Jurnal Pernikahan [1]

Saturday, June 02, 2007

Kamis, 31 Mei 2007

Ada banyak sekali hal ternyata, yang perlu dipersiapkan untuk sebuah pernikahan :D

Waktu persiapan biasanya dimulai setahun, setengah tahun, sampai tiga bulan sebelum hari H. Tapi pernikahanku akhirnya terlaksana dengan waktu persiapan hanya dua bulan! Bukan apa-apa sih, habis sebelumnya Mami dan Papi sibuk terus. Yah, lama waktu persiapan itu tergantung masing-masing orang. Yang penting matang. Kira-kira inilah poin-poin yang dipikirkan selama waktu itu.

Gedung Resepsi

Kalau resepsi dilakukan di rumah, nggak ada masalah. Tapi kalau resepsi dilakukan di gedung, kita harus bener-bener memikirkan kapan waktu yang tepat untuk booking gedung. Gedung-gedung yang banyak jadi incaran orang biasanya di-book setahun sampai setengah tahun sebelum hari H.

Nah, dalam hal ini, alhamdulillah aku beruntung. Gedung Wanita ”Sasana Kridha Kusuma” yang kami pilih untuk April, bisa di-book pada Februari karena ada satu slot waktu kosong yang jadi semacam waiting list. Karena pemesan sebelumnya batal, maka hak booking jatuh pada kami. Alhamdulillah. Tapi ini keberuntungan lho ya. Alhamdulillah sekali karena dipermudah oleh Allah. Tidak dianjurkan untuk ditiru, hehehe. Habis booking gedung dengan sangat mendesak dan ada faktor kebergantungan pada orang lain seperti ini jelas bukan ide yang bagus. Lebih baik dipersiapkan jauh-jauh hari.

Katering

Sama seperti gedung, masalah katering adalah masalah ”wajib”. Katering yang bagus juga kadang-kadang mengharuskan kita mem-book jauh-jauh hari dengan booking fee yang tidak sedikit. Karena mereka laris, kita harus rebutan booking dengan orang lain. Maka ada baiknya kita segera bayar booking fee untuk tanggal resepsi yang sudah ditentukan, meskipun waktu itu kita belum terbayang sajian menu yang akan dipesan. Pokoknya booking saja lah. Pihak katering akan memberi waktu untuk mempertimbangkan menunya belakangan. Ini pengalaman pribadiku dengan Katering ”Dhahar Eco”.

Perias Pengantin

Tadinya aku mau pakai perias pengantin Jawa yang bernama Bu M. Beliau ini njawani banget. Riasannya juga halus, khas pengantin Solo. Pengalaman Bu M juga udah bertahun-tahun. Tapi ternyata oh ternyata, karena Bu M ini keukeuh riasannya njawani, beliau rada keberatan kalau hasil riasannya ”ditutup” jilbab. Lho lha gimana, wong aku-nya berjilbab kok. Ya udah, akhirnya cari alternatif lain.

Cari ke sana kemari sambil tanya teman-teman, akhirnya ketemu salon muslimah ”Aufa”. Periasnya bernama Mbak Tatik. Lebih gampang dilobi dan diajak kompromi, jadi enak. Mengakomodasi keinginanku lewat serangkaian diskusi serta fitting baju dan jilbab. Akhirnya jadilah riasan pengantin yang meskipun berjilbab, nuansa jawanya sangat kental. Paesan-nya (paesan = riasan pengantin putri Jawa secara keseluruhan) lengkap: ada gajahan, melati kawung untuk sanggul, melati tiba dhadha, cundhuk mentul, plus aksesoris lain semacam kalung, giwang, dan bros. Aku juga ambil perawatan calon pengantin di salon ini sehari sebelum akad nikah: creambath, luluran, ratus, dan spa rempah.

Kebaya Pengantin

Sejak awal, aku ingin pernikahanku sarat dengan nuansa Jawa. Makanya aku bertekad memakai kebaya dan kain tradisional (jarik) dengan motif yang sesuai pakem, yaitu motif Sidomukti. Motif ini melambangkan kehidupan yang makmur dan dicintai banyak orang.

Untuk akad nikah, aku memakai kebaya putih, jarik Sidomukti prada, jilbab putih dengan selendang putih yang dipasang tinggi di puncak kepala. Untuk acara tasyakuran, aku memakai kebaya coklat berpayet, jarik Sidomukti halus, serta riasan Jawa lengkap. Perancang dan penjahit kebayaku adalah Mbak Ning dari ”Solo Baggio”. Tadinya aku memilih kebaya pengantin tradisional Solo yang berwarna hitam dengan desain yang sesuai pakem, tapi kata Mami, sekarang udah jarang anak muda yang memakai itu karena terkesan kuno. Akhirnya aku nurut aja memakai kebaya pengantin modern dengan payet-payet dan gaya desain yang lebih kekinian.

Tips buat yang akan bikin baju pengantin, usahakan banyak survei. Buka-buka majalah pernikahan untuk mencari ide rancangan, atau banyak tanya ke sesepuh kalau ingin memakai baju tradisional. Jangan lupa juga untuk survei perancang / penjahit bajunya, cari yang bagus dan sesuaikan dengan anggaran. Lebih bagus lagi kalau bisa dapat yang bagus dengan harga murah (hehehe, ada nggak ya?). Dan yang terpenting, pesan baju jauh-jauh hari. Paling telat dua bulan sebelum hari H. Ini untuk jaga-jaga kalau hasil fitting ternyata masih perlu perbaikan. Jangan salah, fitting-nya bukan cuma sekali lho. Apalagi kalau selama pembuatan baju, badan kita naik-turun ukurannya (alias lebih kurus atau lebih melar). Hehehe, emang serasa kayak artis sih, pake fitting baju pengantin segala :p

...to be continued...


Labels:

 
posted by Yustika at 10:05 AM | Permalink |


0 Comments: