Epik Rama-Sinta

Thursday, October 20, 2005

Sendratari Ramayana, drama tari tanpa dialog yang bertutur tentang kisah Rama-Sinta, dipentaskan pertama kali di panggung open air Prambanan pada 1961. Epik Ramayana terlalu panjang untuk dikisahkan dalam satu pementasan. Oleh karena itu, Sendratari Ramayana dipadatkan menjadi empat lakon: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Kisah Ramayana terpahat pada relief Candi Prambanan dengan indahnya sejak abad ke-9. Relief kisah ini terpahat pada dinding penyangga Candi Siwa, diawali dengan kisah Dewa Wisnu menobatkan ular (naga) Ananta menjadi penguasa dunia sampai kisah Anoman memimpin pasukan kera menyeberangi lautan menuju negeri Alengka. Kisah ini kemudian berlanjut pada relief yang terpahat pada Candi Brahma yang terletak di selatan Candi Siwa. Selain Candi Prambanan, candi lain yang reliefnya memuat kisah Ramayana adalah Candi Panataran di Jawa Timur, sekitar abad ke-12 hingga abad ke-15. Pada relief Candi Panataran, kisah Ramayana bermula dari misi Anoman ke Alengka sebagai utusan dan berakhir dengan kematian Kumbakarna, saudara Rahwana.

Kisah Ramayana dalam budaya Jawa pertama kali ditulis oleh seorang penyair (kemungkinan bernama Yogiswara) yang mengarang kitab Ramayana Kakawin. Kitab yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada awal abad ke-10 ini bisa jadi merupakan literatur Jawa tertua, meskipun ditengarai berbeda dengan versi asli dari India. Kemudian pada abad ke-19, penyair sekaligus bangsawan Jawa bernama Yosodipuro I menulis kisah Ramayana versi Jawa bertajuk Serat Rama. Kisah Ramayana versi Jawa yang berkembang hingga saat ini banyak didasarkan pada versi Yosodipuro I tersebut.

Terdapat beberapa perbedaan utama antara kisah Ramayana versi Jawa dengan versi aslinya yang berasal dari India. Pada versi Jawa, tokoh Rama lebih humanis dan manusiawi. Pada versi aslinya, tokoh Rama digambarkan hampir seperti dewa. Perbedaan lainnya terletak pada ending cerita, yaitu tentang pengorbanan Sinta menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesucian dirinya. Pada versi India, kisah ini berakhir tragis dengan menghilangnya Sinta ditelan bumi. Pada versi Jawa, kisah ini malah berakhir bahagia. Ketika terbakar api, Sinta tidak terluka sedikitpun melainkan justru bertambah cantik. Pengorbanan Sinta itu, yang disebut-sebut sebagai ujian kesucian dirinya, berakhir dengan kesediaan Rama menerima kembali Sinta yang setia di sisinya. Happily ever after. Ihik ihik... kayak dongeng putri dan pangeran.

Terlepas dari hikayat dan sejarah mengenai kisah Ramayana (aiihhh, jadi ingat Babad Tanah Jawi-nya Papi... ke mana ya buku itu??), hal yang paling tidak kusukai dari kisah Rama-Sinta adalah kisah penolakan Rama. Ia tidak mau menerima kembali Sinta yang dianggapnya sudah ternoda oleh Rahwana. Wong yang diculik Sinta kok malah Sinta-nya yang disalahkan. Bukannya gimana gitu istrinya udah terselamatkan, Rama malah sibuk nolak-nolak. Bukannya menerima dengan tangan terbuka, Rama malah menyuruh istrinya menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesetiaan. Nah ini dia, potret khas kultur patriarki. Laki-laki merasa: mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Seolah-olah wanita harus pasrah bagaimanapun mereka diperlakukan. Aduuhh, nggak banget dehh. Masa kayak gini yang namanya cinta sejati??
 
posted by Yustika at 9:03 PM | Permalink |


4 Comments:


  • At 11:43 AM, October 26, 2005, Blogger frequenzy

    Yus, jangan berprasangka kaya gitu dunk. Ga semua laki - laki seperti itu. Dan setauku, Shinta diculik oleh Rahwana karena kesalahan (baca: sebab) dia sendiri. Rama pergi meninggalkan Shinta sendirian karena demi memenuhi permintaan Shinta yang menginginkan seekor binatang buruan, CMIIW.
    bersambung...

     
  • At 11:48 AM, October 26, 2005, Blogger frequenzy

    Sebelum meninggalkan Shinta, Rama sudah wanti - wanti kepada Shinta supaya jangan keluar dari batas lingkaran yang di buat oleh Rama. Dan perintah itu ternyata dilanggar oleh Shinta. Maka terjadilah peristiwa penculikan itu... :D
    Jadi, tau khan maksudnya???

     
  • At 11:57 AM, October 26, 2005, Blogger Yustika

    yah, aku ga menyalahkan pandanganmu, tom. kepatuhan terhadap suami adalah absolut. tapi bukankah cinta berarti memaafkan?

     
  • At 1:07 PM, October 08, 2007, Blogger megabz

    saya setuju sih ama pendapatmu =D
    tapi apa bole buat yah, dunia ini da berapa lama berjalan dibawah sistem patriarchy, and i don't think it's gonna change anytime soon, of just because you don't like it. From the start men were kinda ruling over us D: