Football is Life

Saturday, March 19, 2005
Beberapa waktu yang lalu, di dunia maya, saya tak sengaja bertemu teman lama. Kami sudah hampir empat tahun tidak bertemu. Alih-alih saling bertukar cerita, kami malah asyik berbincang tentang sepakbola, satu topik yang sangat menyita perhatian kami. Saat itu, teman tersebut sedang bersiap akan menginap di kantornya untuk menyaksikan pertandingan derby antara Manchester United dan Manchester City, hanya karena televisi kantornya sangat lebar. “Plasmanya gede, biar asyik nontonnya,” begitu katanya.

Buat saya: football is life. Bertahun-tahun yang lalu saya menyukai sepakbola untuk pertama kalinya, dan sampai saat ini, banyak sekali hal yang dapat saya pelajari dari sepakbola. Bahkan untuk seorang introvert seperti saya yang sangat sulit menemukan topik pembicaraan yang nyambung dengan banyak orang, sepakbola menjadi solusi.

Sepakbola bukan perkara biasa. Bukan hanya perkara mencari lahan kosong, memasang gawang, lalu membagi kelompok menjadi dua tim seperti yang kita lakukan di masa kecil. Sepakbola bukan sekedar permainan berebut dan menceploskan bola. Sepakbola punya lebih dari itu: di dalamnya tersaji drama dan lakon tentang manusia dan kehidupan. Terlalu berlebihan? Ah, tentu tidak. Sepakbola adalah pesta. Sarat prestasi, penuh prestise, dan glamour. Sepakbola adalah permainan yang ikut menentukan martabat bangsa dalam pergaulan internasional.

Tak heran jika negara-negara menempatkan olahraga ini dalam posisi terhormat. Olahraga paling populer di dunia ini dijadikan sarana menjembatani perbedaan suku, bangsa, ras, bahasa, dan kebudayaan. Sepakbola dianggap paling pas, bisa diterima semua pihak, untuk menyatukan masyarakat yang multikultural. Segala perbedaan itu diharapkan bisa mencair dengan memakai satu bahasa yang sederhana dan universal, sepakbola. Sebut saja misalnya, kampanye antirasisme yang kini sedang didengung-dengungkan di Eropa atau kampanye Football for Hope yang beberapa waktu lalu dilakukan untuk membantu korban tsunami di Asia Tenggara.

Pada era yang kian global, sepakbola tradisional lambat laun telah menjadi sebuah industri komersialisasi yang dijaga agar tetap beradab. Inggris, sebagai negara asal sepakbola modern, adalah salah satu contoh negara yang sukses dengan komersialisasi sepakbolanya, jauh lebih sukses dari negeri-negeri saingannya seperti Italia, Jerman, Spanyol, atau Perancis.

Pemerintah mengurus sepakbola dengan sangat serius. Stadion-stadion dibangun, klub-klub dihidupkan, kompetisi dimeriahkan, pertandingan disulap semenarik mungkin. Hingga tercipta atmosfer sepakbola yang ramah, hangat, mempesona, dan megah.

Seabad lebih Inggris membangun sepakbolanya. Sejak Football Association (FA) berdiri tahun 1863, Inggris perlu waktu 129 tahun untuk menemukan konsep kompetisi modern bernama The FA Premier League tahun 1992. Konsep ini –diakui atau tidak– didasari keinginan klub Inggris untuk memperkaya diri. Mereka sadar bahwa produknya laku dijual. Dengan kompetisi berkualitas, mereka merayu pelaku ekonomi yang bisa mendongkrak pendapatan mereka.

Sejak itu, sepakbola Inggris –juga negara-negara sepakbola lain di Eropa– makin mewah. Klub-klub elit menjadi rebutan. Perusahaan besar berebut mencantumkan nama atau logo di kostum klub. Jaringan televisi yang menyiarkan pertandingan ke seluruh dunia membuat sepakbola menjadi papan reklame yang berharga mahal. Bintang-bintang sepakbola dunia mengatrol gengsi kompetisi tinggi-tinggi. Suporter makin betah berlama-lama di stadion mendukung klub kesayangannya sembari disuguhi aksi-aksi memikat. Penjualan tiket, hak siar televisi, bisnis merchandise, semuanya makin memperkaya klub-klub besar dunia itu.

Namun, para pelaku sepakbola juga tidak lupa daratan. Jauh dari maksud melacurkan pertandingan demi kepentingan bisnis semata, mereka tetap menjaga prinsip-prinsip dasar sepakbola. Mereka tetap khawatir dengan fenomena banjir pemain asing sehingga dibuatlah cara supaya tetap ada bintang lokal yang muncul ke permukaan. Mereka masih tetap mengedepankan nilai-nilai fair play dan sopan santun di lapangan sehingga tingkah laku bintang-bintang lapangan hijau tetap disoroti dengan kritis. Bahkan, kini kebijakan-kebijakan baru tentang suporter juga diberlakukan agar tidak menodai semangat sepakbola, seperti menindak tegas para suporter yang berbuat ulah dan menjatuhkan denda pada tim suporter yang bersangkutan.

Di atas semua itu, hal terpenting dari sukses komersialisasi sepakbola tetaplah bersandar pada hukum alam sepakbola, yaitu prestasi. Satu-satunya cara meraihnya adalah dengan tetap memutar kompetisi yang teratur, terorganisir, dan teruji kualitasnya, serta tetap melakukan pembinaan yang berkesinambungan. Sepakbola kini memiliki ajang sendiri-sendiri di tiap kancah, baik internasional, regional, maupun lokal.

Meskipun banyak kalangan memiliki pandangan skeptis bahwa padatnya kompetisi membuat tim-tim sulit berprestasi, kita tidak bisa menafikan peran penting ajang-ajang kompetisi ini. Lewat kompetisi-kompetisi yang bertebaranlah, para pelaku sepakbola mengecap berbagai pengalaman dan membuka diri terhadap pola-pola permainan baru yang lebih modern, atraktif, dan dinamis, sehingga mereka tidak hanya berkutat pada satu ciri pola lama saja.

Dengan adanya profil klub-klub ideal yang pandai mencari celah bisnis untuk menarik keuntungan besar tetapi tetap konsisten menjaga prestasi, hajatan sepakbola mencapai puncaknya. Inilah kesuksesan yang lahir dari keseriusan mengurus permainan yang sebenarnya sangat sederhana ini. Pesta (ideal) yang terlaksana pun menjadi pesta yang tanpa ribut-ribut atau baku pukul di lapangan. Pesta yang membuat semua orang bersorak gembira, melupakan sejenak kepenatannya, dan membiarkan semua perbedaan mencair sembari menikmati suguhan yang memikat. Dari sepakbola kita belajar tentang sportivitas, tentang semangat berprestasi, tentang profesionalisme, juga tentang cinta…
 
posted by Yustika at 8:30 AM | Permalink |


0 Comments: