How to Deal with Negative People

Monday, May 25, 2015
“What do you do when you hear that someone is speaking negatively about you? It's easy to try and defend yourself, explain that you're not like that, and get offended or angry at them. It's way harder to turn the other cheek and walk undefended through their murky emotional storm. Try forgiving them, loving them anyway and even maybe concede their points against you (because if you're about to get all worked up about it, then they probably do have a point). Love is the answer, especially when what feels most appropriate is to wage a war. What's the purpose of all these handstands if you can't be strong enough to be nice all day? Yoga has taught me how to bend when I would normally break and how to be strong enough to withstand a few harsh words being thrown my way without fighting back and lashing out.” (Kino MacGregor)

Di tengah kedukaan yang aku alami, aku mendengar selentingan gosip di kantor tentang mengapa aku absen begitu lama. Beberapa orang muncul dengan spekulasinya masing-masing tentang mengapa aku harus bedrest. Sebagian mereka beranggapan bahwa aku mengalami pendarahan gara-gara aku melakukan yoga, atau gara-gara aku melakukan inilah, itulah, dsb. Padahal aku sudah menghentikan semua aktivitas olahraga semenjak aku tahu kalau aku hamil (oh come on, semenit dua menit #strikeapose tentu tidak terhitung sebagai olahraga). Padahal aku sudah meletakkan semua hal sesuai proporsinya, maksudku ketika dokter menyuruhku bedrest, aku pun bedrest. Semua anjuran dokter aku turuti, dan aku selalu minum obat sesuai resep.

Tapi itu toh tak menghentikan apa yang sudah terjadi. Kontraksi tetap berlangsung dan aku tetap kehilangan bayiku. Di saat aku mulai menerima hal ini sebagai takdir-Nya tanpa menyalahkan siapapun, orang-orang malah muncul dengan judgement-nya yang menudingku sebagai biang kesalahan.

Pada mulanya aku marah sekali mendengarnya. Mengapa orang-orang itu tak bersimpati dengan kedukaan yang aku alami? Kemudian aku tersadarkan, bahwa tidak semua hal bisa dimengerti oleh semua orang. Dan seperti kutipan di atas, mungkin aku tidak harus melakukan klarifikasi dan membela diri. Yaaa sah-sah saja sebenarnya kalau aku mau begitu, tapi mungkin itu bukan hal yang tepat, dan bisa jadi malah tidak membawa kebaikan. Aku tidak bisa mengontrol orang lain dengan segala respon, tindak tanduk, dan omongan mereka. Yang aku bisa kontrol adalah diriku sendiri.

So I’ll keep moving on. Biarlah tulisan ini menjadi klarifikasi bagi mereka tentang apa yang sudah terjadi.

“Everything is a gift ... Even on the worst of days and dealing with negative people there is a lesson to be learned and a blessing to be revealed. I can't change other people but I can change how I respond. It took me many years to understand this but it is the one action on my part that has brought peace to my life. Don't try to change them ... Just change you.” (Kerri Verna)

“Make peace with yourself, your whole self, complete with all your complex thoughts, intense emotions, your pleasure, your pain. Accept it all with an open heart and surrendered spirit and you will make peace with the world around. If you're ok with yourself then it's way easier to be ok with everyone else. So often what bothers us about others or our environment is just a trigger for something inside. Unwind the mind, free the body and let the peace of the inner being fill you up from the inside.” (Kino MacGregor)

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 3:57 PM | Permalink | 0 comments

Biarkan Aku Berduka

Tuesday, May 19, 2015
“It is how we respond to suffering that makes us yogis in the world. One thing that I've learned is that there is no right way to deal with grief. Some people feel it right away, some people never get over it, some people run from it until they're ready. Eventually even the toughest times bring us all closer to the seed of awakening and wisdom that comes from an open, strong heart and that carries us through whatever hardship we face with wings of faith.” (Kino MacGregor)

Rasanya masih seperti mimpi. Kadang aku masih merasa hamil, dan butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa aku tak lagi berbadan dua. Kehamilan keempat yang harus berakhir pada minggu ke-14 ini menorehkan lubang besar di dalam hatiku. A big hole that cannot be filled by anything and makes me feel so empty.

Aku menyadari bahwa diriku hamil pada minggu pertama bulan Maret 2015. Beberapa hari sebelumnya aku sudah melakukan tes kehamilan dengan hasil negatif. Tapi aku sudah merasa kemungkinan besar aku hamil. Dan benar saja, tes kehamilan kedua menampakkan hasil positif. Kehamilan yang memang sudah kunantikan, meskipun hampir tak percaya ia datang begitu cepat setelah setahun sebelumnya mengalami keguguran karena janin tidak berkembang.

Strip dua di awal Maret 2015

Aku dan suamiku sudah lebih siap kali ini dibanding tahun lalu. Aku menyambut kehamilan keempat ini dengan sukacita, berharap akan melahirkan bayi perempuan. Begitu tahu kalau aku hamil, aku langsung menghentikan semua aktivitas olahraga. Pada usia kehamilan minggu ke-4 aku mengalami flek. Beberapa kali berkunjung ke dokter kandungan dan mendapat obat penguat, lalu sempat juga bedrest, namun flek tak kunjung berhenti. Aku sudah pasrah akan mengalami keguguran lagi. Namun takdir berkata lain, janin berkembang dengan baik dan pada minggu ke-9, flek berhenti. Aku kembali bergembira dan merasa lebih kuat. Kondisi janin sangat bagus dan aku merasa ia akan bertahan sampai saatnya lahir nanti.

Sabtu, 2 Mei 2015. Minggu ke-13, sepuluh hari sebelum ia pergi.

Senin, 11 Mei 2015


Hari-hari berlalu hingga akhirnya hari itu tiba. Senin itu aku bangun pagi dan mendapati flek di pakaian dalam. Kesibukan pagi memaksaku abai sejenak, hingga kemudian aku merasa ada yang berbeda. Perut bagian bawah terasa sakit seperti nyeri kala haid. Dan ketika aku tiba di kantor, setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, sepanjang pagi itu aku hanya berbaring karena mulas tak kunjung hilang. Menjelang tengah hari, flek kecoklatan itu telah berubah menjadi merah segar seperti darah. Seketika aku panik, dan setelah menjemput Dek Abi, aku bergegas pergi ke rumah sakit.

Dokter mengatakan aku mengalami kontraksi. Lewat USG, kondisi janin terdeteksi baik dan masih aktif bergerak. Dokter memberiku obat anti kontraksi dan menyuruhku bedrest di rumah. Dia juga bilang, kalau aku tak mau bedrest, bisa-bisa aku dirawat inap untuk diberikan obat anti kontraksi melalui infus. “Obatnya cuma satu, Bu. Istirahat,” demikian katanya. Maka aku pun pulang dan hanya tiduran saja di rumah.

Menjelang maghrib mulas menghebat. Rasanya seperti mulas akan bersalin. Ketika puncak gelombang kontraksi datang, aku sampai meremas-remas sprei saking sakitnya. Suami masih dalam perjalanan Papua-Jakarta. Telepon genggamnya mati, padahal aku butuh saran untuk bertindak. Mami menyarankanku untuk segera pergi ke rumah sakit. Aku mengulur waktu sejenak, berharap mulas mereda. Tapi ternyata mulas masih menghebat dengan jarak kontraksi per 6-7 menit. Akhirnya sekitar pukul 21.00 aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Aku pergi sendiri dengan taksi setelah mencium anak-anak dan mendengar Hanif berkata, “Aku sayang Bunda”. Di dalam taksi yang meluncur membelah jalanan yang mulai sepi, aku terus mengelus perut dan bergumam pada dedek bayi, “Please be safe, please be safe”.

Di IGD Kebidanan, para perawat dengan sigap dan ramah menanganiku. Dokter kandungan yang dikontak akhirnya meresepkan obat anti kontraksi lewat infus, obat ini dosisnya lebih tinggi dibanding obat oral. Beruntung seorang teman datang malam itu dan membantuku mengurus registrasi rawat inap, serta membawakanku minum dan cemilan ringan. Terima kasihku untukmu, Mbak cantik. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang berlipat. Setelah diberi obat infus, kontraksi mereda namun masih ada. Pada pukul 00.35, aku dipindah ke kamar rawat inap.

Selasa, 12 Mei 2015


Menjelang pukul 03.00 suami datang, mencium keningku lalu beranjak tidur di sofa. Aku maklum, dia pasti letih. Aku melanjutkan tidur kembali. Sekitar pukul 07.00 dokter datang. Pada saat itu aku memang sudah merasa lebih baik. Aku dapat tidur dengan nyenyak karena kontraksi sudah mereda. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa mulas itu masih sedikit ada. Tampaknya saat itu dokter memutuskan untuk mengganti obat anti kontraksi dengan jenis lain yang dosisnya lebih rendah, karena beranggapan aku sudah membaik. Masih lewat infus tentu saja. Dalam kurun waktu itu, secara rutin perawat memeriksa detak jantung janin dan mendapati kondisinya baik.

Beberapa saat setelah obat diganti, aku kembali merasakan mulas yang kian lama kian menghebat. Makin lama makin sakit dan frekuensinya menjadi lebih sering. Gelombang kontraksi makin rapat hingga menjadi per 3 menit. Rasanya persis seperti akan bersalin. Puncaknya pun tiba. Pukul 10.00 lebih, pada suatu puncak kontraksi yang cukup sakit, tiba-tiba aku merasa ada cairan cukup banyak keluar, mengalir dari bagian bawah tubuhku hingga membasahi pakaian dan sprei. Dengan panik suamiku memanggil perawat. Dua orang perawat datang tergopoh-gopoh, dan setelah memeriksa, salah seorang dari mereka berkata, “Ini ketubannya pecah”. Dokter kandungan pun segera dikontak, sementara para perawat terus mengobservasiku.

Duniaku seakan runtuh ketika akhirnya perawat memberitahu kami bahwa bayiku tak dapat dipertahankan lagi. Mereka mendapati aku sudah mengalami bukaan tiga, dan cepat atau lambat bayiku akan keluar. Mekanismenya mirip sekali dengan persalinan. Sejak ketuban pecah, para perawat kesulitan mendeteksi detak jantung janin. Aku tak tahu bagaimana keadaannya, dan aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus merelakan kepergiannya.

Setelah itu aku dibawa ke ruang bersalin untuk mempersiapkan persalinan. Dokter memutuskan aku diberi semacam obat untuk memacu kontraksi agar jalan lahir semakin membuka. Mereka akan menungguku bersalin secara normal dan bayi keluar secara alami. Saat itu, posisi bayi sudah ada di jalan lahir dan detak jantungnya tak lagi terdengar. Menjelang maghrib, dokter membantuku bersalin. Bayi keluar dengan mudah dalam sekali mengejan, dalam kondisi meninggal tentu saja. Plasenta tak bisa langsung keluar, maka mereka menunggu selama beberapa jam sebelum akhirnya dokter memutuskan untuk dilakukan tindakan kuretase keesokan harinya.

Malam itu di ruang bersalin aku menatapnya. He was just so tiny, so innocent. Sosoknya sudah hampir sempurna laksana bayi, hanya saja dalam ukuran mini. Jenis kelaminnya laki-laki, jari-jari kaki dan tangannya pun sudah lengkap. My poor son, dia pasti tak memilih untuk dilahirkan dalam kondisi demikian. I really really feel sorry for him. Malam itu juga suami membawanya pulang untuk dimandikan dan dikafani.

Rabu, 13 Mei 2015


Keesokan harinya aku didorong menuju ruang bedah untuk dikuret. Aku pernah mengalaminya setahun lalu, jadi aku tahu bahwa aku akan dibius total dan tak akan merasakan apapun. Tak ada kekhawatiran sedikit pun soal tindakan kuretase ini. Pikiranku justru melayang kepada bayiku. Ketika aku dikuret untuk mengeluarkan sisa plasenta, jenasahnya dikebumikan. Dalam sunyi, dalam keheningan. Hanya ada suamiku, papiku, dan Pak Ustadz. He went straight to heaven insya Allah.

Selesai dikuret, di tengah-tengah pening yang masih melanda, aku memeriksa telepon genggam. Suami mengirim foto sebuah pusara mungil yang ditaburi dengan bunga. Diberinya caption: makam dedek Muhammad Firdaus Martono. Ah, bayiku sudah diberi nama rupanya.

Makam dedek Muhammad Firdaus Martono

Now What?


Seminggu telah berlalu. Di hadapan semua orang aku tampak tegar, tapi di malam-malam yang sunyi air mataku menetes. I miss my baby so much. I feel like I love him more and more, even when he's gone.

The worst thing is: it’s just me and my grief, I have no one to talk to. Not even my husband. Kami jarang membicarakan perasaan kami secara terbuka, dia bukan tipe orang yang seperti itu. Dia tak tampak sedih karena katanya dia sudah ikhlas. Yah, bukan berarti aku tidak bisa ikhlas. Hanya saja, ada kekosongan dan kehampaan yang aku rasa, yang tak bisa kudeskripsikan dan kurasa juga tak akan mudah dimengerti oleh orang lain.

Alasan mengapa aku tak membicarakan hal ini dengan orang lain juga adalah kekhawatiran mengenai pandangan mereka. Sebagian dari mereka mungkin menganggap ini bukan kehilangan yang besar, ia hanyalah janin berusia beberapa bulan. Sebagian dari mereka berkata “Let it go”, atau “Ikhlasin aja”, dan aku khawatir mereka beranggapan aku tak punya keimanan jika aku terlalu lebay berduka cita. But still, this is a great loss for me, and it’s the hardest moment in my life.

Yang membuatku merasa semakin nyesek adalah kenyataan bahwa sampai detik terakhir, kondisi bayiku masih bagus—tidak seperti tahun lalu yang memang berhenti berkembang. Sampai sesaat sebelum ketuban pecah, jantungnya masih berdetak normal dan ia masih aktif bergerak. Hanya karena ketuban pecah, ia menjadi kehilangan lingkungan tempat hidup, dan kemudian ia tak mampu bertahan.

Aku sedang terus berusaha menata hati untuk menerima semua kejadian ini sebagai bagian dari takdir-Nya. Kalau mau menyalahkan seseorang, aku bisa saja menyalahkan keputusan dokter menurunkan dosis obat anti kontraksi sehingga membuat mulasku menghebat kembali dan membuat ketuban pecah. Tapi bukan di situ masalahnya. Kalaupun waktu itu aku lolos dari kontraksi, mungkin suatu hari kontraksi akan berulang kembali—karena rahimku tidak cukup kuat, begitu kata dokter. Atau kalau mau menyalahkan diri sendiri juga bisa, karena aku sempat mengendarai motor sehari sebelum kontraksi—kalau memang itu penyebabnya. Meskipun ketika kuingat-ingat lagi, Sabtu-Minggu itu aku santai sekali: tidak bepergian jauh, tidak mengerjakan aktivitas yang berat, melainkan hanya menemani anak-anak menghabiskan akhir pekan di rumah. Jadi kurasa, memang ini semua adalah bagian dari takdir-Nya. Menyalahkan seseorang, atau diriku sendiri, atau keadaan, tidak akan membuat bayiku hidup kembali.

Never thought in million years that I would have my kid’s tomb to visit. Rest in peace ya, Dek. Di surga tentu lebih enak dan nyaman dibanding bersama Bunda. You'll always be loved, you'll always be remembered. Aku yakin suatu hari nanti waktu akan menyembuhkanku. In the meantime, biarkan aku berduka dan mengenangnya…

“Bunda kangen sama kamu, Dek. Bunda kangen hoek-hoek lagi, sambil mikir makanan apa yang bisa masuk hari itu. Bunda kangen elus-elus perut dengan kamu ada di dalamnya. Bunda kangeenn sekali. 
Sedang apa kamu di sana, Dek? Kangen juga kah sama Bunda? Tumbuh sehat dan kuat di sana ya. Bunda menantikan saat itu, saat di mana kamu akan menjemput Bunda di pintu surga-Nya. I love you and I miss you so much.”

Labels: , ,

 
posted by Yustika at 10:35 PM | Permalink | 0 comments

Puding Roti

Monday, May 11, 2015
Sekalian oven panas untuk memanggang cheese cake, sekalian aku memanggang puding roti yang simpel dan gampang cara membuatnya. Resep ini aku contek dari Naura Cakes and Cookies. Puding roti ini bisa disantap hangat maupun dingin, keduanya sama nikmatnya.

Bahan-bahan

Puding roti

Resep Puding Roti


Bahan:
  • 3 lembar roti tawar
  • 500 mL santan (bisa juga diganti susu cair, tapi lebih gurih menggunakan santan)
  • 1 butir telur
  • 3 sdm gula pasir
  • 1 sdm margarin
  • ¼ sdt garam
  • Sejumput kayu manis bubuk
  • Vanilla powder secukupnya
  • Kismis secukupnya (aku menggunakan sukade)
  • Irisan daun pandan

Cara membuat:
  • Roti tawar disobek-sobek kemudian direndam dengan santan.
  • Kocok asal campur (pake whisk atau garpu saja): telur, gula pasir, garam, kayu manis bubuk, dan vanilla powder.
  • Masukkan campuran roti tawar ke dalam campuran telur, aduk rata.
  • Masukkan margarin yang sudah dicairkan.
  • Tuang ke loyang/mangkuk tahan panas yang bawahnya sudah kita tata irisan daun pandan.
  • Taburi kismis, kukus/oven kurang lebih 45 menit.

Labels:

 
posted by Yustika at 3:36 PM | Permalink | 0 comments

Cheese Cake

Akhir pekan 9-10 Mei lalu aku dan anak-anak tak pergi ke mana-mana. Pasalnya suamiku tak bisa pulang karena urusan pekerjaan di Papua, jadi aku pun malas jalan-jalan hanya dengan anak-anak saja. Kami sempat keluar sebentar mengantarkan Hanif les robotik, selanjutnya kami hanya bersantai di rumah. Daripada manyun, aku akhirnya membuat cheese cake, menjajal resep yang kudapat dari teman kantor beberapa hari sebelumnya.

Bahan-bahan

Adonan siap dipanggang

Cheese cake yang yummy!

Resep Cheese Cake


Bahan:
  • 200 gram cream cheese
  • 60 gram gula pasir
  • 2 butir telur
  • 150 mL whipped cream rasa plain
  • Perasan air lemon dari 1 butir lemon (aku menggunakan jeruk nipis)
  • Yoghurt plain secukupnya
  • 25 gram tepung terigu


Topping:
  • Selai jeruk
  • Irisan buah strawberry


Cara membuat:
  • Biarkan cream cheese dan whipped cream dalam suhu ruang.
  • Campurkan cream cheese dengan gula pasir, kocok menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi.
  • Masukkan telur, kocok lagi.
  • Masukkan whipped cream, perasan air lemon, dan yoghurt, lalu kocok hingga rata.
  • Masukkan terigu, kocok dengan kecepatan rendah.
  • Tuang adonan ke loyang.
  • Panggang dalam oven bersuhu 180°C selama 40 menit.
  • Setelah agak dingin, olesi permukaan kue dengan selai jeruk dan beri topping irisan buah strawberry.

Labels:

 
posted by Yustika at 12:13 PM | Permalink | 0 comments

Cookie Bars

Monday, May 04, 2015
Mengakhiri long weekend, fun cooking kemarin adalah membuat cookie bars dengan topping biskuit oreo. Resep ini aku dapat dari Tia, owner dan chef dari brand kue Rockybars yang enakkk bangettt. Saking enaknya, Rockybars ini jadi cemilan andalanku untuk mood booster. Dapat juga dijadikan oleh-oleh wajib buat para wisatawan yang berkunjung ke Bandung, apalagi buat yang suka sekali dengan coklat.

Bisa dibilang resep cookie bars ini resep basic-nya Rockybars, meskipun ya teuteupp lebih enak kalau makan Rockybars yang asli hehehe. Selain enak, resep ini simpel (tidak perlu pakai mixer lho) dan membuatnya pun cuma butuh waktu kurang dari 40 menit! Tinggal pakai bahan-bahan dasar kue yang ada di rumah, dan sesuaikan topping-nya dengan bahan yang kita punya. Aku sudah sering membuat resep ini, kadang pakai topping keju, kacang almond, oreo, choco chips, atau cuma taburan meises coklat.

1. Bahan-bahan yang ada di rumah, 2. Campuran adonan, 3. Choco chips sebagai filling

Siap dipanggang

Ini dia cookie bars yang sudah jadi :)

Resep Cookie Bars


Bahan:
  • 85 gram butter
  • 80 gram gula (campuran antara gula palem dan gula pasir)
  • 1 butir telur
  • 120 gram tepung terigu
  • Sedikit garam
  • 70 gram choco cincang / choco chips untuk filling


Topping:
Oreo cincang kasar

Cara membuat:
  1. Aduk butter dan gula hingga rata.
  2. Masukkan telur, aduk rata.
  3. Masukkan garam dan terigu secara bertahap, aduk pelan hingga rata.
  4. Masukkan filling, aduk hingga tercampur.
  5. Tuang adonan ke loyang, ratakan.
  6. Taburi dengan topping.
  7. Panggang dalam oven bersuhu 180°C selama 15-20 menit.


Tips: jangan terlalu banyak mengaduk supaya kue tidak bantat.

Labels:

 
posted by Yustika at 11:26 AM | Permalink | 0 comments