Intrapreneur

Wednesday, December 07, 2005
Jumat malam lalu ketika aku bertandang ke Sangkuriang, anak-anak sedang sibuk bermain kartu di kamar Husnu. Ribut banget. Penasaran dengan jenis permainan baru mereka, aku turut mengamati jalannya permainan. Karena bosan dan nggak ngerti-ngerti, aku mengambil sebuah buku dari rak Husnu. Hmmm, tentang intrapreneur... Kira-kira tentang apa ya?

Dari obrolanku dengan Husnu sehari setelahnya, aku mendapat sedikit gambaran tentang intrapreneur, bahasan yang –-kata Husnu-– masuk dalam lingkup bahasan manajemen inovasi. Sebenarnya aku kurang tertarik dengan ranah manajemen, tapi semenjak kuliah manajemen industri semester lalu, dan semenjak mengamati bahwa perusahaan yang dinaungi oleh klub Manchester United menjadi perusahaan raksasa karena manajemennya yang kuar biasa, aku jadi merasa sedikit ingin tahu.

Intrapreneur merupakan kependekan dari intraorganization entrepreneur. Kalau entrepreneur diartikan sebagai orang yang memiliki daya, upaya, dan usaha secara mandiri, maka intraorganization entrepreneur berarti orang yang memiliki jiwa entrepreneur tetapi berstatus sebagai pegawai di suatu perusahaan. Jadi, seorang intrapreneur tidak memiliki usaha secara mandiri, melainkan bekerja pada suatu perusahaan. Namun, ia memiliki daya dan potensi menjadi entrepreneur karena karakteristik yang dimilikinya.

Dalam suatu perusahaan, seorang yang berjiwa intrapreneur berpotensi menjadi kompetitor perusahaan bila ia keluar dan mendirikan usahanya sendiri. Oleh karena itu, manajemen perusahaan tempatnya bekerja harus memberikan perhatian khusus terhadap para pegawainya yang semacam ini. Biasanya orang seperti ini keluar bila mereka merasa tidak puas, misalnya jika ide-ide briliannya tidak mendapat tempat, atau terlalu dikekang oleh manajemen perusahaan.

Salah satu kunci kesuksesan perusahaan-perusahaan besar di Amerika, misalnya General Motor, adalah dengan memberikan ruang yang luas kepada para pegawai yang berjiwa intrapreneur. Meskipun pimpinan seringkali merasa dilangkahi oleh kebebasan mereka, nyatanya ruang inovasi berlangsung progresif dengan adanya orang-orang seperti ini.

Menjadi seorang intrapreneur pun tidak kalah menariknya. Tidak perlu mendirikan perusahaan sendiri tetapi mampu berkreasi dan berinovasi dengan bebas. Bukan rahasia lagi kalau seorang intrapreneur juga lebih mudah mendapat kedudukan dibanding dengan pegawai yang biasa-biasa saja.

Nah, lalu bagaimana caranya menjadi seorang intrapreneur? Kalau yang ini aku belum tahu, karena aku baru menyelesaikan bab pendahuluan buku Husnu itu. Belum sempat kubuka bab selanjutnya, permainan kartu sudah bubar dan anak-anak dengan riang mengajakku pergi makan-makan ke Cibiuk.
 
posted by Yustika at 4:09 PM | Permalink |


0 Comments: