Pilih Daycare atau Babysitter?

Tuesday, October 12, 2010
Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa babysitter andalan minta resign, tak pelak aku kebingungan. Bagaimanapun, sebenarnya tanggung jawab mengasuh anak itu adalah tanggung jawab natural yang tak hendak kuhindari. Tapi mau tidak mau, karena bekerja, aku harus mendelegasikan tugas itu kepada orang lain ketika aku berada di luar rumah. Dan sebagai bentuk dari tanggung jawab itu adalah memilihkan pengasuh yang terbaik buat anak, yang satu visi dan satu pemikiran denganku soal bagaimana mengasuh anak.

Selama ini babysitter memang menjadi pilihan utama. Dalam rentang waktu usia Hanif 0-2 tahun, aku rasa tempat terbaik baginya adalah di rumah, terawasi satu lawan satu dengan si babysitter. Dan aku tak main-main dalam mencari pengasuh terbaik ini. Harus yang kredibel, tak sembarang comot. Maka dua tahun lalu, didapatlah keputusan untuk mengambil babysitter dari Daarut Tauhiid. Insya Allah terpercaya akhlaknya. Dan ternyata memang benar (baca ceritaku di sini).

Ketika sekarang usia Hanif menginjak 2 tahun 4 bulan dan si babysitter minta pamit, ada beberapa pertimbangan yang membuatku melirik daycare. Jujur, ini masih terkait dengan usaha-memilihkan-pengasuh-terbaik-buat-anak itu. Ada beberapa poin dalam perkembangan Hanif yang menjadi kegelisahanku. Ini dia:
  • Hanif belum lancar bicara. Secara konsep dia sudah mengerti semuanya, tapi secara verbal dia masih terpatah-patah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya suku kata paling belakang dari tiap kata. Aku pribadi masih menganggap ini normal karena progres bicara tiap anak berbeda-beda, tapi apakah memang benar demikian adanya? Padahal di rumah, rasanya tak kurang-kurang kami merangsang sisi linguistiknya (mengajak ngobrol, membacakan buku cerita, melihat VCD/DVD bersama sambil bercerita, dan lain-lain). Aku pikir mungkin dengan bergaul di daycare, perkembangan bahasanya bisa lebih meningkat.
  • Sekarang ini tingkat egonya sedang luar biasa. Susah berbagi, anak tetangga tidak diperbolehkannya main ke rumah, dan beberapa indikasi lain yang membuatku curiga pada kurangnya sisi sosialnya. Atau memang lagi masanya ya? Entahlah. Tapi kupikir daycare akan bisa mengajarinya tentang persahabatan, brotherhood, suka duka berbagi, dan keceriaan kebersamaan. Juga mengajarinya bahwa di luar sana tidaklah semudah berbagai bentuk kemanjaan di rumah (eits, bukan berarti aku memanjakannya ya). Bukankah sejak kecil anak juga harus diajari kerasnya kehidupan (halah bahasanya!) ketika dia harus menghadapi persaingan (dengan teman sebaya) dan usaha untuk survive?

Namun demikian, ada juga kekhawatiran bila Hanif dititip di daycare:
  • Kata Ayahnya, dia belum mandiri, jadi masih mengkhawatirkan bila ditinggal sendiri di lingkungan yang belum tentu memahaminya. Salah satunya terkait dengan belum-bisa-ngomongnya itu. Kalau kami sekeluarga yang sering berinteraksi dengannya kan sudah paham dengan celotehnya yang patah-patah itu. Di daycare yang notabene anak tidak terawasi satu lawan satu dengan pengasuh, kami khawatir Hanif agak “terbengkalai” karena belum bisa mengutarakan maksudnya dengan jelas.
  • Di Bandung, Hanif kan cuma tinggal berdua sama aku. Artinya, tanpa babysitter, tanpa suami yang menemani, kalau malam aku harus siap stand by seorang diri. Masalahnya, dia termasuk anak aktif yang suka memanjat, suka menyentuh ini itu, sehingga membuatku paranoid kalau tidak diawasi. Salah-salah bisa kejedot, jatuh, atau berbagai hal mengerikan lainnya. Apalagi aku termasuk makhluk yang paling-tidak-bisa sebentar di kamar mandi. Tidak nyaman rasanya harus melakukan ritual di kamar mandi cepat-cepat. Belum kalau Hanif sakit, aku harus begadang sendirian. Belum juga kalau akunya yang sakit, masih harus mengasuh Hanif tanpa bisa istirahat karena tidak ada orang yang bisa diajak gantian.
  • Alat transportasi yang kami punya cuma sepeda motor. Artinya, antar jemput Hanif dari dan ke daycare harus siap bertempur dengan panas dan hujan. Panas mungkin tidak jadi masalah ya. Tapi bagaimana kalau musim hujan? Kasihan Hanif yang bakal sering terpapar air hujan dan bisa menjadikannya sakit.
  • Masalah lain yang muncul adalah bagaimana jika aku harus keluar kota, yang artinya bakal berangkat pagi-pagi dan pulang malam seperti yang sudah-sudah? Daycare kan belum buka. Kepada siapa Hanif dititipkan, mengingat kami tidak punya kerabat di Bandung ini? Satu lagi kepusingan.
  • Mungkin ini memang tidak penting bagi sebagian orang yang membaca, tapi ini sangat penting buatku. Yang kumaksud adalah rutinitas yang sering kujalani sepulang kerja seperti: senam aerobik, berenang, dan fisioterapi. Kadang-kadang menyempatkan ke salon juga. Kalau Hanif dititipkan di daycare, berarti aku harus mengucapkan selamat tinggal pada aktivitas tersebut, mengingat aku harus segera menjemputnya. Ini bukan hal yang mudah. Bukan berarti aku egois ya, tapi aktivitas itu demi “menjaga kewarasan” seperti yang aku kutip dari sini.

Bagi kami, waktu egois saya adalah investasi, demi menjaga kewarasan. Kebutuhan untuk bersosialisasi, kebutuhan untuk mendapat ide segar dari kegiatan di luar rumah, kebutuhan untuk mengurusi dan menyegarkan diri sendiri (yang sebagian ibu suka manfaatkan dengan creambath di salon, belanja di mal, atau dalam kasus saya; jalan-jalan sendirian dan baca buku yang sebelumnya dipinjam dari rumah buku yang dikelilingi kebun bibit), lahir ataupun batin.

Update:

Setelah Hanif melewati satu hari yang lancar di daycare, akhirnya aku mendapat stok babysitter dari Daarut Tauhiid. Jadi, hari-hari Hanif di daycare—untuk minggu ini—cukuplah sampai tiga hari saja. Selanjutnya dia akan kembali diasuh di rumah.

Keputusan untuk kembali bersama babysitter ini didapat melalui diskusi yang cukup alot dengan suami dan Mami. Tarik ulur antara segi positif dan negatif bila Hanif dititip di daycare—seperti yang aku tulis di atas, berlangsung cukup seru :)

Rencana ke depannya, mungkin Hanif akan “disekolahkan” lagi di daycare dua kali seminggu untuk mengoptimalkan proses belajarnya. Keputusan ini dibuat untuk mengakomodasi banyaknya manfaat yang didapat Hanif dari daycare.

Yah, pada akhirnya, semoga semua ini adalah yang terbaik buat Hanif, karena tidak ada satupun langkah dan keputusan yang tidak kami mintakan petunjuk dari-Nya. Insya Allah.

Labels: ,

 
posted by Yustika at 9:35 PM | Permalink |


0 Comments: