Afirmasi

Tuesday, October 25, 2005
[edisi broken heart]

Lagi-lagi tentang afirmasi. Beberapa waktu lalu aku masih optimis bisa lulus Maret. Makin hari makin banyak orang bilang: mustahil aku bisa lulus Maret. Their words really bring me down. Kini aku merasa tidak mungkin bisa lulus Maret beneran. Can you believe it, even those words came up from my parents! Hmm, kayak gini ya, yang namanya support itu :(

Fine! Whatever...
I’m not doing this for you
I’m not doing this for them
I’m doing this just because I have to
And I’ll do it my own way


Go ahead yelling
Keep shouting
You can even continue screaming
Thanks, but I don’t take advice from people anymore

 
posted by Yustika at 5:21 PM | Permalink | 1 comments

Kopi


Entah sejak kapan aku menyukai kopi sebagai minuman favorit. Seingatku, pada masa-masa awal kuliah, rak penyimpanan masih dipenuhi dengan minuman rasa jeruk, jahe, susu, atau teh. Aku tak ingat secara tepat, kapan kopi jadi satu-satunya jenis minuman yang selalu setia nangkring di rak penyimpanan.

Kini secangkir kopi bahkan telah jadi teman setia mengarungi malam-malam yang dingin di kota kembang ini. Serasa ada yang kurang kalau semalaman berlalu tanpa secangkir kopi yang mengepul-ngepul. Hmmm, kopi dan begadang... benar-benar perpaduan yang buruk untuk kesehatan.

[Weks, baru kusadari, bukan di kala malam saja aku mencari-cari kopi. Pagi-pagi atau sore hari aku juga mencari secangkir kopi hangat. Siang-siang aku juga mencari segelas es kopi yang menyegarkan. Waduh, gawat... sudah jadi pecandu kopi rupanya.]
 
posted by Yustika at 5:14 PM | Permalink | 0 comments

Pernikahan

Pekan kemarin adalah pekan yang penuh dengan aura pernikahan. Kamis 20 Oktober 2005/16 Ramadhan 1426 H, sepasang teman melangsungkan pernikahan di Masjid Salman. Semalam sebelumnya, aku merenungkan banyak hal tentang pernikahan mereka dan bagaimana aku menatap masa depan. Hmmph...

Saat pernikahan mereka dilangsungkan, air mata meleleh di kedua pipiku. Berbagai hal berkecamuk dalam benak. Berbagai rasa berlarian dalam dada. Allah Maha Tahu betapa aku juga ingin menyegerakan pernikahanku. Telah begitu banyak hal terjadi...

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ’Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’.” (Q.S. 2: 286)

Ahad 23 Oktober 2005, seorang teman lain berkata padaku, ”Yus, aku batal menikah.” Aku tercenung mendengarnya. Persiapan pernikahannya telah memakan waktu berbulan-bulan dengan begitu banyak usaha kompromi dan ikhtiar berlapang dada. Kedua keluarga sudah bertemu, persiapan tinggal finishing, bahkan gedung sudah hampir dipesan. Karena perbedaan dalam satu hal prinsip, mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pernikahan. Allah... beginikah jadinya kalau kehendak-Mu yang bicara?

”...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. 2: 216)

Pekan kemarin adalah pekan yang penuh dengan tanya dalam benak, tentang sebuah tahapan kehidupan bernama pernikahan...
 
posted by Yustika at 5:03 PM | Permalink | 0 comments

Kutipan Favorit

Thursday, October 20, 2005
”Kita begitu berbeda dalam semua. Kecuali dalam cinta.”
(Nicholas Saputra, Gie)
 
posted by Yustika at 9:17 PM | Permalink | 0 comments

Instead Of

It’s like being in a world you really hate!
Instead of crying, why don’t you just start to put that sarcastic smile on your face?
And instead of blaming yourself, try to blame other people :p

Love yourself...
Enjoy your life!
 
posted by Yustika at 9:13 PM | Permalink | 0 comments

Surat Sakti

[edisi don’t care]

”... Berdasarkan data kemajuan akademik anak sdr, maka anak sdr masih memiliki matakuliah Sarjana Muda yang belum lulus. ... Apabila dalam batas waktu tersebut anak sdr belum berhasil menyelesaikan semua kuliah untuk tahap Sarjana Muda tersebut, maka kami dengan sangat menyesal menyarankan agar anak sdr mengajukan pengunduran diri sebelum batas waktu tersebut.”

Huekekekekekekek... dapat surat sakti dari Pak Eniman. Seberapa saktinya surat itu? Cukuplah untuk bikin ponsel berdering-dering akibat sms-sms Papi. Cukuplah bikin sakit perut sebentar. Tapi cuma sebentar. Nggak lama kemudian, amplop surat saktinya udah jadi alas cangkir kopi gw, huehehehe... Dasar gebleg...

Nggak usah dikasih batas waktu, Pak! Kalau dibolehin sama ortu sih, udah dari dulu gw cabut dari elektro...
 
posted by Yustika at 9:10 PM | Permalink | 3 comments

Epik Rama-Sinta


Sendratari Ramayana, drama tari tanpa dialog yang bertutur tentang kisah Rama-Sinta, dipentaskan pertama kali di panggung open air Prambanan pada 1961. Epik Ramayana terlalu panjang untuk dikisahkan dalam satu pementasan. Oleh karena itu, Sendratari Ramayana dipadatkan menjadi empat lakon: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Kisah Ramayana terpahat pada relief Candi Prambanan dengan indahnya sejak abad ke-9. Relief kisah ini terpahat pada dinding penyangga Candi Siwa, diawali dengan kisah Dewa Wisnu menobatkan ular (naga) Ananta menjadi penguasa dunia sampai kisah Anoman memimpin pasukan kera menyeberangi lautan menuju negeri Alengka. Kisah ini kemudian berlanjut pada relief yang terpahat pada Candi Brahma yang terletak di selatan Candi Siwa. Selain Candi Prambanan, candi lain yang reliefnya memuat kisah Ramayana adalah Candi Panataran di Jawa Timur, sekitar abad ke-12 hingga abad ke-15. Pada relief Candi Panataran, kisah Ramayana bermula dari misi Anoman ke Alengka sebagai utusan dan berakhir dengan kematian Kumbakarna, saudara Rahwana.

Kisah Ramayana dalam budaya Jawa pertama kali ditulis oleh seorang penyair (kemungkinan bernama Yogiswara) yang mengarang kitab Ramayana Kakawin. Kitab yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada awal abad ke-10 ini bisa jadi merupakan literatur Jawa tertua, meskipun ditengarai berbeda dengan versi asli dari India. Kemudian pada abad ke-19, penyair sekaligus bangsawan Jawa bernama Yosodipuro I menulis kisah Ramayana versi Jawa bertajuk Serat Rama. Kisah Ramayana versi Jawa yang berkembang hingga saat ini banyak didasarkan pada versi Yosodipuro I tersebut.

Terdapat beberapa perbedaan utama antara kisah Ramayana versi Jawa dengan versi aslinya yang berasal dari India. Pada versi Jawa, tokoh Rama lebih humanis dan manusiawi. Pada versi aslinya, tokoh Rama digambarkan hampir seperti dewa. Perbedaan lainnya terletak pada ending cerita, yaitu tentang pengorbanan Sinta menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesucian dirinya. Pada versi India, kisah ini berakhir tragis dengan menghilangnya Sinta ditelan bumi. Pada versi Jawa, kisah ini malah berakhir bahagia. Ketika terbakar api, Sinta tidak terluka sedikitpun melainkan justru bertambah cantik. Pengorbanan Sinta itu, yang disebut-sebut sebagai ujian kesucian dirinya, berakhir dengan kesediaan Rama menerima kembali Sinta yang setia di sisinya. Happily ever after. Ihik ihik... kayak dongeng putri dan pangeran.

Terlepas dari hikayat dan sejarah mengenai kisah Ramayana (aiihhh, jadi ingat Babad Tanah Jawi-nya Papi... ke mana ya buku itu??), hal yang paling tidak kusukai dari kisah Rama-Sinta adalah kisah penolakan Rama. Ia tidak mau menerima kembali Sinta yang dianggapnya sudah ternoda oleh Rahwana. Wong yang diculik Sinta kok malah Sinta-nya yang disalahkan. Bukannya gimana gitu istrinya udah terselamatkan, Rama malah sibuk nolak-nolak. Bukannya menerima dengan tangan terbuka, Rama malah menyuruh istrinya menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesetiaan. Nah ini dia, potret khas kultur patriarki. Laki-laki merasa: mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Seolah-olah wanita harus pasrah bagaimanapun mereka diperlakukan. Aduuhh, nggak banget dehh. Masa kayak gini yang namanya cinta sejati??
 
posted by Yustika at 9:03 PM | Permalink | 4 comments

Sendratari Ramayana



Sabtu 24 September 2005, aku dan keluarga berkesempatan menyaksikan pagelaran seni atraktif di Prambanan: Sendratari Ramayana. Sudah sejak bertahun-tahun lalu Papi ingin sekali menyaksikannya. Finally, kesempatan itu datang. Buat seorang pecandu wayang seperti Papi, pagelaran sekelas Sendratari Ramayana adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu.

Setengah delapan malam kurang seperempat, aku berjalan menaiki pintu masuk yang berundak-undak. This is my first time, jadi setelah karcis masuk kuserahkan, aku segera memandang berkeliling. Dari pintu masuk, aku sampai di pelataran temaram yang bersuasana khas Jawa. Cahaya-cahaya lilin berpendaran menentramkan. Petugas berbusana adat Jawa sibuk mengatur dan menunjukkan posisi tempat duduk kepada audiens. Tak jauh dari kolam bersinarkan lampu hijau redup, ada seperangkat meja-kursi dari balok kayu. Di dekatnya ada dua gazeebo. Satu gazeebo bertuliskan coffe shop, tempat audiens bertiket VIP menukarkan kupon soft drink. Satu gazeebo lain sedang berdendang melantunkan tembang-tembang Jawa, lengkap dengan sinden dan penabuh gamelan. Waktu aku berdiri di depan gazeebo itu menikmati lantunan tembang, semilir angin makin lama makin membuai rasa. Gileeee... baru masuk aja udah keren banget... Tak lupa foto-foto ala wong ndeso :p

Jalan ke panggung open air masih berupa undakan. Alhamdulillah kami mendapat tempat duduk yang sangat ideal, meskipun itu berarti harus merogoh kocek sedikit lebih dalam. Di depan, belakang, dan samping kami semuanya Mr/Mrs Bule. Serasa jadi bule nih ;) Panggung gelap di bawah sana masih bisu. Latar belakangnya Candi Prambanan dan langit malam yang berbintang-bintang. Keren bangettttt...


Jalan cerita sendratari akan aku ceritakan di postingan berikutnya. Pokoknya asli keren banget. Pagelaran berlangsung dua jam diselingi masa istirahat lima belas menit, didukung oleh ratusan penari dan puluhan macam kostum, serta didukung oleh lighting ribuan watt yang memukau. Tata panggungnya juga asyik: ada banyak celah tempat keluar penari, dua di antaranya dari barisan bangku audiens. Two thumbs up buat penabuh gamelan yang dari awal sampai akhir menghidupkan cerita dengan iringan gamelan yang rancak. Yang paling heboh saat adegan Anoman Obong: dua gubuk di belakang panggung dibakar dengan api yang bener-bener besar. Wah, asli keren. Mungkin memang masih kalah gempita dibanding pagelaran Megalitikum Kuantum di Jakarta beberapa waktu lalu. Tapi harap diingat, Sendratari Ramayana tetap lebih unggul karena ia digelar tiap beberapa hari sekali dengan effort yang sama per penampilan. Bandingkan dengan Megalitikum Kuantum yang meski levelnya sangat besar tapi cuma digelar dua kali di Jakarta dan Bali.

Menyaksikan Sendratari Ramayana menyisakan beberapa hal dalam benak. Catatan pertama: ternyata masih ada sisi pariwisata kita yang seatraktif ini. Benar-benar nggak rugi menjadikan pengalaman menonton ini sebagai sesuatu yang berharga. Ternyata audiens nggak masalah tuh dengan harga tiket kalau memang yang disuguhkan sebanding. Pelajaran untuk pariwisata kita secara keseluruhan, bahwa usaha untuk meningkatkan kualitas pariwisata (bolehlah kalau berimbas pada harga tiket) LEBIH PENTING daripada mengeluhkan sedikitnya dana yang akhirnya membuat pengurus ogah-ogahan meningkatkan kualitas objek wisatanya. Duh, jadi merana kalau ingat pertunjukan wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo, yang sepi pengunjung.

Catatan kedua: bagi siapapun yang ingin menyaksikan Sendratari Ramayana, ada baiknya paham dulu jalan cerita pewayangan kita. Kalau nggak, bisa bingung setengah mati karena pagelaran ini minim dialog. Kalaupun ada, paling-paling berupa selipan tembang berbahasa Jawa di sana-sini. Nanti bisa bingung yang mana itu Lesmana, Jatayu, Indrajid, Kumbakarna, Sugriwa, apalagi Subali.

Hayooo yang ngaku orang Jawa, gimana... ngerti nggak? Sok-sokan banget aku nih. Padahal tanpa Papi yang malam itu bertindak sebagai translator adegan, aku juga nggak akan ngerti jalan ceritanya :p Wah, wayang memang kesukaan Papi. Bertahun-tahun lalu saat aku dan kakakku masih kecil, saat anak-anak lain didongengi kisah peri, putri, dan pangeran, kami kenyang menelan wayang sebagai dongeng pengantar tidur. Aku, kakakku, dan adikku sama-sama pernah merasakan malam minggu di Gedung Wayang Orang Sriwedari, melihat pertunjukan wayang orang sambil terkantuk-kantuk. Thanks to Papi, yang telah memperkenalkan dunia pewayangan ke dalam dunia kami, hingga aku merasa bangga terlahir menjadi orang Jawa (biarin narsis :D ). Nggak tahu apakah aku juga akan menurunkannya pada anak-anakku kelak, mengingat dunia pewayangan itu sedikit demi sedikit mulai terkikis dari ingatanku.

 
posted by Yustika at 8:55 PM | Permalink | 0 comments