Terrible-Two dan Temper-Tantrum

Monday, December 13, 2010
Alhamdulillah, sampai juga aku pada fase ini. Setelah dari dulu cuma bisa membaca dan berkaca pada pengalaman orang lain, saat ini aku diberi karunia oleh Gusti Allah untuk mengalami sendiri.

Jadi begini, sekarang usia Hanif sudah 2,5 tahun. Semenjak babysitter-nya berganti dua bulan lalu, perangai Hanif berubah. Semula kami mengira ini adalah proses adaptasi dan bentuk protesnya karena babysitter yang lama—yang sangat dekat dengannya—harus pulang dan diganti dengan orang lain yang tidak seasyik pendahulunya. Apalagi ditambah dengan episode sakit, lengkap sudah Hanif berubah menjadi “lebih sulit”.

Apa pasal? Selama sebulan kemarin dia susah makan. Hanif, yang dari usia enam bulan selalu mangap dan menelan apa saja yang kami sodorkan di depan mulutnya, tiba-tiba melakukan GTM (gerakan tutup mulut), mingkem, dan emut. Okelah, mungkin karena waktu itu dia sakit. Dan babysitter yang baru, belum menemukan cara untuk waktu-makan-yang-menyenangkan. Alhamdulillah sekarang Hanif sudah mau makan, meskipun lancar hanya pada saat dia mood makan dan kadang-kadang masih GTM dan emut.

Lebih luas dari sekedar persoalan makan, ternyata perangai Hanif pun berubah. Dia menunjukkan sikap keras kepala bila menginginkan sesuatu, dan suka sekali mengekspresikan keinginannya itu dengan berteriak. Bila tidak kami penuhi, langsung menangis dengan suara yang membuat para tetangga penasaran. Sampai beberapa kali mereka datang untuk mengecek mengapa Hanif menangis sedemikian keras. Ah, kepedulian tetangga yang membuatku malu.

Setelah kupikir-pikir, mungkin seharusnya aku tak perlu malu. Ini periode yang biasa dan normal dalam fase hidup seorang anak. Well, it’s called terrible-two, dengan salah satu gejala berupa temper-tantrum.

Apa Itu Terrible-Two dan Temper-Tantrum?

Terrible two is a child developmental stage which normally occurs around the age of two (but can start earlier) and consists of toddlers often saying no and throwing temper tantrums.

Very basically, the terrible two’s can be described as aggressive, defiant, demanding, unreasonable and mischievous behavior. Some toddlers go through this stage quite mildly while others turn into devil children! :)

Temper tantrums, hitting and biting, yelling, incredible mischievousness and an overall general refusal to do just about whatever is asked of your child are the main ways this behavior is displayed. The biggest thing all parents or guardians must realize is that this behavior is TOTALLY NORMAL, not personal, aimed towards them and is not the sign of a terrible child.

A tantrum is an emotional outburst that is typically characterized by stubbornness, crying, screaming, defiance, angry ranting, a resistance to attempts at pacification and, at some cases, hitting. Physical control may be lost, the person may be unable to remain still, and even if the "goal" of the person is met he or she may not be calmed. A tantrum may be expressed in a tirade: a protracted, angry, or violent speech.

Kalau dari definisi di atas, level Hanif cuma berkisar di “stubbornness, crying, screaming, defiance, angry ranting” dan kadang “a resistance to attempts at pacification”. Alhamdulillah tidak sampai pada “hitting and biting” :)

Mengapa Bisa Sampai Temper-Tantrum?

Tantrum merupakan sesuatu yang normal dan biasa terjadi pada saat tumbuh kembang anak dan biasa muncul saat anak berusia 1-3 tahun (Tantrums Secret to Calming the Storm, La Forge, 1996). Kenapa tantrum terjadi? Secara garis besar, penyebabnya adalah: karena anak mencari perhatian, lapar, lelah, atau karena anak frustrasi.

Frustrasi pada anak sering kali membuat bingung para orangtua. Frustrasi pada anak bisa terjadi karena anak tidak mendapatkan keinginannya: bisa mainan, perhatian, maupun orangtuanya. Jadi, saat kita melihat (atau bahkan mengalami sendiri) anak menangis di pertokoan karena minta sesuatu, atau bahkan menjerit dan berguling di lantai, itu bisa jadi temper-tantrum.

Atau suatu pagi, saat kita mau ke kantor. Si kecil yang biasanya mengantar dengan riang, tiba-tiba menangis menjerit-jerit sambil memegangi kaki. “Nggak boleh... Bunda nggak boleh pergi... di rumah saja.”

Atau bisa juga, si buah hati ingin bercerita sesuatu yang seru. Tapi, dia susah sekali mengomunikasikannya. Hal ini membuatnya frustrasi dan mengakibatkan tantrum. Anak-anak biasanya lebih cepat memahami sesuatu, namun masih susah untuk mengungkapkannya (karena keterbatasan kosakata atau bahasa). Namun, saat kemampuan bahasanya meningkat dan anak sudah memasuki usia sekolah, bisa jadi tantrum akan berkurang atau hilang.

Bagaimana Menghadapinya?

  • Tetap tenang. Tarik napas, berpikir dengan jernih. Karena apabila kita ikut frustrasi, bahkan berteriak, bisa jadi kondisi malah akan lebih runyam. Sedapat mungkin, alihkan perhatian anak. Misalnya, kalau anak minta mainan dan sudah mulai tantrum, alihkan perhatiannya ke benda atau tempat lain.
  • Hindari memberi apa yang anak inginkan hanya karena kita merasa “malu”. Misalnya karena anak menangis di pertokoan, kita langsung membelikan apa yang diminta. Anak itu pintar dan cepat belajar. Sekali hal itu berhasil, bisa jadi dia akan menganggap bahwa kita akan memberi apa yang dia inginkan kalau dia menangis.
  • Memindahkannya ke tempat yang lebih tenang. Jika tantrum terjadi di tempat ramai, angkat si buah hati, bawa ke tempat yang lebih tenang, dan biarkan tantrum-nya selesai. Setelah itu, baru kita ajak bicara.
  • Tidak mengacuhkan anak saat tantrum kadang juga perlu. Tentu dengan melihat bahwa kondisi di sekitarnya aman. Kalau dia sudah tenang, baru kita peluk dan tanya dengan lembut, kenapa dia marah.
  • Jika tantrum makin menjadi, peluk si buah hati. Tapi kalau kita tidak bisa memeluk (karena kita juga sudah mulai jengkel atau emosi), paling tidak, duduk atau berdiri di dekatnya.
  • Jika tantrum sudah lewat, kita bisa mencari tahu apa sebenarnya keinginan anak. Bantu anak untuk mengekspresikan kemarahannya secara verbal dan terkendali. Berikan rasa cinta dan aman kepada si buah hati. Tunjukkan kepadanya, meski dia telah berbuat salah, sebagai orangtua kita tetap menyayanginya.
  • Yang penting, selama tantrum terjadi, sebaiknya tidak membujuk, berargumen, atau menasihati anak karena anak biasanya tidak akan menanggapi atau mendengarkan. Bahkan, terkadang hal itu malah membuat tantrum anak makin menjadi.

Penerapan Riilnya?

Hohoho, meskipun sudah kenyang dengan teori, pada prakteknya terasa susah sekali. Ketika Hanif berteriak-teriak, yang ada juga aku langsung pusing duluan. Biasanya kalau ada suami dan aku sudah geregetan banget, aku mencoba mundur menyendiri dan menyerahkan Hanif ke ayahnya. Berdiam di kamar, atau ngemil di meja makan (haha!) sampai emosiku mereda. Khawatir bernada tinggi di depan anak kalau tidak berhasil mengontrol diri.

Kadang-kadang malah sebaliknya. Ketika suami sedang ngotot untuk tidak menuruti keinginan Hanif yang sedang menangis meraung-raung, akunya yang malah tidak tega. Tergoda sekali untuk bilang “Sudahlah, Yah...” dan memberikan apa yang Hanif minta. Memang, persistensi dan konsistensi itu memerlukan tekad yang kuat. Kapan-kapan aku tulis tentang menerapkan disiplin pada anak deh.

Yosh, sudah panjang lebar ternyata tulisan ini. Semoga tidak membuat bosan para pembaca. Selamat berjuang untuk diriku dan orang tua di luar sana yang bernasib serupa :)

Sumber:
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Terrible_two
  • http://www.theterribletwos.org/what-are-terrible-twos/
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Temper_tantrum
  • http://wrm-indonesia.org/content/view/1006/3/
  • http://wrm-indonesia.org/content/view/220/58/

Labels:

 
posted by Yustika at 4:40 PM | Permalink |


0 Comments: