Friday, May 13, 2005

Komplemen

Dialog I
Perempuan: “Pengen makan seafood…”
Laki-laki: “Ah, tapi aku nggak suka seafood tuh.”
Perempuan: “Haa? Nggak suka seafood? Pasti ada yang salah deh, wong makanan enak gitu. Seafood tuh makanan paling enak, kesukaanku banget.”
Laki-laki: “Ya terserah. Kalau aku, nggak suka.”

Dialog II
Laki-laki: “Belajar yang rajin, dong. Udah susah-susah masuk elektro, nggak belajar yang bener.”
Perempuan: “Maleeeessss... Pengen nulis, pengen baca. Kayaknya aku lebih cocok ke sastra deh.”
Laki-laki: “Sastra? Nggak ada asyiknya, tau.”
Perempuan: “Yeee... sastra itu menyenangkan. Bisa bikin halus perasaan. Bisa berekspresi tentang kehidupan.”
Laki-laki: “Oh ya? Ya udah, kamu aja yang baca sastra. Biar perasaanmu halus, biar ntar bisa nasehatin aku.”
Perempuan: “Coba baca sastra deh.”
Laki-laki: “Ogah. Lebih asyik belajar elektro.”

Dialog III
Perempuan: “Apa asyiknya sih belajar elektro? Aku nggak bisa nemu implementasinya dalam dunia real.”
Laki-laki: “Lho, buat apa nyari implementasi segala? Belajar ya belajar aja.”
Perempuan: “Ya nggak gitu. Kita harus tahu dong, buat apa kita belajar kayak gituan. Moral of the story-nya apa. Implementasinya kayak gimana.”
Laki-laki: “Ah, alesan aja. Belajar ya belajar. Dapet nilai bagus. Selesai.”
Perempuan: “Nah, ini dia… pragmatis banget sih kamu.”

Dialog IV
Perempuan: “Haa? Selama kuliah kamu nggak aktif di mana-mana?”
Laki-laki: “Nggak. Nggak seneng organisasi.”
Perempuan: “Lho, bukannya masa kuliah tuh masa paling menyenangkan untuk aktif terlibat di mana-mana? Buat kenal banyak orang sebanyak-banyaknya?”
Laki-laki: “Nggak juga. Aku toh nggak ada masalah nggak kayak gitu.”
Perempuan: “Ck ck ck. Kok bisa ya, nggak ikutan apa-apa. Pasti kamu sibuk belajar ya? Dasar anak pintar.”
Laki-laki: “Ah, nggak juga. Aku juga sering main kok.”

Dialog V
Laki-laki: “Haa? Kamu dulu sering ikut demo?”
Perempuan: “Iya. Sampe pernah ke bundaran HI segala.”
Laki-laki: “Ck ck ck. Buat apa sih ikut gituan? Kurang kerjaan.”
Perempuan: “Ya itu kan salah satu sisi dinamika kampus.”
Laki-laki: “Dinamika kampus apaan. Di ITB aja, jumlah yang ikut demo dikit banget. Kalau ada demo, yang banyak malah yang nonton.”
Perempuan: “Wah, kamu tipikal anak ITB banget. Apatis. Nggak punya idealisme.”
Laki-laki: “Kok bisa?” (nggak terima dibilang nggak punya idealisme)
Tuhan memang berhak menentukan skenario-Nya sendiri. Meskipun tampak begitu aneh, yakinlah bahwa semua perbedaan akan mencair bila kita memiliki satu ikatan. Ketika kita menemukan orang yang tepat, (entah bagaimana) kita pasti akan tahu…

1 comment:

Yuti Ariani said...

Ehm... satu ikatan. Pasti tahu... ada ilmu untuk mengetahuinya ngga? Aku pengen belajar dong:D