Kelebihan dan Kelemahan

Wednesday, October 18, 2006


Postingan ini oleh-oleh dari wawancara-wawancara kerja yang pernah aku lalui. Sering banget kan, kita ditanya mengenai kelebihan dan kelemahan diri pas wawancara semacam itu. Karena aku fresh graduate yang masih fresh banget, aku banyak-banyak nanya ke orang-orang yang udah lebih dulu punya pengalaman wawancara, gimana sebaiknya jawabannya.

Macem-macem sih jawaban mereka. Tapi rata-rata sama cara ngejawabnya. Baru nemu satu jawaban yang aneh ketika aku nanya seseorang *buat yang ngerasa, maap ya, jawabanmu jadi aku kaji lagi lebih mendalam*. Dia bilang, kalau ditanya soal kelemahan, dia jawab, ”Nggak punya kelemahan.” What? Nggak punya kelemahan? Seriously, WHAT?? Tidak mengenali diri sendiri atau cerminan sikap arogan?

Orang itu bilang, kalau kita mengakui diri kita punya kelemahan, kita akan terjebak pada suatu stereotip tentang diri kita yang lemah dalam satu hal tertentu, entah secara sadar maupun tidak sadar. Lalu ketika kelemahan itu muncul ke permukaan, kita akan memaklumi sikap dan perbuatan kita dengan kalimat ”ah, toh saya memang seperti itu”. Begitu alasan dia. Hmm, aku manggut-manggut. Tapi kan, tapi kan... masa jadi orang nggak punya kelemahan. Biar gimanapun, aku masih anggap itu sebagai sebuah arogansi. Lama-lama aku jadi mikir sendiri...

Aku membaca buku Personality Plus beberapa tahun lalu. Buku itu mengubahku dalam banyak hal. Setelah baca buku itu, aku jadi lebih mengenali diriku sendiri *dan tentu juga orang lain* lewat kelebihan dan kelemahan yang diuraikan. Selama ini aku ngerasa buku itu powerful banget dalam memahami orang. Pokoknya jadi panduan banget lah buat aku.

Eh, sama orang yang aku ceritakan di atas tadi, buku itu dicemooh habis-habisan. Dia bilang males lah baca buku itu. Buat apa memahami watak kalau jadinya malah hidup dalam kotak-kotak kepribadian yang kita nggak bisa keluar darinya, begitu alasannya. Dia nggak suka kepribadian orang dideskripsikan sebagai sesuatu yang jelas dan pasti. Karena itu tadi. Ketika kita terjebak dalam suatu stereotip mengenai kepribadian kita, kita akan memaklumi segala sikap dan perbuatan kita karena kita pikir, begitulah kita adanya. Benarkah? Hmmm...

Ini hipotesis baru yang selama ini belum pernah menyentak perhatianku. Menurutku nggak begitu sih. Karena ketika kita memahami kelebihan dan kelemahan, kita lantas bisa menyikapi kehidupan dengan cara yang lebih proporsional dan bijaksana. Tahu gimana harus bersikap dan bertindak berdasar kepribadian kita itu. Bukan begitu? Ya iya sih, selama ini aku emang sering menjustifikasi sikapku yang pesimis dan gloomy sebagai intisari kepribadian melankolis phlegmatis-ku, jadi kadang suka ngeyel kalau dinasehati supaya aku optimis dan ceria memandang hidup. Mungkin itu yang dia enggak suka. Tapi kan, tapi kan... kegunaan memahami watak juga banyak. Jangan jadi skeptis begitu dong.

So, apa jawabanmu ketika ada orang yang bertanya mengenai kelebihan dan kelemahanmu?
 
posted by Yustika at 5:59 AM | Permalink |


2 Comments:


  • At 10:42 AM, October 18, 2006, Blogger prambudi

    Assm,..
    klo ditanya gitu ya,,, aku jawab spt ini

    nobody perfect... Kekurangan kita banyak.. ginilah, gitulah,..
    yach krn banyak kurangnya maka hal ini akan mendorong saya untuk lebih banyak belajar sehingga kekurangan tsb menjadi sesuatu yg minor bukan yg dominant....
    dan dalam lingkup kerja kita adalah teamwork dimana kekurangan saya menrupakan kekuatan teman yg lain, jadi saling bisa mengisi tho...
    btw tips apa ya yg bisa bikin kita punya personality plus ???

     
  • At 5:02 PM, November 14, 2006, Anonymous galih

    Tahu kelemahan kita adalah suatu kelebihan karena dari situ kita tahu diri kita. omong kosong jika orang tak punya kelemahan. jika ditanya kelemahan, aku akan menyebutkan kelemahanku, tetapi kelemahan yang mudah diperbaiki. adalah suatu hak seseorang untuk tidak mengutarakan kelemahan akutnya.