Korespondensi dengan dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine: My Second Opinion

Friday, June 25, 2010
stress tidak akan memperbaiki keadaan skoliosis bahkan menambah beban. (tulis dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine di sini)

Setelah bergabung dengan Masyarakat Skoliosis Indonesia dan googling tentang skoliosis, aku menemukan nama dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine, seorang ahli medis mengenai tulang belakang di Jakarta.

Menurut kesaksian Nilvia Hakim, pasien yang pernah dioperasinya, beliau merupakan seorang dokter yang responsif, komunikatif, dan mampu membuat analogi sederhana tentang penanganan skoliosis yang terasa asing. Pertemuan pertama Nilvia yang berlangsung kurang lebih satu jam dihabiskan dengan sesi tanya-jawab untuk lebih memahami apa tujuan dilakukannya operasi sebagai sebuah bentuk koreksi skoliosis. Aku sangat sepakat dengan tulisan Nilvia bahwa pasien harus “pintar” dan sebaiknya mengenal terlebih dahulu dokter yang akan menangani sang pasien sehingga tercipta rasa nyaman dan kepercayaan yang berkesinambungan.

Berdasar kesaksian tersebut, aku berpikir bahwa mungkin saja aku bisa menanyakan skoliosisku kepada dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine. Maka pada 14 Juni 2010, aku mengirim e-mail di bawah ini lewat akun Multiply.

Salam,
saya seorang penderita skoliosis ringan dengan angulus 14 derajat ke kanan pada lumbal spine. Ingin bertanya-tanya sedikit pada dr. Salim, karena saya tidak berhasil memperoleh pencerahan dari dokter ortopedi yang saya temui.

Saya sudah merasa sering pegal bertahun-tahun lalu (mungkin ada 10 tahun), tapi baru periksa minggu lalu dan disarankan rontgen sampai akhirnya ketahuan bahwa saya skoliosis ringan. Dokter yang saya temui sama sekali tidak simpatik dan tidak memberikan saya kesempatan untuk banyak bertanya dan konsultasi.

Dia cuma menyarankan saya untuk berenang dan tidak mengangkat yang berat-berat. Saya juga tidak diperbolehkan lagi senam aerobik meskipun cuma low impact (FYI selama 5 tahun ini saya rutin senam 2-3 kali seminggu). Dokter juga bilang bahwa yoga atau chiropractic tidak perlu dilakukan karena "tidak akan ngaruh" (saya sempat baca postingan dari bung Erikar tentang Iyengar Yoga untuk skolioser di board MSI). Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
2. Apakah mungkin menjadi lurus kembali? (menurut bung Erikar kan bisa)
3. Apa yang sebaiknya saya lakukan dan apa yang sebaiknya tidak saya lakukan?
4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
5. Apa betul yoga dan chiropractic tidak akan berpengaruh?
6. Apakah saya hanya bisa diam saja? Tidak adakah terapi atau olahraga yang bisa saya lakukan (selain renang)?

Sementara ini dulu ya, dr. Salim yang baik. Saya sangat mohon pencerahannya.

Alhamdulillah, pada 18 Juni 2010, dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine membalas e-mail-ku.

yustika15 yth,
Saya coba jawab langsung dibawah pertanyaan.

1. Apakah derajat yang baru 14 derajat masih bisa dikoreksi?
===> Tergantung umur, kekakuan, dan kepentingannya. Maksud saya kepentingannya adalah seberapa penting kita perlu membuat kurva yang 14 derajat menjadi nol derajat. Literatur mengatakan kurva 14 derajat seharusnya tidak memberikan keluhan apapun. Bila ditemukan adanya keluhan maka keluhan itu dipastikan bukan karena skoliosisnya.

2. Apakah mungkin menjadi lurus kembali? (menurut bung Erikar kan bisa)
===>Pasti dong, tapi yang pasti tidak oleh yoga atau tindakan manipulasi non operatif lainnya. Ingin saya katakan adalah kurva kecil kadangkala bisa kembali lurus (0 derajat) oleh mekanisme yang dibangun oleh tubuh sendiri. Atau bisa juga tindakan operasi, itupun tidak ada ahli bedah yang mau melakukan operasi untuk mengoreksi skoliosis dengan kurva 14 derajat. Lagian Erikar ngerti nggak sih apa itu skoliosis??? Jangan2 pengertian skoliosis yang dipahami oleh dunia kedokteran berbeda dengan pemahaman dia. Saya kira ini perlu dipertegas dulu. Saya bisa pastikan bahwa pengertian saya mengenai skoliosis berbeda dengan pemahaman oleh teman saya yang juga ahli orthopaedi tapi tidak mendalami masalah tulang belakang (skoliosis) apatah lagi seorang irekar yang tidak belajar ilmu kedokteran sama sekali.

3. Apa yang sebaiknya saya lakukan dan apa yang sebaiknya tidak saya lakukan?
===>untuk skoliosis yang 14 derajat sebaiknya wait and see saja. Anda cukup bersikap se normal mungkin dan melakukan evaluasi 6 bulanan untuk melihat progresifitas kurva sehingga anda tau kapan waktu yang paling ideal dilakukan intervensi.

4. Apa betul saya tidak boleh senam aerobik lagi?
===>Skoliosis pada kurva14 derajat silakan saja. Bahkan kalau Anda juga seorang atlit penerjun payung sekalipun, saya rasa tidak ada alasan untuk menghentikan kegiatan tersebut. Asal Anda tau bahwa potensi penambahan kurva akan lebih besar bila Anda tidak melakukan aktifitas tsb diatas.

5. Apa betul yoga dan chiropractic tidak akan berpengaruh?
===>untuk koreksi ya. Tapi untuk kenyamanan dan kebugaran boleh2 saja. Chiropractic sesungguhnya hanyalah pijat, pijit, urut saja.

6. Apakah saya hanya bisa diam saja? Tidak adakah terapi atau olahraga yang bisa saya lakukan (selain renang)?
===> ah... enggak. Lakukanlah aktifitas sesuai keinginan Anda tidak perlu membatasi gerakan, namun yang penting Anda tau bahwa Anda perlu mengevaluasi penambahan kurva paling tidak 6 bulan atau setahun sekali.

Demikian mudah2an bisa menjawab Anda.

Rahyussalim

Langsung plong hatiku membaca e-mail ini. Artinya aku masih bisa senam aerobik lagi :D

Tapi aku juga tidak mau gegabah. Aku masih akan mencari opini lagi dari dokter lain.

Satu hal yang sangat penting yang aku pelajari dari dr. Rahyussalim, SpOT, K-Spine adalah tentang sikap mental bahwa tidak ada gunanya menjadi stress karena skoliosis. Sarannya tentang berusaha hidup senormal mungkin, senyaman mungkin, serta melakukan aktivitas sesuai keinginan dan tidak perlu membatasi gerakan, cukup membuatku percaya diri lagi untuk menjalani hari. Yah, meskipun harus dibarengi dengan evaluasi progresivitas kurva paling tidak enam bulan atau setahun sekali, aku rasa itu sepadan.

Labels:

 
posted by Yustika at 10:51 AM | Permalink |


0 Comments: