Tujuh Jam Rawat Inap

Thursday, November 04, 2010
This is another deg-degan story of being parents. Jadi ceritanya, Jumat pagi 22 Oktober 2010 ketika bangun pagi, aku mendapati Hanif terbangun dalam keadaan demam. Tak begitu tinggi, jadi kupikir hanya demam biasa. Maka kuputuskan hari itu Hanif tidak masuk “sekolah” dulu, sambil memberinya obat penurun demam yang biasa.

Sehari berlalu. Dua hari berlalu. Dia masih demam—meski tak begitu tinggi, paling-paling cuma 38° C—namun tingkah lakunya tetap lincah ke sana kemari. Makan minumnya juga lancar tanpa kendala. Jadi aku tetap berpikir hanya demam biasa.

Memang sempat terbersit sedikit ketakutan apakah demamnya kali ini berhubungan dengan peristiwa Selasa lalu. Malam itu dia sempat jatuh telentang dan kepala bagian belakang terbentur lantai. Bunda yang ceroboh, I know (hiks). Tapi aku menepis ketakutan itu karena antara peristiwa jatuh dengan demamnya berjarak beberapa hari. Hanif juga tidak menunjukkan gejala langsung apapun selepas jatuh, seperti mual atau muntah. Jadi masih saja, kupikir hanya demam biasa.

Segalanya jadi tak biasa ketika demam Hanif beranjak naik. Maka Minggu malam 24 Oktober, aku dan suami membawanya ke UGD. Di sana suhunya 39,9° C. Petugas dari laboratorium datang, mengambil darah untuk diperiksa. Kemudian perawat yang bertugas, memasukkan obat penurun demam lewat—maaf—anus. Yang aku tahu, obat anal semacam ini memang dapat menurunkan demam dengan segera dan berfungsi untuk mengantisipasi kejang demam (CMIIW).

Hasil cek darah menunjukkan angka normal (trombosit 245.000), kecuali leukositnya yang tinggi mencapai angka 14.300. Dokter di UGD berkata bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Setelah meresepkan obat, dia menyuruh kami pulang.

Cerita tidak berhenti sampai di sini. Malamnya sekitar pukul satu dini hari, aku tiba-tiba terbangun mendengar suara Hanif. Ketika kuperiksa, badannya menggigil hebat, meskipun tidak demam. Wajahnya pucat, bibir sedikit kebiruan, telapak kaki dan tangannya putih sekali tanpa rona merah sedikitpun. Segera kubangunkan suamiku. Berdua, dalam keadaan panik karena belum pernah mendapati Hanif dalam keadaan begini, segera bersiap membawanya ke UGD lagi.

Sampai di UGD badan Hanif sudah demam hampir 39° C. Dari penjelasan dokter yang berjaga, menggigil adalah usaha badan untuk mengeluarkan panas. Belakangan dokter spesialis anak (DSA) langganan Hanif juga menjelaskan bahwa peristiwa menggigil memang biasa terjadi bila badan yang tadinya tidak demam, akan mendadak demam dengan suhu yang cukup tinggi. Menggigil terjadi akibat perbedaan suhu yang ekstrem ini (CMIIW). Satu lagi ilmu yang kudapat malam itu, meskipun cost of learning-nya cukup membuat ketar-ketir.

Setelah perawat memberi Hanif sirup penurun demam, dokter merekomendasikan Hanif untuk rawat inap. Oh ya ampun, tanpa persiapan sama sekali. Seperti ketika Hanif harus dioperasi dulu. Aku cuma membawa baju ganti satu stel, tadinya untuk berjaga bila Hanif muntah membasahi baju seperti sesaat sebelum kami berangkat ke UGD. Setelah suamiku mengurus administrasi rawat inap, tepat pukul 03.45 Hanif masuk kamar di bangsal Irene lantai tiga. Untung tidak perlu diinfus karena belum ada rekomendasi infus dari DSA-nya Hanif. Bukannya istirahat, dia malah asyik mengeksplorasi kamar (naik turun sofa dan tempat tidur) >_<

Hanif baru tidur ketika jam menunjukkan pukul lima. Setelah dia tidur sekira dua jam, DSA-nya datang. Periksa sana sini sambil mengajak Hanif ngobrol. Lalu berkata bahwa Hanif cuma radang biasa dan sudah boleh pulang. Trombosit masih normal (175.000), hasil uji NS1 (untuk mengetahui DBD atau bukan) juga negatif. Dalam hati ada rasa lega karena Hanif tidak sakit serius, tapi ada juga rasa geli. Jangan-jangan sebenarnya Hanif tidak perlu rawat inap. Yah, namanya juga berjaga-jaga. Nurut aja lah sama dokter.

Tepat pukul 11.15, kami keluar dari bangsal Irene. Diiringi lambaian tangan para suster yang ramah itu. Jadi totalnya Hanif dirawat inap selama tujuh jam, rawat inap terpendek yang pernah aku dan keluargaku alami ^^

Update:

Minggu 31 Oktober sore, Hanif kembali demam 38° C. Senin pagi malah sampai 40° C. Senin sore Hanif kembali berkunjung ke dokter, ternyata DSA langganan sudah tidak praktek sore. Terpaksa ke DSA lain. Disuruh cek darah lagi. Hasilnya semua normal. Kami kembali pulang.

Selasa pagi Hanif kuajak ketemu DSA langganan. Lalu direkomendasikan untuk cek darah lagi (OMG!) untuk mengetahui ini typhus atau bukan. Ternyata bukan typhus (alhamdulillah) dan hasilnya semua juga normal. Jadi tampaknya ini masih radang biasa, lanjutan minggu sebelumnya, begitu kata DSA-nya.

Kalau dihitung-hitung, dalam sepuluh hari terakhir berarti Hanif sudah lima kali bertemu dokter dan empat kali diambil darah. Duh, kasihannya anak Bunda ini. Belum lagi kalau bicara soal antibiotik yang terus diresepkan oleh para dokter itu >_<

Jangan sakit lagi ya, Sayang...

Labels:

 
posted by Yustika at 3:54 PM | Permalink |


0 Comments: