Job Hunting, Karir, dan Pekerjaan

Tuesday, January 11, 2011
Beberapa waktu lalu, seorang teman lama mampir ke rumah. Dia menempuh perjalanan yang cukup panjang dan memerlukan tempat untuk beristirahat, untuk kemudian menghadiri sesi wawancara yang dijadwalkan hari itu. Teman ini baru saja melahirkan seminggu sebelumnya, jadi bayangkan saja bagaimana payahnya. Ia bahkan tak bisa sekedar menginap untuk memulihkan kondisi, karena seorang balita dan seorang bayi mungil nun jauh di sana, memaksanya pulang-balik hari itu juga.

Ketika ia sudah dalam perjalanan pulang, aku menerima pesan singkatnya bahwa wawancara yang dijalaninya dengan susah payah—baik dari segi waktu, biaya, tenaga, sampai harus jauh-jauh meninggalkan anak-anaknya—ternyata tidak membuahkan hasil. Ya begitulah, ia tidak lolos dalam sesi wawancara kali itu untuk mendapatkan beasiswa S2.

Aku menyebut temanku ini sebagai seorang pejuang. Bagaimana tidak, sejak ia lulus S1 beberapa tahun silam, rasanya belum pernah ia menapak kesuksesan dalam hal karir. Lulus dengan penuh perjuangan, lalu bertahun-tahun mengirim lamaran dan wawancara ke sana-sini. Sempat bekerja sebentar, sebelum akhirnya berakhir dengan tidak memuaskan dan memaksanya beralih jalur untuk mencoba S2 alih-alih berusaha mencari pekerjaan kembali.

Bicara tentang temanku ini adalah bicara tentang keprihatinan. Bahwa kehidupan pascakampus adalah kehidupan yang keras, kehidupan yang sesungguhnya. Dan hidup tak pernah mudah baginya. Mengingat temanku ini sejatinya juga mengingatkanku pada diriku sendiri. Tak bisa kupungkiri, pada sosoknya, aku melihat sosokku juga bertahun-tahun lalu.

Kami berdua lulus dengan berdarah-darah dari sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini. Nama besar almamater tidak selalu menjadi jaminan bahwa urusan mencari pekerjaan menjadi gampang. IPK kami yang kecil, membuat kami menjadi pecundang di hadapan perusahaan-perusahaan elit atau badan-badan bergengsi tempat para kawan kami masuk dengan mudah. Aku sendiri menganggur hampir dua tahun lamanya sebelum akhirnya diterima menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian. Muara yang baik dari sebuah pencarian panjang, alhamdulillah. Tapi itu tidak lantas membuatku lupa, bahwa selama hampir dua tahun itu, aku telah mengirim beratus-ratus aplikasi lamaran, menjalani berpuluh-puluh tes dan wawancara, bahkan sempat dikeluarkan oleh suatu perusahaan kala menjalani probation period.

Nyesek memang, tapi itulah kenyataan. Aku memang merasa diriku ini tidak terlalu kompetitif dan berkompetensi dalam bidang yang kugeluti, sayangnya ijazah yang kupunya ya hanya ijazah di bidang itu. Akan jadi cerita panjang kalau aku membeberkan bagaimana sebenarnya aku tidak suka dan merasa salah jurusan, tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Semoga jadi pelajaran bagi siapa saja, bahwa memilih jurusan ketika kuliah tidak bisa semata-mata diputuskan hanya karena jurusan itu “laku”, banyak teman yang memilih itu, orang tua menyarankan itu, jurusan itu terlihat keren dan mentereng, prospeknya bagus, bla bla bla. Semoga jadi pelajaran juga bahwa memilih jurusan harusnya didasarkan pada minat dan kemampuan. Bertanya pada hati, bertanya pada Allah. Karena sekali “nyemplung” dalam bidang itu, seumur hidup akan berkutat di bidang itu. Yah, mungkin terkecuali untuk orang-orang tertentu, yang bisa juga sukses di luar bidang ijazahnya.

Seringkali orang berpikir, nama besar almamater identik dengan kompetensi yang luar biasa, atau kemampuan akademik yang mumpuni. Kemudian hal itu akan berbanding lurus dengan ekspektasi pada kami, para lulusannya. Dan celakanya, cap semacam ini seperti menempel erat di jidat, sehingga komentar orang menjadi jauh lebih kejam ketika kami gagal. Aku ingat, pada sebuah sesi wawancara, si pewawancara meloloskan aku dengan sangat mudah ketika tahu aku lulus dari mana. Kasihan sekali kandidat lain di sampingku, yang masih harus dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan panjang. Well, itu diskriminasi yang positif. Tapi jangan salah, diskriminasi yang negatif juga banyak. Ya itu tadi, ketidakmampuan orang lain memaklumi kemampuanku yang sebenarnya alakadarnya, hanya karena melihat dari mana aku berasal.

Kemarin ketika aku melihat film Alangkah Lucunya (Negeri Ini), ketika menyaksikan sang tokoh utama—yang pengangguran—sedang berkeliling Jakarta sembari mengempit tas untuk melamar pekerjaan ke sana kemari, hatiku mendadak basah. Been there, done that. Aku juga pernah punya pengalaman serupa: berkeliling Jakarta, masuk ke gedung-gedung megah untuk mengikuti tes atau walk-in interview sambil mengempit map berisi ijazah. Hmm, jangan-jangan nilai tes TOEFL-ku tinggi gara-gara aku dulu keseringan ikut tes TOEFL ketika seleksi karyawan ya? Hehehe.

Back to reality. Ketika melihat hidupku sekarang, I can’t be more grateful. Alhamdulillah, Gusti Allah memberi segala yang kubutuhkan. Dalam hal pekerjaan, meskipun tidak sekeren kawan-kawan lain sealmamater yang bergaji juta-juta-jutaan itu, menjadi PNS memberiku keleluasaan lebih untuk mengasuh anak dibanding mereka. Dan tentu sangat lebih beruntung dibanding seorang temanku yang kuceritakan tadi di awal tulisan ini.

Tapi memang bukan manusia kalau tak pernah puas. Adakalanya kenyataan hidup membawaku pada perenungan, apakah pantas aku meneruskan pekerjaanku ini. Selain karena sebenarnya aku tak terlalu suka pada bidang yang kugeluti sekarang—seperti ceritaku di atas tadi—kadang aku juga merasa berdosa pada negara. Ada satu pemikiran idealis dalam diriku, mungkin sebaiknya aku resign saja supaya negara bisa menggaji orang lain yang memang kemampuannya lebih dibutuhkan negara. Yah, kalau aku merasa tidak berkompetensi, pilihannya kan cuma ada dua: upgrade diri atau resign. Padahal upgrade diri, totalitas, dan integritas susah dilakukan jika tidak ikhlas menyukai bidang yang digeluti.

Belum lagi kalau bicara tentang kehidupan rumah tanggaku yang tidak ideal karena harus pisah kota demi pekerjaan. Belum lagi kalau bicara soal pengasuhan Hanif dan cita-cita awalku tentang menjadi stay-at-home mom. Beuhh, banyak benar yang bisa membuat stres. Kalau sudah begini, kata ‘resign’ memang selalu bermain-main di benak. Tapi kalau aku resign, kok rasanya kurang bersyukur ya. Melihat ribuan orang tidak lolos tes PNS, melihat betapa banyaknya orang yang menganggur dan sulit sekali mencari pekerjaan, selalu membuatku berpikir: jangan-jangan aku kufur nikmat kalau aku resign?

Kehidupan menjadi orang dewasa sungguh sulit. Keputusan yang dibuat tidak bisa didasarkan pada keinginan pribadi saja, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan lain yang beririsan. Tanggung jawab, aku rasa ini kata yang tepat yang memberi nilai sesungguhnya pada kehidupan orang dewasa.

Labels:

 
posted by Yustika at 9:20 AM | Permalink |


4 Comments: