Ketika Anak Tiada

Thursday, July 30, 2009
Baru saja menulis ini dan re-post ini, pada hari yang sama, aku menghadiri takziyah anak teman sekantor. Teman sekantor ini sudah bapak-bapak, dan anaknya yang meninggal itu berusia sekira dua puluh tahunan.

Sebelumnya aku ingin bercerita sedikit tentang re-post yang ini tadi. Sungguh, aku tersedu membaca baris demi baris dalam tulisan itu. Tak terbayang bagaimana batita itu meregang nyawa di tengah kepapaan, masya Allah. Allah pasti sangat mencintainya sedemikian rupa hingga Ia berkenan mengambilnya dari ayahnya yang miskin. Aku yakin semua itu juga pasti yang terbaik dari Allah.

Semenjak punya anak, mata dan hati ini mudah sekali menangis mendengar kisah-kisah tragis tentang anak-anak. Mulai dari pembantaian anak-anak Palestina dalam serangan Israel beberapa waktu lalu, atau sekedar mendengar berita televisi tentang anak yang meninggal dalam mobil karena kehabisan oksigen, tentang anak-anak penderita gizi buruk, tentang anak yang kakinya dilindaskan kereta api oleh ayah tirinya, dan sederet kisah tragis dan kisah ketidakberuntungan lain tentang anak-anak. Masya Allah…

Kembali ke cerita takziyah teman sekantor tadi. Si anak ini memang sudah lama sakit. Waktu dan biaya juga sudah lama terkuras. Mungkin ini memang yang terbaik dari Allah. Kisah ini dan kisah re-post tadi sama-sama bertutur tentang orang tua yang kehilangan anak. Jadi ingat, dalam sebuah film yang pernah kutonton (yang diangkat dari kisah nyata) tokoh utama yang ditinggal mati anaknya, berkata, “Tidak seharusnya orang tua menguburkan anak mereka.”

Ya, aku sependapat. Yang lazim adalah anak menguburkan orang tua mereka, bukan sebaliknya. Setiap orang tua di dunia ini pasti berharap bisa melihat anaknya hidup bahagia, sehat, dan sukses. Maka kepedihanlah yang timbul bila ternyata si anak pergi mendahului orang tuanya. Keperihanlah yang menyeruak ketika buah hati yang dicintai pergi meninggalkan kita. Bagaimanapun mereka darah daging kita, yang kepadanya kita memuarakan doa dan harapan, yang untuknya kita rela mengorbankan harta dan nyawa, yang padanya kita tak kuasa melihat kesakitan dan sengsara.

Teriring doa setulus hati: “Ya, Allah. Senantiasa berikanlah kepada anak(-anak) hamba kesehatan, keselamatan, perlindungan, dan penjagaan. Jauhkanlah ia dari segala penyakit dan marabahaya. Optimalkanlah pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan, fisik, dan emosinya. Jadikanlah ia qurrota a’yun bagi kami, jadikanlah ia hambamu yang shalih, jadikanlah ia anak yang berbakti pada orang tua. Serta jadikanlah kami orang tua terbaik baginya, dapat memberikan yang terbaik baginya untuk bekal di dunia dan di akhirat. Amin.”

Labels:

 
posted by Yustika at 11:26 AM | Permalink | 0 comments

Karena Setiap Anak Adalah Unik

[dipersembahkan untuk Hanif]

Sebagai orang tua yang dikaruniai anak, adalah hal yang (kadang terasa) otomatis untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Sayangnya kita sering terlupa bahwa meskipun hal itu lazim, tapi ia tidak sewajarnya dilakukan.

Ketika Hanif beranjak besar, beberapa kali diri ini melirik anak orang lain yang “sudah bisa tengkurap”, “sudah bisa merangkak”, “sudah bisa berjalan”, dan sederet “sudah bisa” lainnya. Lalu diri ini langsung tersadar ketika menoleh kembali kepada Hanif dan mendapatinya sehat, lincah, ceria, cerdas, tak kurang suatu apa. Aku paham, setiap anak punya waktunya sendiri.

Namun tak urung hati ini sebal juga kalau ada yang bertanya, “anaknya belum bisa jalan ya?” atau “anaknya belum bisa ngomong ya?”. Apalagi kalau usil berkomentar seperti “wah, nggak berhasil ASI eksklusif ya?”, “kok Hanif belum bisa ini itu…”, atau “wah, kalau anakku sih udah bisa begini begitu…”. Ingin menampar saja orang seperti ini, grrrr.

Membandingkan dengan anak lain itu (bisa jadi) wajar karena kita tak bisa tahu pencapaian kita tanpa pembanding, sepanjang hal ini dilakukan dalam batas normal, misal: untuk pengontrolan panjang dan berat badan yang sehat. Namun kalau pembandingan ini melangkah kepada pembandingan kemampuan dan perkembangan, kok rasanya agak terlalu usil ya. Bukankah setiap anak diciptakan dengan bakat dan minat tersendiri, termasuk tahapan perkembangannya? Bukankah tidak setiap anak seragam waktu tumbuh giginya, atau waktu berjalan dan berbicaranya, sebagai contoh?

Lebih jauh lagi, lihatlah masyarakat kita sekarang. Para orang tua berlomba-lomba mengajari anak mereka membaca dan berhitung serta memaksakan mereka bisa sebelum usia tertentu. Yang lainnya ramai-ramai memasukkan anak mereka ke tempat-tempat les bahasa asing, musik, balet, dan lain-lain. Kalau itu atas keinginan si anak sih tidak masalah, tapi bagaimana kalau itu hanya demi memuaskan obsesi orang tua yang ingin anaknya serba bisa? Apalagi demi memuaskan ego orang tua yang tak mau malu ketika membandingkan (kemampuan atau prestasi) anak mereka dengan anak-anak lain. Duh!

Aku selalu menganggap Hanif adalah mukjizat dan anugrah luar biasa. Sekaligus amanah yang harus dijaga baik-baik. Aku tak ingin membuatnya terluka dengan membanding-bandingkan minusnya dengan anak lain, toh ia juga dikaruniai plus yang lebih banyak. Setiap anak yang dititipkan pada kita adalah pribadi unik yang tak ada duanya, maka berhentilah membanding-bandingkan anak kita dengan anak lain, dan selalu bersyukur kita masih diamanahi karunia yang luar biasa.

Labels: ,

 
posted by Yustika at 10:15 AM | Permalink | 1 comments

Tentang Pernikahan (Lagi)

Tiap kali mendengar kabar tentang pernikahan seseorang, atau tiap kali menerima undangan pernikahan dari seorang teman, tak dapat disangkal aku langsung terhenyak. Detik terasa berhenti sejenak, membawa ingatanku kembali ke saat di mana aku menghadapi pernikahanku sendiri.

Begitu juga ketika mendengar kisah atau menemui pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara. Kadang merasa geli sendiri. Kadang merasa sinis dan skeptis. Kadang merasa cemburu. Ya, kalau mau jujur pada diri sendiri, sering sekali aku merasa cemburu pada mereka. Cemburu pada kebahagiaan dan binar-binar cinta mereka yang menguar sampai ke mana-mana.

Kehidupan pernikahanku sendiri baru berjalan dua tahun tiga bulan. Namun di usianya yang baru seumur jagung itu, aku merasakan pernikahanku telah bertumbuh, telah mencapai fase yang berbeda. It’s a great thing to know that it grows with us.

Dulu rasanya dunia hanya milik berdua saja. Aku tak lengkap dan merasa tak berdaya tanpanya. Merinduinya sepanjang waktu. Memujanya habis-habisan. Agak kekanak-kanakan mungkin, tapi ini tipikal khas orang yang jatuh cinta :D

Kini? Hmm, rasanya lebih dewasa dan lebih rasional. Juga lebih realistis dalam memandang kehidupan. Mimpi tentang masa depan tak lagi berbuih-buih seperti awal pernikahan dulu, karena sudah mengalami sendiri perbedaan antara “apa yang kita inginkan” dan “apa yang kita dapatkan”. Dua insan yang dulu dimabuk asmara—sampai lautan rela diseberangi dan gunung rela didaki, kata orang—kini lebih kental sebagai dua orang yang saling bersahabat dan dua orang yang saling melengkapi. Kalau si dia sedang jauh, perasaanku tak lagi dipenuhi oleh rasa tak berdaya seperti dulu. Hidup masih berlanjut, meski terasa pincang—yah, namanya juga manusia normal. Tapi lama-lama aku berhasil deal with it. Alih-alih nangis bombay, aku lebih suka mengalihkannya untuk sesuatu yang lebih produktif.

Just a word of advice, don't do such LDR if you can. Although it has made our relationship grow in a special way that a normal couple might not have it, which I can then say that these hard time worth, still... nothing can be better than having him besides you. (Desiree)

Aku rasa kata-kata Desi benar adanya. Setiap kehidupan pernikahan—milik siapapun itu—punya plus minusnya sendiri, punya riak-riaknya sendiri. Kehidupan pernikahanku yang tidak ideal akibat terpisahnya kami ternyata memiliki sisi positif tersendiri. Kalau mengutip kata-kata Desi: LDR has made our relationship grow in a special way that a normal couple might not have it, which I can then say that these hard time worth. Seiring dengan lahirnya Hanif dan berjalannya waktu, kemandirianku menjadi jauh lebih kuat. Mentalku juga lebih tahan banting dan tidak se-melankolis dulu. Aktualisasi diri kami terpenuhi secara bebas, dan kami juga punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri (me-time).

Meskipun demikian, still... nothing can be better than having him besides you. Namanya juga pernikahan, idealnya memang harus dilalui seatap bersama. Kadang-kadang rindu sekali diri ini pada labuhan asa tempat menumpahkan segala curhat dan penat, atau sekedar teman ngobrol melewatkan malam. Rindu sekali diri ini pada sosok mitra bertukar pikiran dan merancang masa depan. Karena ketika bertemu setiap akhir pekan, waktu yang tercipta di antara kami selalu hanya berpusat pada Hanif—aku maklum, kalau sudah ada anak, si istri biasanya terlupakan :p (lebih-lebih karena si dia memang jarang bertemu Hanif).

Melewati dua tahun pernikahan, detil-detil kecil yang manis seperti kecupan, pelukan, colekan nakal, kerlingan genit, dan sebangsanya, sudah jauh berkurang. Entah terlupakan, entah tak lagi dianggap penting (terutama olehnya *sigh*). Wajar kalau aku sering merasa cemburu pada pasangan pengantin baru, karena pada mereka, biasanya detil-detil kecil yang manis ini sangat melimpah. Pertemuan akhir pekan yang singkat kadang tak memberi ruang untuk curhat dan diskusi panjang, karena perhatian terlanjur habis untuk Hanif. Seandainya kami bisa bertemu lebih sering, sehingga perhatian untukku juga seimbang dengan perhatian untuk Hanif.

Ah, hidup terlalu indah untuk dihabiskan dengan berandai-andai. Maka kusyukuri saja semuanya. Ketika akhir pekan tiba, dan kuberikan waktu sepuasnya bagi Hanif untuk berinteraksi dengan ayahnya, aku menyibukkan diri dengan my me-time. Kapan lagi aku bisa menulis, membaca buku, online, pergi senam, atau ke salon dengan nikmat tanpa diganggu Hanif? Alhamdulillah, there’s always a silver lining in every clouds.

Sekali lagi, pernikahanku baru seumur jagung. Masih panjang jalan terbentang, masih banyak tugas yang harus dikerjakan, masih banyak tanggung jawab yang harus ditunaikan. Ini baru permulaan. Hidup tak pernah sempurna, begitu juga kita, pasangan, dan pernikahan kita. Dalam hidup, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, maka syukuri saja apa yang sudah kita miliki. Menikah itu gampang. Menjaganya tetap utuh dan seimbang—seimbang lahir-batin, seimbang dunia-akhirat… itu yang susah.

Tulisan terkait:

Labels:

 
posted by Yustika at 9:37 AM | Permalink | 0 comments