Sunday, February 14, 2021

Ulasan Novel Critival Eleven

 


Novel Critival Eleven adalah novel Ika Natassa pertama yang aku baca, dan hingga saat ini masih menjadi novelnya yang paling aku suka. Novel ini menceritakan tentang konflik yang dialami oleh sepasang suami istri, Ale dan Anya, ketika rumah tangga mereka ditimpa badai besar.

Pada bagian awal dikisahkan perkenalan Anya dan Ale di atas pesawat, di mana istilah Critical Eleven sendiri merupakan istilah dalam dunia penerbangan, yaitu sebelas menit waktu kritis di dalam pesawat. Tiga menit sebelum take off dan delapan menit sebelum landing adalah waktu yang krusial karena secara statistik: 8% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. Istilah ini kemudian menjadi pengibaratan masa-masa kehidupan pernikahan Anya dan Ale.

Di bab-bab awal, kejadian dilukiskan bergantian dengan cepat. Pembaca dibawa ke dalam potongan-potongan adegan yang tampak membingungkan, tapi sebenarnya ini merupakan gaya cerdas Ika Natassa dalam memperkenalkan konflik. Kemudian alur melambat hingga nanti ketika hampir di akhir buku, konflik agak berlarut-larut. Tapi tak apa, karena kalau tidak… mungkin nanti cerita di buku ini akan terasa singkat. Bagi sebagian orang ini menarik, tapi bagi sebagian lainnya mungkin akan memantik sedikit kebosanan.

Alur disajikan secara maju mundur sehingga terasa begitu dinamis. Sudut pandang yang digunakan juga unik karena menggunakan dua POV yang berbeda: sebagai Ale dan sebagai Anya. Hal ini membuat perasaan kedua tokoh utama tergambar jelas, dan apa yang ada di benak mereka sampai dengan lugas kepada pembaca.

Ika Natassa sangat pandai menggarap penokohan. Karakter dua tokoh utama sangat kuat. Keduanya adalah sosok sukses dan profesional dalam hal karir, tapi ternyata secara alamiah mengalami kebingungan dalam mengatasi permasalahan rumah tangga. Ale yang cool namun sangat menyayangi istrinya, begitu clueless seperti kebanyakan laki-laki. Tapi dia sebenarnya lelaki baik yang rela melakukan apa saja demi keluarganya, dan berhasil membuatku terpesona pada sosoknya. Sementara Anya, yang kata Ale memiliki mata yang bisa “tersenyum”, merupakan sosok yang mandiri meski sering ditinggal-tinggal suaminya karena pekerjaan, tidak pernah mengeluh ketika harus terpisah jauh, tapi memiliki kepribadian yang kurang terbuka pada suaminya.

Fakta bahwa buku yang ada di tanganku merupakan cetakan kedua puluh hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah cetakan pertama diterbitkan, memberi indikasi kuat bahwa novel metropop ini sangat disukai pembaca. Narasinya memang mengalir dengan nyaman, dan tanpa terasa kita sudah dibawa ke akhir cerita. Hal inti yang bisa kita tarik sebagai hikmah dari novel ini: bahwa pernikahan tidak melulu soal cinta. Ada komitmen, ada komunikasi yang harus dibangun, ada pemakluman, ada pengertian… dan yang jelas: ada keharusan untuk saling menghargai.

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Cetakan kedua puluh, Mei 2017
Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 340 halaman

No comments: