Tuesday, July 09, 2024

Buku: Koleksi Sepanjang Masa

Semenjak aku kecil, aku kerap berganti-ganti koleksi. Koleksi pertamaku adalah gantungan kunci karena waktu itu aku sangat terkesan dengan beraneka gantungan kunci oleh-oleh papiku sepulang menempuh S2 di Kanada. Di mataku sebagai anak kecil, gantungan-gantungan itu lucu-lucu sekali. Sejak saat itu, aku mulai mengumpulkan berbagai macam gantungan kunci dari berbagai daerah, sebagiannya merupakan oleh-oleh dari teman dan saudara ketika mereka melancong. Sayangnya, semua koleksi itu kusimpan di rumah orang tuaku di Solo sehingga aku tak dapat memajang fotonya di sini.

Sebagaimana anak perempuan di zaman itu, aku juga pernah mengoleksi lembaran loose leaf. Gambarnya bagus-bagus dan lucu-lucu. Saking menariknya, aku sampai tak tega menulis di atas lembaran-lembaran itu. Cukup dielus-elus dan dipandangi saja, atau sesekali ditukar dengan koleksi teman. Entah ke mana sekarang perginya lembaran-lembaran itu.

Ilustrasi koleksi loose leaf, foto diambil dari sini

Beranjak remaja lalu dewasa, koleksiku beralih menjadi koleksi buku dan komik dari pengarang favorit. Dulu semasa keluargaku masih berlangganan majalah Bobo, aku gemar sekali membaca serial Pak Janggut dan mengumpulkan sisipan-sisipannya, lalu dibundel menjadi kumpulan tersendiri. Sayangnya ketika aku kuliah di luar kota, koleksi Pak Janggut-ku ikut diloakkan oleh mamiku bersama majalah-majalah lawas yang memenuhi gudang. Sedih sekali rasanya waktu itu. Untung sekarang koleksi itu sudah tergantikan dengan serial Pak Janggut dalam bentuk PDF, yang kuunduh dari tautan seorang teman.

Serial Pak Janggut, foto diambil dari sini

Beberapa koleksi buku yang cukup serius kukumpulkan dan kusimpan hingga kini adalah koleksi Tintin, novel-novel karya Agatha Christie, dan novel-novel karya Nicholas Sparks.

Komik Tintin, Serial Petualangan Pembuka Jendela Dunia

Siapa yang tidak kenal dengan Tintin? Rasanya setiap anak 90-an pasti mengenalnya. Komik Tintin adalah serial yang diciptakan oleh Hergé, seorang penulis komik dari Belgia, yang menceritakan petualangan seorang wartawan Belgia muda bernama Tintin. Dia memiliki seekor anjing setia bernama Snowy/Milo/Milou dan beberapa kawan yang bergantian muncul dalam kisah-kisahnya, seperti misalnya Kapten Haddock, Profesor Lakmus/Kalkulus, serta Dupont dan Dupond/Thomson dan Thompson.

Koleksi komik Tintin, foto diambil dari sini

Sebagai anak kecil dengan keingintahuan yang besar tentang dunia luar, membaca komik Tintin membuatku serasa dibawa bertualang ke tempat-tempat baru. Mungkin dari komik Tintin-lah aku pertama kali membaca nama-nama tempat seperti Tibet, Kongo, dan Azerbaijan.

Kisah Tintin menampilkan petualangan dengan berbagai elemen, mulai dari fantasi, misteri, politik, hingga sains fiksi, dengan tetap dibumbui oleh humor. Hal ini bisa dibilang cukup wow karena komik ini dibuat pada era Perang Dunia. Sungguh sangat visioner dan melampaui imajinasi pada zaman itu, terutama tentang kisah-kisah ekspedisi Tintin ke bulan yang bahkan pada masa itu belum pernah terjadi.

Dari 24 seri Tintin, sepertinya hanya sekitar 5-6 buku yang tidak kumiliki. Saking ngefans-nya aku dengan komik ini, Museum Hergé di Brussels menjadi salah satu destinasi wisata yang masuk ke dalam bucket list. Semoga suatu hari nanti aku bisa berkunjung ke sana.

Novel Agatha Christie, Novel Pertamaku

Novel Agatha Christie adalah novel yang pertama kubaca dan menjadi pemantikku dalam kegemaran membaca novel. Kalau tidak salah ingat, waktu itu aku duduk di kelas 5 atau 6 SD, dan “Pesta Hallowe'en” adalah novel Agatha Christie yang pertama kubawa pulang dari kios persewaan buku.

Foto diambil dari sini

Tidak seperti Hergé yang menulis Petualangan Tintin dari hasil riset, novel-novel Agatha Christie banyak melibatkan pengalaman pribadi dan kehidupannya sehari-hari. Latar belakangnya sebagai perawat membantunya memiliki pengetahuan soal cairan-cairan mematikan yang dapat digunakan sebagai senjata pembunuh. Perjalanannya melawat ke berbagai tempat dan negara juga menjadi inspirasi untuk menulis kisah-kisah dalam novelnya.

Karya-karya Agatha Christie yang paling terkenal bercerita tentang detektif fiksi Hercule Poirot dan Miss Marple, dua tokoh favoritku. Setelah membaca hampir semua judul novelnya, lama-lama aku jadi bisa menebak cara berpikir Agatha Christie dalam menentukan siapa tokoh antagonisnya. Meskipun demikian, caranya menulis alur dan membuat penokohan selalu membuatku kagum. Sebagai penulis fiksi, aku banyak belajar dari novel-novelnya.

Novel Nicholas Sparks, Bukti Bahwa Pria Bisa Romantis

Membaca karya fiksi selalu menjadi kesenangan buatku, sejak zaman kecil dulu hingga kini sudah menjadi emak beranak lima. Setelah menjadi penulis fiksi (abal-abal, hahaha), membaca karya fiksi seolah menjadi kewajiban untuk menambah ilmu dan memperkaya khazanah. Supaya dapat menulis fiksi dengan baik tentu aku harus mengisi pula asupan dengan banyak membaca karya fiksi.

Saat ini dalam membaca karya fiksi, aku juga mengamati bagaimana penulis membangun unsur-unsur intrinsik seperti membangun tema, menentukan sudut pandang, menciptakan penokohan beserta karakternya, menuliskan alur, menggunakan gaya bahasa, dan memilih latar. Ada banyak sekali novel yang menginspirasiku–tentu tak akan cukup aku bahas di sini–tetapi ada satu penulis yang novelnya cukup kaya untuk dipelajari sisi-sisi kepenulisannya.

Gambar diambil dari sini

Adalah Nicholas Sparks, seorang penulis yang dikenal sebagai spesialis penulis dengan ending tragis dalam novel-novelnya, yang membuatku terkagum-kagum. Dia piawai dalam menulis deskripsi dan menggambarkan suasana yang sangat membantu pembaca untuk membayangkan konteks cerita. Tidak hanya pada latar, tetapi juga pada bagian-bagian detail lainnya. Penggambaran selalu deskriptif mengenai apa pun dan tidak membosankan, meskipun selalu dilihat dari sudut pandang orang pertama.

Sparks selalu keren dalam menciptakan tokoh yang berkarakter. Sudut pandang orang pertama sering dipakai dalam novel, tetapi jarang ada novel romantis yang “aku”-nya adalah seorang laki-laki. Tokohnya digambarkan sangat manusiawi. Dari segi penggambaran emosi, perasaan tokoh pun tersampaikan dengan baik. Hal ini tentu membuat pembaca ikut larut dalam cerita. Aku angkat topi untuk kemampuan Sparks menulis tentang emosi secara mendalam.

Beberapa judul novelnya tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga koleksiku tidak cukup lengkap (aku lebih suka membaca novel dalam Bahasa Indonesia). Sebagian besar novelnya bahkan tak lagi dicetak ulang oleh Gramedia. Meskipun hanya tujuh judul novelnya yang kumiliki, koleksi ini termasuk koleksi yang kuanggap sangat berharga.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli yang bertema “Koleksi”.

1 comment:

  1. Buku dan komik memang selalu seru ya untuk dijadikan koleksi, yang tak bosan dibaca berkali-kali. Saya baru baca 2 atau 3 novelnya Nicholas Sparks. Memang mengaduk-aduk emosi banget ya ceritanya. Jadi pengen baca yang lainnya juga.

    ReplyDelete