Baby Blues

Wednesday, September 11, 2019

Mendengar berita tentang postpartum depression (PPD) di saat kondisi diri sedang menjadi postpartum mama itu cukup membuat terhenyak. Usia bayinya mirip-mirip, paling cuma selisih sebulanan. Speechless.

Menjadi postpartum mama itu memang sungguh melelahkan. Kalaupun kita berhasil menjadi cukup waras, tetap saja kita mentally and physically exhausted. Hingga usia Kirana 2 bulan lebih saat ini, tidurku masih kacau. Cuma bisa tidur 1-2 jam sehari selepas subuh, karena semalaman harus tidur bersandar memangkunya. Duh semoga dia bisa segera terbiasa tidur diletakkan di kasur mengingat 4 minggu lagi aku sudah harus masuk kerja. Tak terbayang tiap pagi berangkat ke kantor dengan kondisi jadi zombie 😣

Secara mental aku pun merasa sangat lelah. Menghadapi keriuhan 4 anak yang gaduh tiada henti, dengan kondisi fisik capek dan ngantuk, tentu sangat mudah tersulut emosi. Jadinya selama postpartum ini hampir tiap hari aku membentak anak-anak 😭
Sampai-sampai Kayla memilih tidur bersama eyangnya sekarang karena katanya hampir tiap malam aku marahi 💔💔💔

Yah, inti tulisan ini adalah: mood swing dan ketidakwarasan pascapersalinan itu benar adanya, mulai dari kadar minimal seperti yang aku alami hingga kadar ekstrim seperti PPD. So be nice to postpartum mama. Please support us. We're already tired, drained, and exhausted. Atau kalau tak bisa membantu, paling tidak tak usah menambah masalah.

Labels: ,

 
posted by Yustika at 4:54 PM | Permalink | 0 comments

Conscious Eating

Tuesday, September 10, 2019

Sudah sejak lama aku menerapkan kesadaran saat makan. Lupa persisnya kapan, tapi sejak mahasiswa memang sudah memulai makan sehat, dari food combining hingga kini pola makan seimbang. Sejak saat itu, kalau mau makan pasti mikir dulu: kira-kira makanan ini sehat apa nggak, berguna nggak buat tubuh, atau malah nambahin kalori, memperberat kerja pencernaan padahal nggak ada gizinya? Alhamdulillah "mikir sebelum makan" itu menjadi kebiasaan baik karena enak nggak enak itu sebenarnya hanya di mulut, sisanya tinggal baik atau nggak baik buat tubuh.

Namun ada masanya pola makan sehat ini rada kendor, termasuk ketika usai lahiran 2 bulan lalu. Mentang-mentang jadi busui yang tiap saat selalu lapar, alih-alih menerapkan conscious eating, segala hal dimasukkan ke mulut. Yang bertepung-tepung, yang bergula-gula, bahkan yang nggak ada gizinya 😣
Alhasil BB yang sudah normal pascapersalinan, dalam waktu 1,5 bulan langsung naik 5 kg 😓. Tobat tobaaat.

Seminggu ini kembali mencoba menerapkan pola makan sehat. Bener-bener aware dengan apa yang masuk mulut. Alhamdulillah meski BB baru turun 1 kg, lingkar perut sudah berkurang 6 cm. Bukan diet biar langsing ya tujuan utamanya, tapi hidup sehat dan hidup aktif nggak keberatan badan 😬 supaya kita bisa sehat dan bugar membersamai pasangan dan anak-anak dalam keseharian.

Foto diambil dari @naturale.ind, partner makan sehatku. Sudah sejak hamil langganan ini, karena paket mereka sungguh lengkap, termasuk pregnancy programme, breastfeeding programme, hingga weight loss programme. Sekedar makan sehat biasa juga ada paketnya. Yang mau pembentukan otot, persiapan jadi manten, kondisi kesehatan khusus, vegetarian juga ada paketnya. Super lengkaaappp dan free ongkir se-Bandung. Makanannya fresh karena dikirim 3x sehari sesuai waktu makan. Pelayanannya pun memuaskan. Hepi banget lah pokoknya 😃

Labels:

 
posted by Yustika at 4:50 PM | Permalink | 0 comments

Postpartum Exercise

Tuesday, September 03, 2019

Ilmu sebelum amal. Dalam hal apapun. Bersyukur aku diberi kesempatan untuk memahami persoalan postnatal ini. Jadi ya Buu.. pascamelahirkan there's no need to jump back to your regular exercise immediately. Jangan langsung sit-up demi perut buncit cepet kempes, jangan langsung lari demi pengen cepet turun berat badan, jangan langsung senam aerobik demi bodi cepet langsing. Benerin core dulu ya Buuu. Dan ini prosesnya beda-beda tiap orang. Bisa 3 bulan, bisa 6 bulan.. tergantung kondisi dan treatment apa yang dilakukan.

Berdasar self-assesment, pascamelahirkan aku punya DR 1-2-1. Maksudnya gap diastasis recti-nya 1 jari di atas pusar, 2 jari di area pusar, dan 1 jari di bawah pusar. Yang satu jari inipun nggak bisa dibilang aman karena depth-nya lumayan. So sekarang mulai disiplin merutinkan postnatal exercise tiap hari, minimal 30 menit sampai satu jam. Berhubung di Bandung susah banget cari postnatal class, ya sudah harus cukup puas bermodal Youtube 😅

Let the postpartum journey begin!

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 4:36 PM | Permalink | 0 comments

Kirana's Birth Story

Friday, July 19, 2019
Kirana dan buku Science of Yoga

Knowledge is power.
Ilmu sebelum amal.
Kalimat klise yang selalu teruji kesaktiannya, pun dalam birth story-ku kali ini (siap-siap baca tulisan panjang yaa).

Persalinan ini adalah persalinan paling ideal sepanjang riwayatku melahirkan lima anak. Ideal menurut versiku tentu. Tetap ada hal-hal yang tidak dapat dikondisikan karena berada di luar kuasa. Tapi paling tidak, ini persalinan paling "menyenangkan".

Semua bermula sejak awal kehamilan. Setelah fase denial berlalu (maklum tadinya memang sudah berniat stop punya anak lagi), aku malah jadi makin bersemangat untuk menjadikan kehamilan kali ini berjalan lancar. FYI beberapa bulan sebelum hamil, aku mengikuti Soft Prenatal Yoga Workshop - Training for Instructor yang digawangi oleh Teh Nena—suhunya Prenatal Vinyasa Yoga di Indonesia, yang pernah mendapat bimbingan langsung dari Jennifer More. Saat itu sempat tercetus kata-kata "coba ya aku tahu ilmunya begini sebelum hamil anak-anak". Qodarullah diberi kesempatan hamil lagi untuk mempraktekkan ilmu yang aku dapat saat itu (moral of the story: hati-hati dengan ucapanmu).

Persiapan Pengetahuan


Berbekal ilmu yang aku dapat dari Teh Nena, menyusul kemudian aku juga mengikuti Prenatal Yoga TTC 30 jam dari Teh Ujie—suhunya Yoga Leaf, makin mantap jaya untuk mempraktekkan prenatal yoga pada kehamilan kali ini.

Selain itu aku juga mengikuti kelas persiapan persalinan bersama Teh Agustina—seorang bidan, AMANI certified Child Birth Educator dan doula, sekaligus praktisi prenatal yoga (Maaak, paket komplit banget dirimu). Kelas privat yang aku ikuti bersama suami ini sedikit banyak memberi gambaran mengenai proses persalinan yang akan dihadapi, what to do dan when to do sehingga aku dan suami tidak terlalu clueless dan tahu harus melakukan apa saat menunggu bukaan demi bukaan.

Persiapan Fisik dan Nafas


Praktek prenatal yoga yang aku lakukan empat kali dalam seminggu (dua kali mengajar kelas, satu kali ikut kelas Teh Nena, dan satu kali kadang-kadang ikut prenatal yoga session bersama komunitas Ngayoga) berperan penting melatih persiapan fisik dalam persalinan yang melibatkan panggul dan jalan lahir.

Tanpa latihan dan persiapan yang maksimal, otot panggul bisa kaku, ligamen menjadi tidak seimbang sehingga banyak keluhan di kala hamil. Persiapan fisik merupakan salah satu bentuk pemberdayaan diri ibu hamil yang bisa dilakukan sedini mungkin (jangan tunggu hingga mendekati due date).

Selain itu dalam prenatal yoga kita juga selalu melatih nafas dan teknik untuk relaksasi. Saat kita bisa menguasai nafas, kita bisa menguasai pikiran dan tubuh. Saat kita bisa menguasai pikiran dan tubuh, kita dapat mengendalikan atau mengelola emosi dan rasa sakit yang dialami. Ini berguna sekali dalam pain management saat kita mengalami kontraksi.

Persiapan fisik dan nafas bukan sesuatu yang didapat secara instan. Rajin berlatih saat hamil membawa banyak manfaat: untuk meminimalisir keluhan fisik selama hamil, mengoptimalkan posisi janin, dan memperlancar proses persalinan insya Allah.

Persiapan Mental


Secara teori, pernah melahirkan empat anak sebelumnya seharusnya mampu membuatku "kenyang" akan pengalaman bersalin. Tapi nyatanya masih tetap ada perasaan takut ini itu, perasaan belum siap, dsb. Nah maka dari itu, aku  mempersiapkan mental dengan banyak membaca dan melihat video-video tentang kehamilan dan persalinan, juga mendengarkan sharing para bumil. Dua akun IG yang tak pernah lupa kusambangi di antaranya @azanifitria dan @jamilatus.sadiyah (check them out ya, Gaesss).

Pasrah dan Ikhlas


Setelah segala ikhtiar dijalani, tak lupa juga untuk selalu memanjatkan doa pada-Nya, semoga kehamilan dan persalinan kali ini berjalan dengan lancar, aman, nyaman, dan minim trauma.

Due Date


Oke, dengan persiapan segambreng yang sudah ditulis di atas, apakah aku siap menjalani maternity leave? Tentu tidak hahaha.
Jadi ya, load kerja kantor ini Subhanallah, membuat aku masih harus banyak menyelesaikan ini itu, bahkan ketika harusnya aku sudah cuti. Akhirnya aku pepetkan cuti mendekati due date. Qodarullah kok ya cuti hari pertama langsung terasa kontraksi, untung tidak terlambat, bisa-bisa brojol di kantor wkwkwk.

Sabtu 6 Juli hingga Senin 8 Juli kontraksi mulai datang rutin, tapi intensitasnya masih mild dan jaraknya pun masih 10-15 menit sekali. Aku masih santai ke mana-mana sambil memperbanyak jalan kaki. Senin selepas isya, kontraksi mulai rapat: 7-9 menit sekali. Ketika akhirnya berhasil mengantar tidur Kayla (iyaa dia nggak tidur-tidur padahal kontraksi sudah 5 menit sekali hauhauhau), kami segera berangkat ke RS.

Ilmu dari Mbak Mila masih aku ingat tentang kapan harus berangkat ke RS, pakai rumus 5-1-2: jarak antarkontraksi sudah 5 menit sekali, lama masing-masing kontraksi berlangsung selama 1 menit, dan kondisi ini sudah berlangsung selama 2 jam. Rumus ini diterapkan supaya kita tidak terlalu awal datang ke RS. Bukan apa-apa, kalau terlalu awal kadang kita bisa senewen sendiri menunggu bukaan yang masih lama, ujung-ujungnya bisa stres dan tidak rileks. Begitu.

Sampai di RS Senin 8 Juli pukul 23.15. Saat cek bukaan pukul 23.30, sudah bukaan empat. Karena di RS yang ini agak ketat, bumil yang akan bersalin biasanya disuruh berbaring miring ke kiri. Waduh, dengan posisi diam seperti itu kontraksi demi kontraksi akan terasa lama dan lebih menyakitkan. Akhirnya aku nego untuk tetap duduk—kalaupun tidak boleh turun dari kasur. Dengan posisi bound angle pose aku terus memutar panggul (pelvic rocking) selama kontraksi datang, sambil mengatur nafas dengan dalam dan perlahan. Tak lupa untuk tersenyum dan melemaskan rahang. Tidak mengencangkan atau menegangkan bagian tubuh merupakan salah satu cara jitu untuk rileks. Mengatupkan rahang dengan keras untuk menahan rasa sakit justru kontraproduktif dengan hal itu, jadi kalau kontraksi datang.. senyumin aja ya.

Bound Angle Pose atau Baddha Konasana

Pada jeda di sela-sela kontraksi, suami memijat punggung dan panggulku untuk merelaksasi otot-otot yang tegang. Sesekali mengambilkan minum. Ini salah satu hal yang paling membahagiakan selama sejarah persalinan yang aku alami, karena suami membersamai dengan peran aktif, memberikan perhatian dan empati. Mungkin pada persalinan-persalinan sebelumnya dia clueless sehingga tidak tahu harus berbuat apa hihihi.

Selasa pagi pukul 01.30 cek bukaan lagi, ternyata sudah bukaan tujuh jelang delapan. Alhamdulillah cepat. Susternya sampai heran, katanya kontraksi sudah intens dan kuat tapi aku kok kelihatan tenang-tenang saja, bahkan masih bisa tersenyum. Ambang sakitnya tinggi ya, begitu tanyanya. The power of relaksasi, Sus, timpalku dalam hati. Justru sebenarnya ambang sakitku itu rendah, gampang sekali teriak kalau merasa sakit. Makanya cukup amazing juga kali ini hehe. Mengatur nafas jadi kunci penting untuk menguasai pikiran dan tubuh, yang berguna untuk mengelola emosi dan rasa sakit. Selasa 9 Juli pukul 02.30 akhirnya Kirana lahir, diikuti dengan proses IMD.

Pada persalinan ini Alhamdulillah aku juga berhasil nego dengan dokter kandungan untuk tidak melakukan episiotomi. Akhirnya tetap dijahit sih, tapi bukan karena epis melainkan karena robek alami. Dan benar seperti yang Teh Agustina bilang, robek alami ini akan mencari jalannya sendiri, bisa jadi melalui sel-sel yang sudah mati atau lemah. Maka penyembuhan pascapersalinan akan jauh lebih mudah dan ringan. Amazing memang, jahitan banyak tapi tidak terasa sakit. Jauh beda dengan jahitan pada persalinan-persalinan sebelumnya. Pascapersalinan aku sudah lincah kembali seperti tidak dijahit saja. Ini hal lain yang membuat persalinan kali ini membahagiakan dan less drama. Alhamdulillah.

Satu pelajaran penting yang aku petik dari proses persalinan Kirana: usaha tidak mengkhianati hasil. Allah tempat kita bergantung, semua takdir berjalan sepenuh kehendak-Nya, itu suatu keniscayaan. Namun pasrah, ikhlas dan tawakal seharusnya juga sejalan dengan ikhtiar yang dilakukan. Pemberdayaan diri ibu hamil sejak awal kehamilan hingga persalinan bukan saja mempermudah dan menyamankan proses itu sendiri, tapi juga meminimalisir trauma. Insya Allah hasilnya ibu dan bayi yang sehat dan bahagia.

Oh ya, berikut link yang sangat berguna ketika proses persalinan kemarin:
  • Gerakan dan teknik yang bisa dilakukan menjelang persalinan, bisa dilakukan sejak di rumah hingga menunggu bukaan di RS: klik di sini
  • Tips mengurangi nyeri persalinan: klik di sini

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 11:05 AM | Permalink | 0 comments

Bread Maker Merk Re-Bread

Thursday, October 20, 2016
Beberapa bulan lalu, di salah satu grup emak-emak yang aku ikuti, ramai perbincangan mengenai Re-Bread. Bread maker ini ngehits di kalangan emak-emak karena katanya roti yang dihasilkan bisa lembut dan penggunaannya mudah. Karena aku dan anak-anak sangat menggemari roti, langsung muncul keinginan untuk membelinya. Apalagi di waktu senggang aku memang sangat suka membuat kudapan semacam cake dan roti.

Untuk memastikan roti yang dihasilkan memang benar enak dan lembut, aku mencoba membeli produk jadi yang ditawarkan oleh seorang ibu di grup, yang kebetulan memang menjadi agen produk ini. Beliau sudah banyak membuat roti dari alat ini, dan penerimaan pasar cukup antusias karena rotinya bervariasi dan enak-enak semua. Di bawah ini adalah ragam roti buatan beliau yang aku ambil dari sini.



Setelah yakin dengan kelezatan roti hasil Re-Bread, aku memutuskan membeli alat ini akhir September lalu, saat distributor resminya mengadakan promo buy 1 get 1 (maksudnya: beli satu Re-Bread akan mendapat gratis satu Re-Ice, alat pembuat salad dan es krim). Re-Bread yang kupilih adalah tipe RB 250, karena memiliki menu yang paling banyak. Terdapat 22 menu untuk pilihan berkreasi, di antaranya: roti, kue, yoghurt, ketan uli, selai buah, tape ketan, bubur ayam, bubur kacang hijau, dll. Jenis roti yang bisa dibuat juga sangat beragam, mulai dari roti tawar, roti manis, roti lembut, roti gandum, roti tanpa gula, roti oatmeal, roti susu, roti unyil, donat, dsb.

Re-Bread tipe RB 250, gambar diambil dari sini

Kelengkapan Re-Bread, gambar diambil dari sini

Beberapa menu yang sudah kubuat dengan Re-Bread adalah roti keju, donat, dan roti sosis. Memang betul tekstur rotinya lembut dan mengembang dengan baik. Supaya lebih mantap rasanya, air dalam resep di buku kuganti menjadi susu cair dan margarin kuganti menjadi butter. Sayang aku belum punya pisau roti yang bergerigi sehingga hasil potongan roti dalam bentuk loaf itu menjadi mleyot-mleyot tidak karuan hehehe.

Roti keju

Enaknya bikin roti sendiri adalah bisa kasih isian keju suka-suka sampai full begini :)

Donat menul-menul baru keluar dari penggorengan. Belum dikasih topping, tapi dimakan gini aja udah enak. Fluffy dan lembut.

Malam-malam bikin donat 19 biji, digoreng sebelum tidur. Rencananya buat bekal sekolah anak atau cemilan kalau busui ini tiba-tiba kelaperan tengah malam. Pagi-pagi bangun lihat donatnya tinggal 5 biji aja dong. Kalah cepet sama anak-anak. Alhamdulillah lakuuuu.

Roti sosis

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 1:19 PM | Permalink | 0 comments

Dalam Hening

Thursday, June 09, 2016
Menjadi pasangan LDM berarti tidak bisa membicarakan langsung dengan pasangan tentang hal-hal yang ingin dibicarakan. Harus menunggu. Karena percakapan instant messenger itu semu, tidak cukup mewadahi hal-hal lain: kontak mata, ekspresi, urun rembug yang ter-delay jarak dan waktu. Bagaimana dengan percakapan lewat telepon? Hei, pikirmu dia tidak sibuk?

Kalaupun akhirnya bertemu, belum tentu waktunya ada untukmu. Karena pasangan sibuk dengan anak-anak, sibuk jalan-jalan, atau minimal sibuk dengan gadget.

Menjadi pasangan LDM juga berarti harus memutuskan sendiri hal-hal yang perlu segera diputuskan. Kalaupun menanyakan pada pasangan, balasannya datang entah kapan.

MEMAKLUMI.

Sebuah kata yang makna dan konsekuensinya dalam. Karena ada keikhlasan dan kesabaran di situ.

Labels:

 
posted by Yustika at 8:27 AM | Permalink | 0 comments

Carrot Cupcake dengan Frosting Blueberry Cheesecake Ice Cream

Wednesday, June 01, 2016
Eksekusi baking kue kali ini memakan waktu beberapa hari karena tertunda terus. Yang pertama tertunda karena badan tepar kecapekan sepulang kerja, yang kedua karena terpaksa pulang telat dari kantor gegara kerjaan. Padahal nyicil memarut wortelnya sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Nyicil membuat frosting juga, secara anak-anak sudah ribut ingin segera membantu proses baking kue.

Resepnya cukup mudah. Sama seperti resep Strawberry Cheesecake Ice Cream Cake yang lalu, carrot cupcake ini juga memiliki dua komponen utama: kue sama frosting-nya. Frosting-nya pakai resep Strawberry Cheesecake Ice Cream yang sudah di-post ya, hanya saja kali ini aku memakai selai blueberry.


Resep Carrot Cupcake


Bahan:
  1. 200 gram gula palem
  2. 180 mL minyak goreng
  3. 60 gram yoghurt plain
  4. 3 butir telur ayam ukuran sedang
  5. 250 gram tepung terigu
  6. 1 sdt baking soda
  7. 2 sdt bubuk kayu manis
  8. 1/2 sdt garam
  9. 260 gram wortel parut


Cara membuat:
  1. Masukkan bahan-bahan kering dari nomor 5 s.d 8 ke dalam baskom ukuran kecil dan campur menggunakan whisk sampai merata.
  2. Masukkan bahan nomor 1 dan 2 ke dalam baskom ukuran besar, lalu kocok dengan mixer pada kecepatan sedang.
  3. Tambahkan yoghurt, lanjutkan pengocokan pada kecepatan tinggi selama kurang lebih 1 menit.
  4. Tambahkan telur satu per satu, lanjutkan pengocokan pada kecepatan tinggi.
  5. Tambahkan hasil adukan bahan-bahan kering ke dalam adonan dan aduk sampai rata menggunakan spatula.
  6. Tambahkan pula wortel parut ke dalam adonan dan aduk sampai rata menggunakan spatula.
  7. Masukkan adonan pada cetakan cupcake sampai 3/4 penuh, lalu panggang di oven pada temperatur 175 derajat celcius selama kurang lebih 20 menit hingga matang.


Campuran wortel pada adonan

Siap dipanggang

Sudah matang, tinggal di-frosting

Labels:

 
posted by Yustika at 3:07 PM | Permalink | 0 comments

Baper

Friday, May 27, 2016
Baper adalah... ketika teman yang kita anggap dekat ternyata tidak menganggap kita teman dekatnya -__-

Sekitar dua puluh tahun lalu, mamiku pernah memberi nasehat supaya tidak terlalu akrab jika bersahabat dengan seseorang. Karena seringkali pengkhianatan yang paling menohok adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh teman dekat. Eh terlalu lebay ya, maksudnya sakit hati yang paling sakiiit itu adalah sakit hati yang diakibatkan oleh teman dekat. Mungkin karena teman dekat itu adalah tempat berbagi banyak hal, tempat sandaran dan curhat kita sehari-hari.

Dulu aku pernah punya pengalaman buruk terkait pertemanan dengan sesama perempuan (baca di sini). Ya wajar sih, perempuan kalau berteman kan selalu melibatkan perasaan. Dan memang biasa juga dalam dunia perempuan, pertemanan berbentuk geng atau kelompok hang out.

Di kantorku juga ada yang seperti itu. Beberapa hari lalu ketika aku bergabung di kantin dengan salah satu geng kemudian ternyata aku tidak diperhatikan lalu aku pergi diam-diam (dan ternyata mereka juga tidak sadar ketika aku pergi *sigh*), ada yang berkomentar, “Makanya bikin geng dong”. Beuh.

Kembali ke awal tulisan, baper adalah... ketika teman yang kita anggap dekat ternyata tidak menganggap kita teman dekatnya. Hmm, aku mau nulis apa sih ini wkwkwk. Pengen nulis panjang lebar tapi takut ada yang merasa lalu tersinggung. Jadi intinya, ada beberapa orang di kantor yang tadinya aku mengira kami sangat dekat, lalu ada perlakuannya di kemudian hari yang mengindikasikan ternyata kami tidak sedekat itu. Ya seperti bertepuk sebelah tangan begitu deh. Dan itu rasanya sakit lho, Saudara-saudara!

Mungkin aku harus kembali mengikuti kata-kata mamiku. Ga usah sobat-sobatan dekat lagi, bikin baper tauk! Hahaha I wish I could say that kepada mereka yang jadi tersangka. Wis ah ngacapruk-nya. Benar-benar curhat yang nggak mutu wkwkwk.

Labels:

 
posted by Yustika at 4:40 PM | Permalink | 0 comments

Strawberry Cheesecake Ice Cream Cake

Thursday, April 28, 2016
Resepnya hasil nyontek dari Tia, tapi tetep yaa.. hasil tak seindah aslinya hahaha. It's okay, namanya juga baru belajar. Yang penting rasanya tetap enak ;)

Jadi kue ini punya dua komponen utama: kue sama frosting-nya. Kuenya pakai resep Moist Chocolate Cake, frosting-nya pakai resep Strawberry Cheesecake Ice Cream.


Resep Moist Chocolate Cake


Bahan:
  • 125 gram terigu
  • 120 gram gula
  • 33 gram cocoa
  • 1 sdt soda kue
  • 1/2 sdt garam
  • 120 mL minyak
  • 120 mL buttermilk (susu cair + perasan jeruk nipis)
  • 120 mL air
  • 1 butir telur, kocok dengan garpu

Cara membuat:
  1. Aduk rata terigu, gula, cocoa, soda kue, dan garam. Masukkan minyak, aduk hingga kental seperti pasta. Masukkan buttermilk, aduk rata. Masukkan air sedikit demi sedikit, aduk rata. Tambahkan telur, aduk rata.
  2. Tuang ke dalam beberapa buah loyang lingkaran diameter 12-15 cm yang telah dioles margarin, dilapis kertas roti, dan dioles margarin lagi. Panggang 175 derajat celcius selama 15-20 menit hingga matang (tes tusuk). Dinginkan.
  3. Keluarkan dari loyang, hias dengan ice cream frosting. Lebih enak lagi pakai strawberry segar.
  4. Simpan di kulkas, atau potong-potong seukuran single serving dan bekukan di freezer. Jadi deh ice cream cake!

Resep Strawberry Cheesecake Ice Cream


Satu resep jadinya kebanyakan untuk frosting kue diameter 12-15 cm, jadi boleh bikin setengah resep atau selebihnya bisa dibekukan dan dinikmati sebagai es krim 🍨
Lebih enak lagi kalau ditambahkan crumbs / biskuit yg dihancurkan sebelum dibekukan.

Bahan:
  • 120 gram susu kental manis (boleh ditambah/kurangi sesuai selera)
  • 250 gram cream cheese, suhu ruang
  • 60 gram butter, suhu ruang
  • 1 sdm perasan jeruk nipis
  • 200-250 gram whipped cream, kocok hingga soft peak
  • 200-250 gram selai strawberry

Cara membuat:
  1. Kocok susu kental manis, cream cheese, butter, dan perasan jeruk nipis hingga lembut.
  2. Tambahkan whipped cream, kocok rata.
  3. Masukkan selai strawberry, aduk sedikit saja supaya tekstur selai masih kelihatan.
  4. Gunakan untuk menghias cake atau bekukan di freezer.

Labels:

 
posted by Yustika at 4:08 PM | Permalink | 1 comments

Proll Tape

Kali ini aku berkreasi dengan tape. Alhamdulillah dapat tape yang matang dan manis di pasar. Resep aslinya sih dikukus. Namun ketika membuat untuk kedua kalinya, aku mencoba memanggang proll tape ini, dengan sedikit modifikasi penambahan parutan keju pada adonan. Ternyata hasilnya malah lebih enak!

Proll tape kukus mengembang dengan cantik di kukusan

Proll tape kukus siap disajikan

Proll tape panggang fresh from the oven

Potongan proll tape panggang yang moist

Resep Proll Tape


Bahan:
  • 100 gram tape singkong, buang seratnya
  • 50 gram tepung terigu
  • 5 sdm gula pasir
  • 3 butir telur
  • 1 sdt vanili bubuk
  • 50 mL susu kental manis
  • 2 sdm margarin, lelehkan
  • Parutan keju secukupnya
  • Choco chips untuk topping (opsional)


Cara membuat:
  1. Kocok telur dengan gula hingga gula larut. Masukkan tepung terigu, margarin cair, vanili dan susu kental manis. Aduk rata.
  2. Masukkan parutan keju. Aduk rata.
  3. Hancurkan tape lalu masukkan ke adonan. Aduk rata. 
  4. Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin.
  5. Kukus selama kurang lebih 15 menit atau hingga mengembang dan matang. Atau panggang dalam oven dengan suhu 180 derajat celcius selama kurang lebih 20 menit. Taburkan choco chips dalam keadaan setengah matang.
  6. Proll tape siap disajikan hangat.

Labels:

 
posted by Yustika at 3:05 PM | Permalink | 0 comments