Monday, March 10, 2008

Terima Kasih, Sayang…

Badanku penat sekali setiba di Cikarang siang itu. Aku langsung melongo melihat taman depan yang dipenuhi ilalang dan rumput liar setinggi betis. Suamiku cuma nyengir. “Jangan lebih kaget kalau melihat ruangan di dalam,” katanya sambil membukakan pintu.

Masya Allah… mau tak mau aku geleng-geleng. Kok bisa dia tinggal di rumah yang keadaannya seperti itu. Lantai kotor sekali. Baju-baju bersih yang belum disetrika terbagi atas beberapa tumpukan, diletakkan secara sembarangan di atas kursi ruang tamu dan di atas lantai. Dapur juga tampak berdebu, sementara tumpukan baju kotor di sudut ruang belakang menanti untuk dicuci. “Minggu ini nggak ada waktu buat bersih-bersih, Sayang,” katanya dengan nada meminta maaf.

Aku yang sudah teramat letih hanya bisa diam. Perasaanku bercampur antara geli, sebal, dan terenyuh. Geli membayangkan dia bersih-bersih rumah sendirian, sesuatu yang teramat jarang dia lakukan semasa tinggal berdua denganku. Sebal karena membayangkan hari itu akan aku habiskan untuk bersih-bersih rumah yang sedemikian kotor. Terenyuh karena aku merasa tak berdaya mengurusnya dan melakukan hal-hal yang seharusnya aku lakukan untuknya, akibat jarak yang terpisah Bandung-Jakarta.

Aku beranjak ke kamar untuk merebahkan diri, berkata sambil lalu, “Akan aku bersihkan, tapi nanti. Sekarang aku mau tidur dulu.”

Tak berapa lama kemudian, dengan kepala masih di atas bantal, aku mendengar suamiku membuat suara-suara berisik. Oh, ternyata dia sedang mengelap, menyapu, dan mengepel. Juga merendam cucian di ruang belakang. Sekaligus mengawasi tukang kebun keliling yang sudah dipanggilnya untuk merapikan taman. Merasa tidurku terganggu, aku berseru kesal, “Nanti aku bersihin! Mas nggak usah repot-repot kayak gitu!”

Tapi suamiku tetap meneruskan kegiatannya. Sampai akhirnya ketika aku bangun, aku mendapati rumah dalam keadaan bersih dan mengkilat. Semua sampah sudah dibuang. Bahkan hampir semua perkakas dapur dicucinya sampai bersih. Aku nggak tahu harus bilang apa.

Malamnya, aku memintanya untuk jujur kenapa dia ngotot bersih-bersih sampai capek seperti itu. Alasannya ialah karena dia melihat mukaku yang sebal siang harinya, sehingga dia merasa bersalah dan merasa harus bersih-bersih untuk membuatku nyaman berada di rumah *dia tahu aku sangat sensitif terhadap sesuatu yang kotor*. “Habisnya Sayang udah bete duluan, begitu dateng langsung tidur, males ngapa-ngapain gara-gara rumah kotor,” begitu katanya.

Seketika itu juga aku merasa sangat bersalah. Memang tadinya aku sebal, tapi langkahku untuk beranjak tidur itu memang lebih disebabkan karena penat dan letih. Aku sama sekali tidak berniat membuat suamiku merasa begitu. Aku maklum kok kalau rumah sedemikian kotor. Aku mengerti dia memang benar-benar tak punya waktu untuk bersih-bersih. Atau kalaupun punya, aku mengerti dia sudah kecapekan karena bekerja seharian di kantor, tiba di rumah pun malam-malam.

Suamiku itu… betapa besar usahanya untuk membuatku merasa nyaman. Sampai dibela-belain membersihkan seluruh rumah hanya karena aku datang. Sebenarnya inilah yang paling membuatku merasa sangat bersalah dengan kepergianku ke Bandung. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian dengan berbagai urusan rumah untuk diselesaikan, padahal seharusnya itu menjadi tanggung jawabku. Nggak kebayang tiap hari dia pulang ke rumah dalam keadaan capek, lalu masih harus membereskan ini itu, terutama masalah bersih-bersih rumah dan mencuci baju. Duh, suamiku… benarkah kehidupan yang kita jalani ini benar-benar keputusan yang terbaik?

*dan setiap hari aku semakin mencintainya, bahkan menulis ini pun membuatku merindukannya lagi dan lagi… setengah mati…*

Wednesday, March 05, 2008

?!*#@$%

Saat makan siang, teman-teman asyik bercerita tentang pekerjaan dan kegiatan mereka. Mereka tampak excited. Ada yang berkutat dengan alat counting dan ada yang sibuk dengan filter-filter. Lalu aku?

Sebenarnya keberadaanku di sini adalah sesuatu yang (mungkin) disayangkan. Akunya sendiri nggak enjoy. Instansi juga rugi punya pegawai yang nggak niat kerja kayak aku begini :( Jadi lose-lose solution dong. Sebenarnya keputusanku untuk kerja ini bener nggak sih? >_<

*nggak tahu kenapa aku jadi mikir begini*

Bosan

Memang ya, kalau bekerja tidak dinikmati itu akan terasa berat. Saat ini aku merasa bosan luar biasa. Aku belum (atau tidak?) menemukan kegairahan bekerja di kantor. Bukan apa-apa sih. Bukan karena tempatnya tidak menyenangkan *bahkan lingkungan dan rekan-rekan kerja sebenarnya cukup menyenangkan*. Mungkin lebih karena aku tidak pernah benar-benar ingin bekerja.

Aku merindukan rumah Cikarang. Aku rindu aktivitas keluar rumah waktu subuh untuk berbelanja sayur-mayur dan bahan-bahan lain yang akan kumasak. Aku rindu aktivitas menyapu dan mencuci. Aku rindu melihat lantai rumah Cikarang yang bersih mengkilat. Aku rindu menonton Oprah Winfrey Show di sela-sela aktivitas mengurus rumah. Aku rindu aktivitas meracik bumbu dan memasak di dapur sore-sore. Aku rindu pada mawar-mawar manisku. Di atas segalanya, aku sangat merindukan aktivitas menanti suami pulang kerja, dan rindu pada binar matanya ketika melihatku membukakan pintu.

Bekerja diniatkan untuk beribadah itu betul, tapi itu sesuatu yang klise dan mudah diucapkan. Prakteknya? Susah kalau hati kita tidak benar-benar berada di situ. Keikhlasan menjadi sesuatu yang kabur dan susah untuk digenggam.

Kata Pak Mario Teguh, pekerjaan yang paling bagus adalah pekerjaan yang ketika kita mengerjakannya, kita sangat menikmatinya dan kita dibayar untuk itu. Aku belum (atau tidak?) menikmati detik-detik berada di kantor. Aku tidak menikmati memakai baju setelan kerja yang bagus dan rapi ini. Aku justru sangat menikmati memakai piyamaku dan bergerak lincah ke sana kemari untuk berkeringat mengurus rumah. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat kunikmati, impian kehidupan sejak lama… dan aku bahkan tidak perlu dibayar untuk itu.

*setelah sejenak mengunci diri di kamar mandi kantor sambil berlinang air mata*

Friday, February 22, 2008

BATAN

Oke, sekarang giliran cerita tentang kantor. Bagi kebanyakan orang, BATAN dan hal kenukliran merupakan sesuatu yang asing dan menyeramkan. BATAN sendiri kependekan dari Badan Tenaga Nuklir Nasional, merupakan lembaga pemerintah yang bergerak di bidang penelitian, pengembangan, dan riset nasional di bidang kenukliran untuk tujuan damai dan kesejahteraan masyarakat *so ingat ya, kita nggak bikin senjata nuklir*, bertanggung jawab langsung kepada presiden dan dikoordinasikan di bawah menristek.

Unit kerjaku di Bandung dinamakan Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri (PTNBR), berlokasi persis di belakang kampus ITB *ah senangnya kembali “berkeliaran” di sini*. PTNBR mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang fisika bahan, fisika dan termohidrolika reaktor, fisika radiasi dan lingkungan serta instrumentasi nuklir, senyawa bertanda dan radiometri, pendayagunaan reaktor serta melaksanakan pengendalian keselamatan kerja dan pelayanan kesehatan (dikutip dari sini).

Aku ditempatkan di bagian yang dinamakan Balai Instrumentasi dan Elektromekanik (BIE). Tugas BIE adalah memberikan pelayanan instrumentasi, rancang bangun dan konstruksi, perbaikan dan perawatan peralatan elektronik dan elektromekanik serta prasarana dan sarana penelitian. Lebih spesifik lagi, aku berada di Kelompok Perbaikan dan Perawatan Komputer dan Jaringan. Yah, kerjaannya mirip-mirip jadi admin plus IT support gitu deh.

Untuk saat ini, aku belum dikasih kerjaan riil. Pegawai baru masih harus menjalani berbagai orientasi sampai akhir Februari. Kamis kemarin ada Latihan Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Nuklir untuk seluruh pegawai, yaitu simulasi bila terjadi kedaruratan nuklir. Latihan ini serius, melibatkan kepolisian dan dinas pemadam kebakaran kota Bandung. Pakai acara lari-lari dan teriak-teriak, hehehe. Serem juga kalau terjadi kecelakaan nuklir beneran. Tapi tenaaaang, selama kita mengikuti prosedur dan instruksi kerja dengan baik dan benar, insya Allah aman. Lalu Jumat ada latihan pemadaman api. Kita diajari cara menghadapi api dan teknik-teknik memadamkan api. Semprot-semprot api deh, pakai air, tabung tepung, dan tabung CO2.

Minggu depan ada diklat untuk pegawai baru, bertempat di Jakarta. Siap-siap berangkat. Semoga uang sakunya lumayan, hehehe.

LDR

Just a word of advice, don't do such LDR if you can. Although it has made our relationship grow in a special way that a normal couple might not have it, which I can then say that these hard time worth, still.. nothing can be better than having him besides you. (Desiree)

Banyak di antara teman-temanku yang selama ini menjalani long distance relationship dengan pasangan hidupnya. Dulu, tak pernah terpikir sedikit pun aku akan menjalani kehidupan serupa. Ah, ternyata Allah berkehendak lain.

Sudah dua minggu ini aku berada di Bandung. Alhamdulillah segalanya lancar dan dipermudah Allah. Meskipun terasa berat sekali berpisah dengan suami, apalagi untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, aku berusaha menikmati segala sesuatunya, berusaha memupuk sabar dan ikhlas. Yah, kalau dibawa stres, kasihan anakku nanti: terkena dampak psikis bundanya.

Aku banyak belajar dari teman-teman yang pernah dan sedang menjalani LDR. Desiree salah satunya. Senang mendengar ia kini berbahagia telah berkumpul kembali dengan suaminya.

Memang ya, ada seseorang ketika pulang ke rumah (atau bahkan seseorang yang menemani pulang di sore hari :), ada seseorang yang membuat malam-malam tidak dilalui dalam kesendirian.. sungguh.. adalah kenikmatan yang betul-betul perlu disyukuri. (Desiree)

I used to have that kind of life. Tapi kini saatnya menghadapi realita. Dinginnya udara Bandung yang menggigit terpaksa dilawan cuma dengan selimut, bukan dengan pelukan hangat suami. Malam-malam terasa panjang karena dilalui seorang diri *yah, ada mbak pembantu yang nemenin empat kali seminggu sih, tapi itu tentu kecil artinya dibanding kehadiran suami*. Aktivitas memasak, mencuci, dan mengurus suami pun kini jadi aktivitas yang kurindukan. Kadang-kadang ada kekhawatiran: gimana ya urusan suami di rumah Cikarang, baik-baik sajakah?

Dari obrolan dengan ibu-ibu kolega di kantor, ternyata aku tidak bernasib seperti ini sendirian. Ada beberapa pasangan di kantor yang juga menjalani LDR selama bertahun-tahun. Memang beginilah resiko wanita bekerja, I knew it. Makanya terasa berat, mengingat sebenarnya aku ingin jadi stay-at-home mom saja di Cikarang. Alhamdulillah lingkungan kerja di kantor cukup menyenangkan. Hatiku sedikit terhibur.

Sekarang apa yang menjadi pemikiranku adalah bagaimana nantinya aku bisa memberikan kehidupan yang berkualitas untuk anakku, dengan kondisiku sebagai wanita bekerja. Ingin sekali memberikan ASI eksklusif, tapi kata ibu-ibu kolega di kantor, hal itu ternyata susah dan tidak semudah teorinya. Belum lagi pusing memikirkan siapa yang akan menjaga anak-anak sewaktu ditinggal. Dari obrolan kemarin, ada yang menyarankan ke tempat penitipan anak. Tapi ya, apa kita akan dengan begitu mudah menyerahkan pengasuhan anak ke orang lain? Hhh, semoga semuanya semakin dipermudah Allah.

Ternyata betul kata Desiree: untuk pasangan yang sudah menikah, LDR tidak direkomendasikan. Allah, beri aku kekuatan.