bisa datang ke praktek dokter di Jl. Nias Dalam untuk mendapat surat keterangan sehat. Letaknya tidak jauh dari situ, dan tempat itu sudah jamak didatangi para pemohon SIM. Proses periksanya pun cepat sekali, rasanya hanya untuk formalitas belaka. Pemohon akan diperiksa tekanan darah, tes buta warna, tes mata, penimbangan berat badan, serta pengukuran tinggi badan dalam waktu kurang dari lima menit. Syaratnya hanya membawa KTP asli.

Loket 8 (Arsip)
Kemudian aku melapor kedatangan ke bagian Arsip untuk mendapatkan surat keterangan mutasi. Persyaratan yang dibawa:
  • Berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi KK.
  • Fotokopi SIM A yang dikeluarkan Satlantas Solo.
  • Fotokopi SIM C yang dikeluarkan Satlantas Solo.
Tunggu sampai nama dipanggil.

Loket Asuransi
Selanjutnya membayar asuransi seharga Rp 30.000,00 untuk masing-masing SIM. Persyaratannya adalah berkas yang tadi kita dapat dari Loket Arsip, yaitu:
  • Berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.
  • Surat keterangan mutasi dari Loket Arsip.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi KK.
  • Fotokopi SIM A yang dikeluarkan Satlantas Solo.
  • Fotokopi SIM C yang dikeluarkan Satlantas Solo.

Loket Pendaftaran
Karena prosesnya mutasi, di loket pendaftaran masuk ke bagian pendaftaran perpanjangan SIM, bukan membuat SIM baru. Persyaratannya:
  • Berkas pengantar mutasi dari Satlantas Solo.
  • Surat keterangan mutasi dari Loket Arsip.
  • KTP asli.
  • SIM A asli.
  • SIM C asli.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi KK.
  • Fotokopi SIM A.
  • Fotokopi SIM C.
  • Struk pembayaran asuransi dari Loket Asuransi.

Loket Bank BRI
Semua berkas pendaftaran dibawa ke Loket Bank BRI di ujung koridor, lalu tunggu nama dipanggil. Setelah dipanggil, aku membayar biaya perpanjangan SIM A sebesar Rp 80.000,00 dan biaya perpanjangan SIM C sebesar Rp 75.000,00. Lalu oleh teller bank aku diarahkan untuk menuju ke Loket 6A.

Loket 6A
Loket ini adalah loket pengambilan foto dan sidik jari untuk para pemohon perpanjangan SIM. Jangan lupa bawa pulpen dari rumah ya. Setelah nama dipanggil, aku mengisi formulir data diri, baru kemudian difoto dan dipindai sidik jarinya. Kemudian langsung menuju loket pengambilan SIM.

Loket Pengambilan SIM
Proses pencetakan SIM sama sekali tidak lama. Baru juga membaca beberapa percakapan di Whatsapp, namaku sudah dipanggil untuk menerima SIM baru. Yeay, akhirnya resmi sudah aku mengantongi SIM A dan C dari Satlantas Bandung.

Beberapa hal yang aku garis bawahi dari proses di atas:
  • Pelayanannya cepat dan ramah. Aku masuk pukul 11 kurang, dan keluar pukul 12.25. Artinya pengurusan mutasi ini bahkan tidak sampai dua jam! Merasa amazed deh.
  • Petugasnya baik dan tanggap. Ada cerita lucu: aku sempat nyasar di Loket 6, yaitu loket pengambilan foto dan sidik jari untuk para pemohon SIM baru. Saking baiknya, petugas dari Loket 6A mencariku sampai ke loket ini ketika aku tak kunjung muncul ketika namaku dipanggil di Loket 6A.
  • Aku hampir tak melihat adanya calo dari luar, kecuali mungkin beberapa oknum orang dalam yang membantu memuluskan antrian beberapa pemohon yang “membayar lebih” (you know lah, ehehe). Sangat berbeda dengan pengalaman di masa lampau di mana calo sangat mudah ditemui di tiap sudut.
  • Semua pembayaran dilakukan di loket resmi, dengan kuitansi resmi. Tidak ada pungutan liar sama sekali.

Kuitansi resmi

Rincian biayanya sebagai berikut:
  • Pemeriksaan kesehatan Rp 40.000,00
  • Asuransi SIM A Rp 30.000,00
  • Asuransi SIM C Rp 30.000,00
  • Perpanjangan SIM A Rp 80.000,00
  • Perpanjangan SIM C Rp 75.000,00
Total Rp 255.000,00 untuk dua SIM. Puasss banget deh. Senang rasanya mengurus sendiri kalau pelayanannya memuaskan seperti ini :)

Monday, December 09, 2013

Destinasi Lampung

Tanggal 22-24 November lalu aku sekeluarga berpelesir ke Lampung. Awal mulanya karena mendapat undangan pernikahan dari seorang sahabat. Lalu diputuskan saja untuk berjalan-jalan sekalian, memberikan pengalaman baru bagi anak-anak karena mereka belum pernah naik kapal. Sekaligus pengalaman baru bagi bundanya yang belum pernah menginjak tanah Sumatra, hehe.

Sempat menyusun itinerary dadakan. Way Kambas yang merupakan destinasi usulan dari suami terpaksa dicoret karena jaraknya 110 kilometer dari Bandar Lampung, aku khawatir suami dan anak-anak bisa kecapekan. Pengenalan medan yang nihil membuatku tak muluk-muluk mencari destinasi wisata. Yang penting tak jauh dari Bandar Lampung agar tubuh cukup beristirahat, mengingat suamiku bersikeras menyetir mobil sendiri tanpa sopir.

Jumat, 22 November selepas sarapan kami berangkat. Cuaca cerah sepanjang jalan. Tepat dhuhur kami tiba di Serpong, makan siang sambil beristirahat sejenak. Alhamdulillah anak-anak tidak rewel dan menikmati perjalanan. Sekira pukul 14.00 kami tiba di pelabuhan Merak. Antri kapalnya tidak lama, tapi perjalanan menyeberangnya cukup lama. Kapal feri yang jalannya sangat pelan itu menempuh perjalanan kurang lebih dua jam untuk jarak tempuh yang hanya 25 kilometer, dan membutuhkan waktu satu jam untuk antri bersandar di dermaga. Waktu sudah hampir maghrib ketika roda mobil menggelinding keluar dari pelabuhan Bakauheni.

Melihat laut

Riang di atas kapal

Perjalanan berikutnya menuju kota Bandar Lampung memakan waktu sekira 2,5 jam melewati pedesaan Lampung yang cukup eksotis—setidaknya di mataku, hehe—karena jalanan yang dilewati tidak terlalu mulus dan cukup gelap tanpa penerangan. Tepat pukul 20.00 kami tiba di Hotel Grande, Jl. Raden Intan. Hotel ini kami pilih atas rekomendasi temanku yang akan menikah itu. Letaknya di pusat kota, murah meriah, dan cukup nyaman. Kami menyewa kamar family suite seharga 550 ribu per malam di hotel berbintang satu ini selama dua malam. Karena letaknya di pusat kota, tak susah mencari warung makan. Tinggal menyeberang jalan saja kami sudah menemukan warung makan sederhana yang murah meriah.

Sabtu, 23 November jalan-jalan dimulai. Seusai sarapan yang diakhiri dengan ngemil pisang goreng enak (tak heran, Lampung terkenal akan pisangnya, bukan?), mobil meluncur ke arah selatan, menyusuri Jl. RE Martadinata menuju deretan pantai di Kabupaten Pesawaran. Jalan menuju ke sana bersisian dengan bibir pantai berpasir putih, jalannya mulus namun sempit dan berliku. Tanjakan dan tebing yang curam meliputi sepanjang jalan. Deretan bukit dan batu kapur menampakkan keindahan yang tiada tara. Aihh, baru mengintip dari jendela mobil saja aku sudah berdecak kagum. Bingung mencari-cari antara Pantai Klara 1 atau 2, akhirnya kami malah mendarat di Pantai Lembing sebagai pemberhentian pertama. Pantai ini berada di area markas TNI AL, suasananya sepi sekali. Hanya beberapa penduduk lokal terlihat memancing di beberapa titik, dan ada beberapa turis lokal mengajak anaknya bermain air di tepian. Masuk ke sini dikenai biaya 10 ribu per mobil dan 15 ribu untuk menyewa saung tempat duduk-duduk di pinggir pantai.

Jalanan menuju Kabupaten Pesawaran (foto diambil dari sini)

Dari balik jendela mobil

Pantai Lembing yang sepi

Pemberhentian berikutnya adalah Pantai Klara 1 yang sebenarnya sudah kami lewati dalam perjalanan ke Pantai Lembing tadi. Dari Bandar Lampung, perjalanan ke Pantai Klara 1 yang berjarak 25 kilometer memakan waktu 1,5 jam. Pantai Klara merupakan singkatan dari Kelapa Rapat, karena sangat banyak pohon kelapa yang jaraknya saling berdekatan satu sama lain sehingga membentuk peneduh bibir pantai, biaya masuknya 25 ribu per mobil (sudah termasuk sewa saung sepertinya). Pantai ini sangat cocok untuk destinasi wisata keluarga. Ombaknya tidak besar karena terletak di sebuah teluk yang dilindungi gugusan kepulauan di kejauhan—salah satunya adalah pulau Kelagian—sehingga tidak membahayakan anak-anak yang bermain air dan menceburkan diri ke pantai. Pasirnya putih dan lembut, dan jumlah wisatawan pun tidak terlalu banyak (entah memang biasanya begitu atau karena kami ke sini pas bukan musim liburan). Malas juga kan, berlarian di pantai bertabrakan dengan banyak orang. Untungnya hal itu tidak terjadi. Hanif berkesempatan berlarian dan mengeksplorasi bibir pantai sepuasnya.

Suasana Pantai Klara (foto diambil dari sini)

Deretan saung di tepian Pantai Klara (foto diambil dari sini)

Ceria di Pantai Klara

Hanif asyik bermain

Belum puas bermain pasir, suamiku mengajak menyewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Kelagian (sewa perahunya 150 ribu). Keputusan yang belakangan tidak kusesali, meski sebelumnya sempat khawatir mengajak balita menyeberang laut teluk, karena ternyata Pulau Kelagian ini indah sekali. Baru kali ini aku menginjak pantai seindah itu. Perjalanan berangkat menyeberang menghabiskan waktu setengah jam karena ombak sedang besar sehingga laju perahu tak bisa cepat. Riak-riak air asin bercipratan ke seluruh wajah dan tubuh, memaksa Dek Abi mengernyitkan mata berkali-kali. Badan perahu terombang-ambing seru laksana wahana roller coaster, membuat hatiku berdesir takut namun excited.

Menyeberang ke Pulau Kelagian

Berkunjung ke Pulau Kelagian bagai memiliki pulau sendiri. Pulau yang dikelilingi oleh hamparan laut ini airnya jernih dan berwarna hijau toska, suasananya sangat perawan dan alami. Di sini disediakan penyewaan saung, pelampung, ban renang dan banana boat bagi pengunjung yang ingin mengeksplorasi keindahan laut. Biaya menapakkan kaki di pantai ini 10 ribu per perahu (ada yang bilang 3 ribu per orang). Pulau ini memiliki pasir putih yang sangat halus laksana bedak, suguhan ombaknya tenang. Dengan pemandangan yang masih natural, kita dapat memanjakan mata menikmati teduhnya mangrove dan bermain pasir. Karena airnya bening sekali, setiap pengunjung pasti tergoda menceburkan diri. Aku, suamiku, dan Hanif sibuk bermain air, sementara Bulik Nur dan Dek Abi berjalan-jalan di atas pasir. Sayang sekali ponselku kehabisan baterai beberapa saat setelah perahu tertambat, sehingga sedikit sekali foto yang bisa kuambil.

Aktivitas yang paling populer di pulau ini adalah snorkling, memancing, atau hanya berjemur di pasir putihnya yang bersih dan halus. Terumbu karangnya masih bagus, utuh, serta belum terjamah. Sayang kami tak sempat lama singgah di pulau ini. Salah strategi pula, karena sebelumnya aku tak sempat berganti baju renang hingga tak puas berenang-renang.

Suasana Pulau Kelagian (foto diambil dari sini)

Jernihnya perairan Pulau Kelagian (foto diambil dari sini)

Pulau Kelagian yang menawan (foto diambil dari sini)

Dermaga Pulau Kelagian

Perjalananan kembali ke tepian Pantai Klara hanya memakan waktu 15 menit karena tak ada ombak. Hanif langsung menghambur kembali untuk bermain pasir. Beberapa saat sesudahnya kami berganti pakaian yang basah dengan membayar 3 ribu per orang di tempat pembilasan. Seharian bermain di pantai sangat menyenangkan, meskipun kalau boleh memilih, inginnya berlama-lama sampai sore.

Pukul 16.00 kami sudah tiba kembali di Bandar Lampung. Menjelang maghrib, Hanif masih saja minta ditemani berenang di kolam renang hotel, untung aku membawa baju renang cadangan yang sedianya untuk Dek Abi (ternyata Dek Abi sama sekali tak mau menyentuh air, hihihi). Malamnya kami berkeliling kota naik mobil dan sempat singgah sebentar di pasar malam yang digelar di ruas Jl. Jend. Ahmad Yani. Di situ dijual beberapa kuliner tradisional, sayangnya dompet ketinggalan di mobil sehingga kami tak sempat menyicipnya.

Minggu, 24 November setelah check out, kami bertolak ke Auditorium Museum Lampung untuk menghadiri akad nikah temanku. Sekira pukul 09.30, mobil sudah melaju kembali di Jl. Raya Lintas Sumatra untuk menuju pelabuhan Bakauheni. Perjalanan dengan kapal feri agak membosankan karena aku terserang mabuk laut. Anak-anak riang saja mengitari kapal bersama ayahnya, sementara aku duduk diam meredakan pusing. Sampai di Bandung lagi sekitar pukul 19.00, setelah menempuh perjalanan selama sepuluh jam (lebih cepat dua jam dari perjalanan berangkat karena kami tak lagi terdampar di Serpong), menyisakan kepenatan sekaligus pengalaman seru nan menyenangkan menjelajah Lampung untuk pertama kalinya.

Bersama pengantin

Foto-foto lengkap ada di sini (di-set “friends only”).
Artikel menarik tentang Lampung ada di sini.

Monday, August 26, 2013

Mastitis

Tiga hari menjelang ulang tahun Hanif yang ke-5 pada 16 Juni 2013, aku terkena mastitis.

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh kuman atau bakteri. Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber: tangan ibu, mulut bayi, tangan orang yang merawat ibu atau bayi, bayi, duktus laktiferus, atau darah sirkulasi. 

Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi. Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih. Untuk infeksi, organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid. (dikutip dari sini)

Jadi ceritanya, siang itu selepas kelas pilates, aku pergi ke kantor Oriflame untuk mengurus pesanan. Sudah ada sedikit rasa nyeri di payudara kiri, awalnya kupikir itu karena otot yang tertarik akibat kelas pilates sebelumnya. Ketika sedang duduk manis menanti antrian, tiba-tiba badan terasa kedinginan. Lama-lama menggigil, diikuti dengan tangan berkeringat, lutut gemetar hebat, dan sendi-sendi terasa kaku. Barulah tahu, pasti ada yang tidak beres dengan badan ini.

Perjalanan pulang dilalui dengan penuh perjuangan. Menahan nyeri yang semakin sakit sambil berusaha tetap sadar dengan kesadaran sepenuhnya karena harus menyetir mobil sendiri. Fyuuuhhh, kalau diingat-ingat rasanya luar biasa. Apalagi lutut yang gemetar dan sendi yang kaku mempersulit kaki ini untuk mengatur persneling dan rem, sampai mesin mobil sempat mati dan ban mobil sempat sedikit naik ke atas trotoar karena jalan mobil tidak dapat dikuasai dengan baik.

Waktu itu memutuskan untuk mengarahkan laju mobil ke kantor, karena selain ada janji dengan teman, jam menjemput Hanif masih lama. Barangkali bisa istirahat sambil memeriksakan diri di kantor. Ternyata sampai di kantor, badan sudah panas tinggi hingga 40 derajat celcius. Ditambah dengan pusing yang kemudian mendera, jadilah aku cuma bisa berbaring di klinik kantor. Para perawat di kantor mengira aku terkena demam berdarah. Sementara aku curiga ini mastitis, karena nyeri di payudara semakin menjadi dan benjolannya semakin keras. Dalam hati aku khawatir juga kalau terkena DB, bisa-bisa rencana acara ulang tahun Hanif bubar, padahal aku sudah memesan kue dan berniat menyiapkan goody bag untuk teman-temannya.

Selama dua hari berikutnya aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Untuk berdiri dan berjalan pun susah karena harus menahan sakit kepala, makan juga tak ada nafsu. Terpaksa memanggil suami pulang untuk ikut mengurus anak karena aku benar-benar tak bisa apa-apa. Masya Allah, baru kali itu aku mengalami kejadian seperti itu. Tak ada hal lain yang aku lakukan kecuali terus-terusan mengompres dan memijat payudara agar benjolannya memudar.

Alhamdulillah tepat pada hari ulang tahun Hanif, aku bisa bangun. Masih pusing sedikit, tapi aku sudah dapat bepergian untuk berbelanja keperluan goody bag. Jadi begini to rasanya kena mastitis itu. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Aku baru tahu bahwa mastitis bisa juga menyerang ibu yang payudaranya tidak sedang terisi penuh. Selama ini kukira mastitis hanya menyerang ibu-ibu yang payudaranya penuh (terbendung) hingga bengkak. Untuk kasus mastitisku, mungkin sumbatan pada saluran ASI-lah penyebabnya. Satu lagi ilmu baru yang diperoleh melalui learning by doing dengan cost of learning yang luarrr biasa :D

Monday, June 17, 2013

Perjalanan Jiwa

Dalam perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa pribadiku turut bermetamorfosis seiring dengan makin bertambahnya usia. Mulai dari pribadi yang meledak-ledak kala remaja, lalu menjadi pribadi yang gloomy dan serba negatif saat kuliah hingga hamil anak pertama, kemudian berproses menjadi pribadi yang jauh lebih baik saat ini ketika sudah menjadi emak beranak dua. Mengapa bisa dikatakan lebih baik? Karena di usia 30-an sekarang ini, aku merasa jiwaku telah bertumbuh, aku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, serta menjadi pribadi yang lebih bahagia. Alhamdulillah.

Aku lupa kapan persisnya atau momen seperti apa yang membuatku berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Yang jelas, sekarang aku mensyukuri setiap detik hidupku, memilih untuk bereaksi positif terhadap berbagai keadaan, serta memilih untuk mengambil hikmah dari apapun, bahkan dari suatu hal pahit sekalipun. Jadi jangan heran kalau sekarang aku tetap tersenyum ketika menghadapi kemacetan, atau masih bisa tertawa kala anak bertengkar. Meskipun sekali-sekali kelepasan, aku rasa itu wajar saja karena aku juga manusia :D

Episode hidup yang membahagiakan ini (halah! :D) tentu tidak datang dengan sendirinya. Mungkin juga karena aku sudah bertambah tua, hahaha. Ada beberapa pelatihan bagus yang pernah kuikuti, yang berhasil mengubah sudut pandangku dalam memandang kehidupan.

Pelatihan yang pertama adalah SIAware 8 (Self Insight Awareness 8) yang diadakan oleh IA-ITB. Di pelatihan ini aku belajar menggali masalah dari dalam diriku sendiri, dan pelatihan ini membuatku menyadari bahwa keluarga adalah akar dari segala eksistensi diri. Seperti apa kita, masalah apa yang kita bawa, semua berawal dari keluarga. Pelatihan ini kuikuti pada akhir 2005. Sebagian catatan pelatihan yang tertinggal bisa dibaca di sini.

Pelatihan kedua yang menurutku juga bagus adalah pelatihan Amazing Communication-nya Bunda Rani Razak Noe’man, kuikuti pada Maret 2013. Dari pelatihan ini aku belajar dua teknik penting untuk berkomunikasi dengan anak (bisa dipraktekkan untuk berkomunikasi dengan sesama orang dewasa juga). Nama tekniknya adalah Mendengar Aktif (MA) untuk membangun jembatan komunikasi dengan anak, dan Pesan Diri (PD) untuk memarahi atau melarang anak dengan cara yang elegan. Memarahi di sini dalam tanda kutip ya, karena caranya dengan penuh kasih, tanpa emosi, dan tanpa berteriak. Dua cara ini sangat efektif untuk membuat anak menurut dan memiliki kedekatan hubungan dengan kita sebagai orang tua. Pemaparan lebih lanjut tampaknya harus dibuat dalam tulisan tersendiri karena cukup panjang.

Pelatihan berikutnya adalah pelatihan Self Emotional Healing, masih oleh Bunda Rani, kuikuti pada April 2013. Dari pelatihan ini aku belajar tentang konsep mindful life, yaitu hidup yang dijalani dengan menerima diri kita apa adanya, penuh syukur, menikmati setiap momen, menghargai diri, dan berdamai dengan masa lalu. Teknik yang diajari ada dua, yaitu Self Nurture (SN) dan Self Coaching (SC). SN mirip dengan self hypnosis, merupakan suatu terapi bagi jiwa dan bertujuan untuk membersihkan diri dari residu masa lalu. SC adalah suatu bentuk teknik untuk mengenali perasaan dan kebutuhan diri, mengenali akar dari perasaan/kebutuhan, kemudian merespon dengan aksi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Yang membuat pelatihan ini “wow” buatku adalah bagaimana kita diilhami dengan kesadaran bahwa diri kita begitu berharga dan kita berhak untuk bahagia. Oh yess, bahagia itu dipilih, Saudara-Saudara. Kitalah yang memilih respon kita dalam menghadapi kehidupan, mau bahagia atau mau sedih. Kitalah yang memilih untuk tersenyum, entah seberapa pahitnya keadaan yang kita hadapi. Karena seorang bunda yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia. Indah sekali, bukan?

Alhamdulillah tiga pelatihan powerful yang pernah kuikuti di atas meninggalkan bekas positif dalam hati sehingga bisa menjadikanku pribadi yang bahagia seperti saat ini. Pernah ketika suatu hari aku merasa titik emosiku turun hingga ke titik nadir (aku menyebut saat seperti itu sebagai “momen sumbu pendek” karena amarahku gampang tersulut) dan tingkah aktif Hanif yang sederhana sekalipun berhasil membuatku uring-uringan, maka aku mulai meraba-raba ke dalam diri: apa yang salah? Apa yang membuat diriku yang bahagia ini menjadi hilang kesabaran? Momen sumbu pendek menjadi semacam alarm bagiku untuk instropeksi emosi. Dan ternyataaaa, beberapa hari kemudian aku kedatangan tamu bulanan. Legalah diriku: berarti bukan aku yang kesulitan menata emosi, melainkan memang ada saatnya emosi babak belur ketika PMS datang. Dimaklumi saja lah yaaa :D

Memang ada masanya emosi atau kesabaran menurun, kita kan juga manusia. Pasti ada saja hal-hal yang membuat mood kita berantakan. Tak masalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana keluar dari keterpurukan itu dengan cantik dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebagai penutup, ada tautan menarik di sini. Semoga kita senantiasa mengabaikan hal-hal negatif yang tak penting dalam hidup dan merasa bahagia dengan diri kita apa adanya.