Jadi Instruktur Senam Aerobik

Friday, May 16, 2014
Beberapa tahun lalu saat membuat buku impian, aku menyertakan dalam wish list-ku, keinginan untuk memiliki studio senam sendiri. Jadi gambaranku waktu itu, ingin memiliki semacam one stop center untuk perempuan. Ada salon untuk perawatan, ada butik untuk belanja outfit, dan ada studio senam untuk menjaga kebugaran. Yah namanya impian, muluk sedikit boleh kan, toh gratis ini hehehe. Bagi yang mengenalku secara personal, pasti tahu sekali kalau aku hobi senam aerobik. Pernah aku tulis juga di sini dan di sini.

Nah, jadi kegemaranku bersenam aerobik ini membuatku ingin sekali memiliki studio senam sendiri, entah bagaimana caranya belum terbayang. Alhamdulillah awal tahun ini, orang tuaku membeli sebuah rumah tepat di belakang rumahku, yang memang sudah kami incar sejak lama. Sampai saat ini rumah tersebut sengaja dikosongkan tanpa perabotan, dan orang tua yang menitipkan rumah tersebut di bawah pengawasan kami, mengizinkan rumah itu dipakai untuk kegiatan positif seperti pengajian atau arisan. Dan tentu saja, bisa dipakai untuk mengadakan kelas senam aerobik! Dengan beberapa catatan dari orang tua kami, tentu saja *meringis*

Ruang utama yang digunakan untuk senam

Jadiiii.. sejak 2,5 bulan lalu aku resmi mengundang ibu-ibu kompleks untuk bersenam aerobik setiap hari Minggu pagi di rumah yang menjelma studio senam jadi-jadian ini. Sekedar info, dulu di kompleks kami memang ada senam bersama dengan instruktur dari luar, senamnya outdoor dan diikuti oleh ibu-ibu maupun bapak-bapak. Belakangan pesertanya berguguran, dan akhirnya senam dihentikan karena dianggap membuang-buang uang kas kompleks dengan jumlah peserta yang tidak signifikan untuk ukuran senam bersama secara outdoor. Jadilah ibu-ibu yang memang hobi senam mencari pelarian dengan mengadakan kelas senam sendiri, indoor di rumah salah seorang ibu yang juga seorang instruktur. Setelah ibu itu jarang berada di kompleks dan rumahnya ditempati anaknya, otomatis kegiatan senam ibu-ibu kompleks berhenti. Alhamdulillah bisa diinisiasi kembali di rumahku (thanks to my parents) dengan peserta yang lebih banyak daripada sebelumnya.

Nah, mengapa indoor dan eksklusif hanya untuk ibu-ibu? Pertama, karena tempatnya mungil hehehe. Yaa namanya rumah biasa, sebanyak-banyaknya peserta paling-paling hanya bisa menampung sepuluh orang. Kedua, karena ada gerakan-gerakan senam pembentukan (body language) untuk pembentukan perut, pantat, dan paha, yang gerakannya agak-agak gimana gitu jika dilihat oleh bapak-bapak. Ketiga, supaya ibu-ibu bebas memakai pakaian apa saja tanpa merasa risih dilihat oleh orang lain yang bukan mahram.

Alhamdulillah dengan pedenya aku menjadi instruktur untuk kelas senam ini. Pede karena sudah mengikuti kelas senam aerobik selama lebih dari sembilan tahun, dan pernah menjadi instruktur atau asisten instruktur di tempat lain. Meskipun demikian, aku belum tersertifikasi sama sekali, jadi jangan berharap lebih ya. Level-nya cuma instruktur amatiran ehehehe. Senam di rumah ini sepenuhnya gratis, karena selain instrukturnya jadi-jadian, aku sudah cukup senang hanya dengan melihat betapa rajinnya ibu-ibu ini menghadiri kelasku. Menularkan kegemaran berolahraga dan melihat mereka berkomitmen melaksanakannya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri di hatiku. Bahagia rasanya melihat orang-orang yang mau berusaha menjaga kesehatan dan kebugaran dengan kesadarannya sendiri, bahagia rasanya melihat orang-orang peduli terhadap badannya sendiri dan menunaikan hak tubuhnya untuk berolahraga, bahagia rasanya melihat orang-orang saling menjaga suhu yang sama dalam satu komunitas olahraga bersama. It’s so precious.

Oh iya, terkait dengan mengajar senam aerobik, sebenarnya ada juga tawaran dari beberapa teman untuk mengajar di lingkungan mereka. Tawaran itu dengan serta merta ditolak mentah-mentah oleh suamiku, alias tidak diberi izin. Kata dia, setelah lima hari kerja beraktivitas di luar rumah, masa iya pas akhir pekan waktunya masih dipakai keluar rumah? Mungkin karena kami menjalani LDR dan cuma bertemu saat weekend, jadi dia ingin akhir pekan itu eksklusif untuk family time. Yo wis, manut saja. Mengajar senam di rumah belakang mah tidak dikategorikan pergi keluar rumah, jadi masih boleh *kecup suamiku hehe*

So ladies, mau ikut bergabung? Monggo, silakan berkunjung ke rumah yaa :)

Labels: ,

 
posted by Yustika at 4:38 PM | Permalink | 0 comments

Hanif Berenang

Thursday, May 08, 2014
Ada satu cerita menarik dalam usahaku memperkenalkan Hanif kepada aktivitas berenang. Sejak kecil ia tampak trauma menyentuh air ketika diajak ke pantai atau kolam renang. Padahal ketika usianya beberapa bulan dulu, ia suka bermain air di dalam kolam karet yang kami belikan. Aku sempat bertanya-tanya, apa gerangan yang membuatnya sedemikian takut, bahkan saat dikeramas pun sampai menjerit-jerit? Mengingat kembali perjalanan hidupnya, rasanya aku tahu kejadian apa yang membuatnya begitu. Jadi ketika usia Hanif 1 tahun 4 bulan, pada kunjungannya yang kedua ke pantai Pangandaran, mukanya sempat terciprat air ombak. Ia menangis tentu, tapi aku tak mengira kejadian itu membekas dalam memorinya menjadi sesuatu yang menakutkan.

Oktober 2009, terciprat ombak di Pangandaran

Beberapa tahun setelah itu, ketika ia sudah masuk ke Playgroup dan TK, ada acara berenang rutin tiap bulan. Jangankan nyemplung, mendekat pinggiran kolam renang pun ia tak sudi. Beberapa kali aku ajak ke kolam renang saat weekend, reaksinya masih sama. Bahkan ketika Daffa, sepupunya, asyik berenang-renang pun Hanif tampak tak tertarik. Ini menjadi PR tersendiri buatku, mengingat aktivitas berenang adalah aktivitas olahraga favorit keluarga besar, dan skill berenang termasuk skill yang sunnah untuk diajarkan kepada anak. Selalu dan selalu, aku berusaha mengajaknya masuk ke kolam renang, meskipun penolakan demi penolakan terus keluar dari mulutnya.

Hingga hari itu tiba. Di penghujung Juni 2012, ketika kami sekeluarga pelesir ke Cirebon dan menginap di hotel yang ada kolam renangnya, Hanif mau duduk di pinggir kolam renang dan mulai bermain air. Hal itu jelas mencengangkan, dan bagi kami itu sudah merupakan prestasi luar biasa bagi Hanif dalam mengatasi rasa takutnya. Kami biarkan ia bermain air sampai bajunya basah, sambil tak lupa diberi apresiasi atas keberaniannya bersentuhan dengan air.

Juni 2012, bermain air di kolam renang hotel

Awal Oktober 2012, resmi sudah Hanif mau nyemplung ke kolam renang. Ia tertawa bangga sambil menunjukkan keberaniannya mencelupkan kepala ke dalam air. Masya Allah, betapa gembiranya hati ini. Meskipun demikian, ia masih ogah-ogahan untuk belajar berenang. Masih kebanyakan ngeles-nya hehehe. Akhirnya kami memutuskan, anak ini sebaiknya belajar berenang lewat les berenang saja. Mungkin ia bakal lebih disiplin bila diajari oleh guru beneran.

Oktober 2012, pertama kali berani nyemplung di kolam renang :)

Akhirnya, sudah sebulan ini Hanif ikut les berenang bareng sepupunya. Latihan tiap Sabtu pagi di Rumah Sosis ini hampir selalu diselipi drama, entah menangis di awal karena ogah-ogahan nyemplung, atau menangis di tengah-tengah latihan karena disuruh mencelupkan kepala atau disuruh mencoba berenang tanpa pelampung (sambil dipegangi pelatih tentunya). Efeknya dilatih guru beneran, Hanif dilatih untuk disiplin dan berani. Adakalanya ia terpaksa diceburkan oleh pelatihnya hihihi.

Mei 2014, les berenang di Rumah Sosis

Namanya latihan berenang seminggu sekali, anak-anak pula, maka kemajuan latihan bisa dibilang berjalan lambat. Hanif masih belajar gerakan kaki gaya dada, kalau dicoba berlatih gerakan kaki dan tangan sekaligus, ia akan berteriak-teriak heboh, karena itu artinya ia harus melepas pelampung yang didekapnya erat. Yaa ra popo wis, meskipun lambat, setidaknya ia mau konsisten berlatih tiap minggu. Mengingat kisah perjuangannya mengatasi trauma terhadap air, kemajuannya saat ini sudah menjadi prestasi tersendiri di hatiku. Bravo, Mas Hanif... tetap rajin berlatih yaa :)

Labels: ,

 
posted by Yustika at 3:08 PM | Permalink | 0 comments