Dalam Hening

Thursday, June 09, 2016
Menjadi pasangan LDM berarti tidak bisa membicarakan langsung dengan pasangan tentang hal-hal yang ingin dibicarakan. Harus menunggu. Karena percakapan instant messenger itu semu, tidak cukup mewadahi hal-hal lain: kontak mata, ekspresi, urun rembug yang ter-delay jarak dan waktu. Bagaimana dengan percakapan lewat telepon? Hei, pikirmu dia tidak sibuk?

Kalaupun akhirnya bertemu, belum tentu waktunya ada untukmu. Karena pasangan sibuk dengan anak-anak, sibuk jalan-jalan, atau minimal sibuk dengan gadget.

Menjadi pasangan LDM juga berarti harus memutuskan sendiri hal-hal yang perlu segera diputuskan. Kalaupun menanyakan pada pasangan, balasannya datang entah kapan.

MEMAKLUMI.

Sebuah kata yang makna dan konsekuensinya dalam. Karena ada keikhlasan dan kesabaran di situ.

Labels:

 
posted by Yustika at 8:27 AM | Permalink | 0 comments

Carrot Cupcake dengan Frosting Blueberry Cheesecake Ice Cream

Wednesday, June 01, 2016
Eksekusi baking kue kali ini memakan waktu beberapa hari karena tertunda terus. Yang pertama tertunda karena badan tepar kecapekan sepulang kerja, yang kedua karena terpaksa pulang telat dari kantor gegara kerjaan. Padahal nyicil memarut wortelnya sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Nyicil membuat frosting juga, secara anak-anak sudah ribut ingin segera membantu proses baking kue.

Resepnya cukup mudah. Sama seperti resep Strawberry Cheesecake Ice Cream Cake yang lalu, carrot cupcake ini juga memiliki dua komponen utama: kue sama frosting-nya. Frosting-nya pakai resep Strawberry Cheesecake Ice Cream yang sudah di-post ya, hanya saja kali ini aku memakai selai blueberry.


Resep Carrot Cupcake


Bahan:
  1. 200 gram gula palem
  2. 180 mL minyak goreng
  3. 60 gram yoghurt plain
  4. 3 butir telur ayam ukuran sedang
  5. 250 gram tepung terigu
  6. 1 sdt baking soda
  7. 2 sdt bubuk kayu manis
  8. 1/2 sdt garam
  9. 260 gram wortel parut


Cara membuat:
  1. Masukkan bahan-bahan kering dari nomor 5 s.d 8 ke dalam baskom ukuran kecil dan campur menggunakan whisk sampai merata.
  2. Masukkan bahan nomor 1 dan 2 ke dalam baskom ukuran besar, lalu kocok dengan mixer pada kecepatan sedang.
  3. Tambahkan yoghurt, lanjutkan pengocokan pada kecepatan tinggi selama kurang lebih 1 menit.
  4. Tambahkan telur satu per satu, lanjutkan pengocokan pada kecepatan tinggi.
  5. Tambahkan hasil adukan bahan-bahan kering ke dalam adonan dan aduk sampai rata menggunakan spatula.
  6. Tambahkan pula wortel parut ke dalam adonan dan aduk sampai rata menggunakan spatula.
  7. Masukkan adonan pada cetakan cupcake sampai 3/4 penuh, lalu panggang di oven pada temperatur 175 derajat celcius selama kurang lebih 20 menit hingga matang.


Campuran wortel pada adonan

Siap dipanggang

Sudah matang, tinggal di-frosting

Labels:

 
posted by Yustika at 3:07 PM | Permalink | 0 comments

Baper

Friday, May 27, 2016
Baper adalah... ketika teman yang kita anggap dekat ternyata tidak menganggap kita teman dekatnya -__-

Sekitar dua puluh tahun lalu, mamiku pernah memberi nasehat supaya tidak terlalu akrab jika bersahabat dengan seseorang. Karena seringkali pengkhianatan yang paling menohok adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh teman dekat. Eh terlalu lebay ya, maksudnya sakit hati yang paling sakiiit itu adalah sakit hati yang diakibatkan oleh teman dekat. Mungkin karena teman dekat itu adalah tempat berbagi banyak hal, tempat sandaran dan curhat kita sehari-hari.

Dulu aku pernah punya pengalaman buruk terkait pertemanan dengan sesama perempuan (baca di sini). Ya wajar sih, perempuan kalau berteman kan selalu melibatkan perasaan. Dan memang biasa juga dalam dunia perempuan, pertemanan berbentuk geng atau kelompok hang out.

Di kantorku juga ada yang seperti itu. Beberapa hari lalu ketika aku bergabung di kantin dengan salah satu geng kemudian ternyata aku tidak diperhatikan lalu aku pergi diam-diam (dan ternyata mereka juga tidak sadar ketika aku pergi *sigh*), ada yang berkomentar, “Makanya bikin geng dong”. Beuh.

Kembali ke awal tulisan, baper adalah... ketika teman yang kita anggap dekat ternyata tidak menganggap kita teman dekatnya. Hmm, aku mau nulis apa sih ini wkwkwk. Pengen nulis panjang lebar tapi takut ada yang merasa lalu tersinggung. Jadi intinya, ada beberapa orang di kantor yang tadinya aku mengira kami sangat dekat, lalu ada perlakuannya di kemudian hari yang mengindikasikan ternyata kami tidak sedekat itu. Ya seperti bertepuk sebelah tangan begitu deh. Dan itu rasanya sakit lho, Saudara-saudara!

Mungkin aku harus kembali mengikuti kata-kata mamiku. Ga usah sobat-sobatan dekat lagi, bikin baper tauk! Hahaha I wish I could say that kepada mereka yang jadi tersangka. Wis ah ngacapruk-nya. Benar-benar curhat yang nggak mutu wkwkwk.

Labels:

 
posted by Yustika at 4:40 PM | Permalink | 0 comments

Strawberry Cheesecake Ice Cream Cake

Thursday, April 28, 2016
Resepnya hasil nyontek dari Tia, tapi tetep yaa.. hasil tak seindah aslinya hahaha. It's okay, namanya juga baru belajar. Yang penting rasanya tetap enak ;)

Jadi kue ini punya dua komponen utama: kue sama frosting-nya. Kuenya pakai resep Moist Chocolate Cake, frosting-nya pakai resep Strawberry Cheesecake Ice Cream.


Resep Moist Chocolate Cake


Bahan:
  • 125 gram terigu
  • 120 gram gula
  • 33 gram cocoa
  • 1 sdt soda kue
  • 1/2 sdt garam
  • 120 mL minyak
  • 120 mL buttermilk (susu cair + perasan jeruk nipis)
  • 120 mL air
  • 1 butir telur, kocok dengan garpu

Cara membuat:
  1. Aduk rata terigu, gula, cocoa, soda kue, dan garam. Masukkan minyak, aduk hingga kental seperti pasta. Masukkan buttermilk, aduk rata. Masukkan air sedikit demi sedikit, aduk rata. Tambahkan telur, aduk rata.
  2. Tuang ke dalam beberapa buah loyang lingkaran diameter 12-15 cm yang telah dioles margarin, dilapis kertas roti, dan dioles margarin lagi. Panggang 175 derajat celcius selama 15-20 menit hingga matang (tes tusuk). Dinginkan.
  3. Keluarkan dari loyang, hias dengan ice cream frosting. Lebih enak lagi pakai strawberry segar.
  4. Simpan di kulkas, atau potong-potong seukuran single serving dan bekukan di freezer. Jadi deh ice cream cake!

Resep Strawberry Cheesecake Ice Cream


Satu resep jadinya kebanyakan untuk frosting kue diameter 12-15 cm, jadi boleh bikin setengah resep atau selebihnya bisa dibekukan dan dinikmati sebagai es krim 🍨
Lebih enak lagi kalau ditambahkan crumbs / biskuit yg dihancurkan sebelum dibekukan.

Bahan:
  • 120 gram susu kental manis (boleh ditambah/kurangi sesuai selera)
  • 250 gram cream cheese, suhu ruang
  • 60 gram butter, suhu ruang
  • 1 sdm perasan jeruk nipis
  • 200-250 gram whipped cream, kocok hingga soft peak
  • 200-250 gram selai strawberry

Cara membuat:
  1. Kocok susu kental manis, cream cheese, butter, dan perasan jeruk nipis hingga lembut.
  2. Tambahkan whipped cream, kocok rata.
  3. Masukkan selai strawberry, aduk sedikit saja supaya tekstur selai masih kelihatan.
  4. Gunakan untuk menghias cake atau bekukan di freezer.

Labels:

 
posted by Yustika at 4:08 PM | Permalink | 1 comments

Proll Tape

Kali ini aku berkreasi dengan tape. Alhamdulillah dapat tape yang matang dan manis di pasar. Resep aslinya sih dikukus. Namun ketika membuat untuk kedua kalinya, aku mencoba memanggang proll tape ini, dengan sedikit modifikasi penambahan parutan keju pada adonan. Ternyata hasilnya malah lebih enak!

Proll tape kukus mengembang dengan cantik di kukusan

Proll tape kukus siap disajikan

Proll tape panggang fresh from the oven

Potongan proll tape panggang yang moist

Resep Proll Tape


Bahan:
  • 100 gram tape singkong, buang seratnya
  • 50 gram tepung terigu
  • 5 sdm gula pasir
  • 3 butir telur
  • 1 sdt vanili bubuk
  • 50 mL susu kental manis
  • 2 sdm margarin, lelehkan
  • Parutan keju secukupnya
  • Choco chips untuk topping (opsional)


Cara membuat:
  1. Kocok telur dengan gula hingga gula larut. Masukkan tepung terigu, margarin cair, vanili dan susu kental manis. Aduk rata.
  2. Masukkan parutan keju. Aduk rata.
  3. Hancurkan tape lalu masukkan ke adonan. Aduk rata. 
  4. Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin.
  5. Kukus selama kurang lebih 15 menit atau hingga mengembang dan matang. Atau panggang dalam oven dengan suhu 180 derajat celcius selama kurang lebih 20 menit. Taburkan choco chips dalam keadaan setengah matang.
  6. Proll tape siap disajikan hangat.

Labels:

 
posted by Yustika at 3:05 PM | Permalink | 0 comments

LDR

Sunday, April 17, 2016
Barusan Hanif menangis sembari berkata, "Seharusnya jam segini aku lagi jalan-jalan sama Ayah."

Adek juga terbangun dari tidurnya sambil memanggil-manggil, "Ayah.. Ayah.."

Ya, ini masih weekend dan ayah mereka sudah berangkat lagi untuk bekerja.

Beberapa hari lalu Adek bertanya, "Bun, kalau aku pentas nanti, Ayah bisa datang kan?"

Menurutmu, bagaimana perasaanku mendengar itu semua? Pretending everything is okay, but yes I'm just pretending. Karena tidak semuanya baik-baik saja. Ada air mata, ada hati yang patah.

Nine years of marriage, (almost) three kids, and still LDR. So heartbreaking.

Labels:

 
posted by Yustika at 1:44 PM | Permalink | 0 comments

How to Deal with Negative People

Monday, May 25, 2015
“What do you do when you hear that someone is speaking negatively about you? It's easy to try and defend yourself, explain that you're not like that, and get offended or angry at them. It's way harder to turn the other cheek and walk undefended through their murky emotional storm. Try forgiving them, loving them anyway and even maybe concede their points against you (because if you're about to get all worked up about it, then they probably do have a point). Love is the answer, especially when what feels most appropriate is to wage a war. What's the purpose of all these handstands if you can't be strong enough to be nice all day? Yoga has taught me how to bend when I would normally break and how to be strong enough to withstand a few harsh words being thrown my way without fighting back and lashing out.” (Kino MacGregor)

Di tengah kedukaan yang aku alami, aku mendengar selentingan gosip di kantor tentang mengapa aku absen begitu lama. Beberapa orang muncul dengan spekulasinya masing-masing tentang mengapa aku harus bedrest. Sebagian mereka beranggapan bahwa aku mengalami pendarahan gara-gara aku melakukan yoga, atau gara-gara aku melakukan inilah, itulah, dsb. Padahal aku sudah menghentikan semua aktivitas olahraga semenjak aku tahu kalau aku hamil (oh come on, semenit dua menit #strikeapose tentu tidak terhitung sebagai olahraga). Padahal aku sudah meletakkan semua hal sesuai proporsinya, maksudku ketika dokter menyuruhku bedrest, aku pun bedrest. Semua anjuran dokter aku turuti, dan aku selalu minum obat sesuai resep.

Tapi itu toh tak menghentikan apa yang sudah terjadi. Kontraksi tetap berlangsung dan aku tetap kehilangan bayiku. Di saat aku mulai menerima hal ini sebagai takdir-Nya tanpa menyalahkan siapapun, orang-orang malah muncul dengan judgement-nya yang menudingku sebagai biang kesalahan.

Pada mulanya aku marah sekali mendengarnya. Mengapa orang-orang itu tak bersimpati dengan kedukaan yang aku alami? Kemudian aku tersadarkan, bahwa tidak semua hal bisa dimengerti oleh semua orang. Dan seperti kutipan di atas, mungkin aku tidak harus melakukan klarifikasi dan membela diri. Yaaa sah-sah saja sebenarnya kalau aku mau begitu, tapi mungkin itu bukan hal yang tepat, dan bisa jadi malah tidak membawa kebaikan. Aku tidak bisa mengontrol orang lain dengan segala respon, tindak tanduk, dan omongan mereka. Yang aku bisa kontrol adalah diriku sendiri.

So I’ll keep moving on. Biarlah tulisan ini menjadi klarifikasi bagi mereka tentang apa yang sudah terjadi.

“Everything is a gift ... Even on the worst of days and dealing with negative people there is a lesson to be learned and a blessing to be revealed. I can't change other people but I can change how I respond. It took me many years to understand this but it is the one action on my part that has brought peace to my life. Don't try to change them ... Just change you.” (Kerri Verna)

“Make peace with yourself, your whole self, complete with all your complex thoughts, intense emotions, your pleasure, your pain. Accept it all with an open heart and surrendered spirit and you will make peace with the world around. If you're ok with yourself then it's way easier to be ok with everyone else. So often what bothers us about others or our environment is just a trigger for something inside. Unwind the mind, free the body and let the peace of the inner being fill you up from the inside.” (Kino MacGregor)

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 3:57 PM | Permalink | 0 comments

Biarkan Aku Berduka

Tuesday, May 19, 2015
“It is how we respond to suffering that makes us yogis in the world. One thing that I've learned is that there is no right way to deal with grief. Some people feel it right away, some people never get over it, some people run from it until they're ready. Eventually even the toughest times bring us all closer to the seed of awakening and wisdom that comes from an open, strong heart and that carries us through whatever hardship we face with wings of faith.” (Kino MacGregor)

Rasanya masih seperti mimpi. Kadang aku masih merasa hamil, dan butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa aku tak lagi berbadan dua. Kehamilan keempat yang harus berakhir pada minggu ke-14 ini menorehkan lubang besar di dalam hatiku. A big hole that cannot be filled by anything and makes me feel so empty.

Aku menyadari bahwa diriku hamil pada minggu pertama bulan Maret 2015. Beberapa hari sebelumnya aku sudah melakukan tes kehamilan dengan hasil negatif. Tapi aku sudah merasa kemungkinan besar aku hamil. Dan benar saja, tes kehamilan kedua menampakkan hasil positif. Kehamilan yang memang sudah kunantikan, meskipun hampir tak percaya ia datang begitu cepat setelah setahun sebelumnya mengalami keguguran karena janin tidak berkembang.

Strip dua di awal Maret 2015

Aku dan suamiku sudah lebih siap kali ini dibanding tahun lalu. Aku menyambut kehamilan keempat ini dengan sukacita, berharap akan melahirkan bayi perempuan. Begitu tahu kalau aku hamil, aku langsung menghentikan semua aktivitas olahraga. Pada usia kehamilan minggu ke-4 aku mengalami flek. Beberapa kali berkunjung ke dokter kandungan dan mendapat obat penguat, lalu sempat juga bedrest, namun flek tak kunjung berhenti. Aku sudah pasrah akan mengalami keguguran lagi. Namun takdir berkata lain, janin berkembang dengan baik dan pada minggu ke-9, flek berhenti. Aku kembali bergembira dan merasa lebih kuat. Kondisi janin sangat bagus dan aku merasa ia akan bertahan sampai saatnya lahir nanti.

Sabtu, 2 Mei 2015. Minggu ke-13, sepuluh hari sebelum ia pergi.

Senin, 11 Mei 2015


Hari-hari berlalu hingga akhirnya hari itu tiba. Senin itu aku bangun pagi dan mendapati flek di pakaian dalam. Kesibukan pagi memaksaku abai sejenak, hingga kemudian aku merasa ada yang berbeda. Perut bagian bawah terasa sakit seperti nyeri kala haid. Dan ketika aku tiba di kantor, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, sepanjang pagi itu aku hanya berbaring karena mulas tak kunjung hilang. Menjelang tengah hari, flek kecoklatan itu telah berubah menjadi merah segar seperti darah. Seketika aku panik, dan setelah menjemput Dek Abi, aku bergegas pergi ke rumah sakit.

Dokter mengatakan aku mengalami kontraksi. Lewat USG, kondisi janin terdeteksi baik dan masih aktif bergerak. Dokter memberiku obat anti kontraksi dan menyuruhku bedrest di rumah. Dia juga bilang, kalau aku tak mau bedrest, bisa-bisa aku dirawat inap untuk diberikan obat anti kontraksi melalui infus. “Obatnya cuma satu, Bu. Istirahat,” demikian katanya. Maka aku pun pulang dan hanya tiduran saja di rumah.

Menjelang maghrib mulas menghebat. Rasanya seperti mulas akan bersalin. Ketika puncak gelombang kontraksi datang, aku sampai meremas-remas sprei saking sakitnya. Suami masih dalam perjalanan Papua-Jakarta. Telepon genggamnya mati, padahal aku butuh saran untuk bertindak. Mami menyarankanku untuk segera pergi ke rumah sakit. Aku mengulur waktu sejenak, berharap mulas mereda. Tapi ternyata mulas masih menghebat dengan jarak kontraksi per 6-7 menit. Akhirnya sekitar pukul 21.00 aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Aku pergi sendiri dengan taksi setelah mencium anak-anak dan mendengar Hanif berkata, “Aku sayang Bunda”. Di dalam taksi yang meluncur membelah jalanan yang mulai sepi, aku terus mengelus perut dan bergumam pada dedek bayi, “Please be safe, please be safe”.

Di IGD Kebidanan, para perawat dengan sigap dan ramah menanganiku. Dokter kandungan yang dikontak akhirnya meresepkan obat anti kontraksi lewat infus, obat ini dosisnya lebih tinggi dibanding obat oral. Beruntung seorang teman datang malam itu dan membantuku mengurus registrasi rawat inap, serta membawakanku minum dan cemilan ringan. Terima kasihku untukmu, Mbak cantik. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang berlipat. Setelah diberi obat infus, kontraksi mereda namun masih ada. Pada pukul 00.35, aku dipindah ke kamar rawat inap.

Selasa, 12 Mei 2015


Menjelang pukul 03.00 suami datang, mencium keningku lalu beranjak tidur di sofa. Aku maklum, dia pasti letih. Aku melanjutkan tidur kembali. Sekitar pukul 07.00 dokter datang. Pada saat itu aku memang sudah merasa lebih baik. Aku dapat tidur dengan nyenyak karena kontraksi sudah mereda. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa mulas itu masih sedikit ada. Tampaknya saat itu dokter memutuskan untuk mengganti obat anti kontraksi dengan jenis lain yang dosisnya lebih rendah, karena beranggapan aku sudah membaik. Masih lewat infus tentu saja. Dalam kurun waktu itu, secara rutin perawat memeriksa detak jantung janin dan mendapati kondisinya baik.

Beberapa saat setelah obat diganti, aku kembali merasakan mulas yang kian lama kian menghebat. Makin lama makin sakit dan frekuensinya menjadi lebih sering. Gelombang kontraksi makin rapat hingga menjadi per 3 menit. Rasanya persis seperti akan bersalin. Puncaknya pun tiba. Pukul 10.00 lebih, pada suatu puncak kontraksi yang cukup sakit, tiba-tiba aku merasa ada cairan cukup banyak keluar, mengalir dari bagian bawah tubuhku hingga membasahi pakaian dan sprei. Dengan panik suamiku memanggil perawat. Dua orang perawat datang tergopoh-gopoh, dan setelah memeriksa, salah seorang dari mereka berkata, “Ini ketubannya pecah”. Dokter kandungan pun segera dikontak, sementara para perawat terus mengobservasiku.

Duniaku seakan runtuh ketika akhirnya perawat memberitahu kami bahwa bayiku tak dapat dipertahankan lagi. Mereka mendapati aku sudah mengalami bukaan tiga, dan cepat atau lambat bayiku akan keluar. Mekanismenya mirip sekali dengan persalinan. Sejak ketuban pecah, para perawat kesulitan mendeteksi detak jantung janin. Aku tak tahu bagaimana keadaannya, dan aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus merelakan kepergiannya.

Setelah itu aku dibawa ke ruang bersalin untuk mempersiapkan persalinan. Dokter memutuskan aku diberi semacam obat untuk memacu kontraksi agar jalan lahir semakin membuka. Mereka akan menungguku bersalin secara normal dan bayi keluar secara alami. Saat itu, posisi bayi sudah ada di jalan lahir dan detak jantungnya tak lagi terdengar. Menjelang maghrib, dokter membantuku bersalin. Bayi keluar dengan mudah dalam sekali mengejan, dalam kondisi meninggal tentu saja. Plasenta tak bisa langsung keluar, maka mereka menunggu selama beberapa jam sebelum akhirnya dokter memutuskan untuk dilakukan tindakan kuretase keesokan harinya.

Malam itu di ruang bersalin aku menatapnya. He was just so tiny, so innocent. Sosoknya sudah hampir sempurna laksana bayi, hanya saja dalam ukuran mini. Jenis kelaminnya laki-laki, jari-jari kaki dan tangannya pun sudah lengkap. My poor son, dia pasti tak memilih untuk dilahirkan dalam kondisi demikian. I really really feel sorry for him. Malam itu juga suami membawanya pulang untuk dimandikan dan dikafani.

Rabu, 13 Mei 2015


Keesokan harinya aku didorong menuju ruang bedah untuk dikuret. Aku pernah mengalaminya setahun lalu, jadi aku tahu bahwa aku akan dibius total dan tak akan merasakan apapun. Tak ada kekhawatiran sedikit pun soal tindakan kuretase ini. Pikiranku justru melayang kepada bayiku. Ketika aku dikuret untuk mengeluarkan sisa plasenta, jenasahnya dikebumikan. Dalam sunyi, dalam keheningan. Hanya ada suamiku, papiku, dan Pak Ustadz. He went straight to heaven insya Allah.

Selesai dikuret, di tengah-tengah pening yang masih melanda, aku memeriksa telepon genggam. Suami mengirim foto sebuah pusara mungil yang ditaburi dengan bunga. Diberinya caption: makam dedek Muhammad Firdaus Martono. Ah, bayiku sudah diberi nama rupanya.

Makam dedek Muhammad Firdaus Martono

Now What?


Seminggu telah berlalu. Di hadapan semua orang aku tampak tegar, tapi di malam-malam yang sunyi air mataku menetes. I miss my baby so much. I feel like I love him more and more, even when he's gone.

The worst thing is: it’s just me and my grief, I have no one to talk to. Not even my husband. Kami jarang membicarakan perasaan kami secara terbuka, dia bukan tipe orang yang seperti itu. Dia tak tampak sedih karena katanya dia sudah ikhlas. Yah, bukan berarti aku tidak bisa ikhlas. Hanya saja, ada kekosongan dan kehampaan yang aku rasa, yang tak bisa kudeskripsikan dan kurasa juga tak akan mudah dimengerti oleh orang lain.

Alasan mengapa aku tak membicarakan hal ini dengan orang lain juga adalah kekhawatiran mengenai pandangan mereka. Sebagian dari mereka mungkin menganggap ini bukan kehilangan yang besar, ia hanyalah janin berusia beberapa bulan. Sebagian dari mereka berkata “Let it go”, atau “Ikhlasin aja”, dan aku khawatir mereka beranggapan aku tak punya keimanan jika aku terlalu lebay berduka cita. But still, this is a great loss for me, and it’s the hardest moment in my life.

Yang membuatku merasa semakin nyesek adalah kenyataan bahwa sampai detik terakhir, kondisi bayiku masih bagus—tidak seperti tahun lalu yang memang berhenti berkembang. Sampai sesaat sebelum ketuban pecah, jantungnya masih berdetak normal dan ia masih aktif bergerak. Hanya karena ketuban pecah, ia menjadi kehilangan lingkungan tempat hidup, dan kemudian ia tak mampu bertahan.

Aku sedang terus berusaha menata hati untuk menerima semua kejadian ini sebagai bagian dari takdir-Nya. Kalau mau menyalahkan seseorang, aku bisa saja menyalahkan keputusan dokter menurunkan dosis obat anti kontraksi sehingga membuat mulasku menghebat kembali dan membuat ketuban pecah. Tapi bukan di situ masalahnya. Kalaupun waktu itu aku lolos dari kontraksi, mungkin suatu hari kontraksi akan berulang kembali—karena rahimku tidak cukup kuat, begitu kata dokter. Atau kalau mau menyalahkan diri sendiri juga bisa, karena aku sempat mengendarai motor sehari sebelum kontraksi—kalau memang itu penyebabnya. Meskipun ketika kuingat-ingat lagi, Sabtu-Minggu itu aku santai sekali: tidak bepergian jauh, tidak mengerjakan aktivitas yang berat, melainkan hanya menemani anak-anak menghabiskan akhir pekan di rumah. Jadi kurasa, memang ini semua adalah bagian dari takdir-Nya. Menyalahkan seseorang, atau diriku sendiri, atau keadaan, tidak akan membuat bayiku hidup kembali.

Never thought in million years that I would have my kid’s tomb to visit. Rest in peace ya, Dek. Di surga tentu lebih enak dan nyaman dibanding bersama Bunda. You'll always be loved, you'll always be remembered. Aku yakin suatu hari nanti waktu akan menyembuhkanku. In the meantime, biarkan aku berduka dan mengenangnya…

“Bunda kangen sama kamu, Dek. Bunda kangen hoek-hoek lagi, sambil mikir makanan apa yang bisa masuk hari itu. Bunda kangen elus-elus perut dengan kamu ada di dalamnya. Bunda kangeenn sekali. 
Sedang apa kamu di sana, Dek? Kangen juga kah sama Bunda? Tumbuh sehat dan kuat di sana ya. Bunda menantikan saat itu, saat di mana kamu akan menjemput Bunda di pintu surga-Nya. I love you and I miss you so much.”

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 10:35 PM | Permalink | 0 comments

Puding Roti

Monday, May 11, 2015
Sekalian oven panas untuk memanggang cheese cake, sekalian aku memanggang puding roti yang simpel dan gampang cara membuatnya. Resep ini aku contek dari Naura Cakes and Cookies. Puding roti ini bisa disantap hangat maupun dingin, keduanya sama nikmatnya.

Bahan-bahan

Puding roti

Resep Puding Roti


Bahan:
  • 3 lembar roti tawar
  • 500 mL santan (bisa juga diganti susu cair, tapi lebih gurih menggunakan santan)
  • 1 butir telur
  • 3 sdm gula pasir
  • 1 sdm margarin
  • ¼ sdt garam
  • Sejumput kayu manis bubuk
  • Vanilla powder secukupnya
  • Kismis secukupnya (aku menggunakan sukade)
  • Irisan daun pandan

Cara membuat:
  • Roti tawar disobek-sobek kemudian direndam dengan santan.
  • Kocok asal campur (pake whisk atau garpu saja): telur, gula pasir, garam, kayu manis bubuk, dan vanilla powder.
  • Masukkan campuran roti tawar ke dalam campuran telur, aduk rata.
  • Masukkan margarin yang sudah dicairkan.
  • Tuang ke loyang/mangkuk tahan panas yang bawahnya sudah kita tata irisan daun pandan.
  • Taburi kismis, kukus/oven kurang lebih 45 menit.

Labels:

 
posted by Yustika at 3:36 PM | Permalink | 0 comments

Cheese Cake

Akhir pekan 9-10 Mei lalu aku dan anak-anak tak pergi ke mana-mana. Pasalnya suamiku tak bisa pulang karena urusan pekerjaan di Papua, jadi aku pun malas jalan-jalan hanya dengan anak-anak saja. Kami sempat keluar sebentar mengantarkan Hanif les robotik, selanjutnya kami hanya bersantai di rumah. Daripada manyun, aku akhirnya membuat cheese cake, menjajal resep yang kudapat dari teman kantor beberapa hari sebelumnya.

Bahan-bahan

Adonan siap dipanggang

Cheese cake yang yummy!

Resep Cheese Cake


Bahan:
  • 200 gram cream cheese
  • 60 gram gula pasir
  • 2 butir telur
  • 150 mL whipped cream rasa plain
  • Perasan air lemon dari 1 butir lemon (aku menggunakan jeruk nipis)
  • Yoghurt plain secukupnya
  • 25 gram tepung terigu


Topping:
  • Selai jeruk
  • Irisan buah strawberry


Cara membuat:
  • Biarkan cream cheese dan whipped cream dalam suhu ruang.
  • Campurkan cream cheese dengan gula pasir, kocok menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi.
  • Masukkan telur, kocok lagi.
  • Masukkan whipped cream, perasan air lemon, dan yoghurt, lalu kocok hingga rata.
  • Masukkan terigu, kocok dengan kecepatan rendah.
  • Tuang adonan ke loyang.
  • Panggang dalam oven bersuhu 180°C selama 40 menit.
  • Setelah agak dingin, olesi permukaan kue dengan selai jeruk dan beri topping irisan buah strawberry.

Labels:

 
posted by Yustika at 12:13 PM | Permalink | 0 comments