Jurnalis

Monday, March 12, 2007

Killing the Messenger, demikian judul hasil studi sebuah lembaga independen di Inggris *sayang aku lupa nama lembaganya* tentang kematian jurnalis di seluruh dunia yang mencapai angka seribu selama satu dekade terakhir. Yang menarik, kematian para kuli tinta ini sebagian besar bukan terjadi di daerah konflik di luar negara mereka, melainkan di daerah aman di dalam negeri.

Sudah jamak ternyata... di berbagai belahan dunia ini, profesi jurnalistik yang menyentil-nyentil pemerintahan sensitif akhirnya berujung pada pembunuhan atau kematian. Pembunuhan dirasa gampang bagi para algojo itu sebab mereka tahu, pengadilan yang adil dan tuntas sering tak berpihak pada jurnalis. Masih ingat kisah wartawan Udin yang sampai kini tak tentu penyelesaiannya?

Terlepas dari hasil studi itu, beberapa waktu lalu aku sempat speechless ketika M. Guntur dari SCTV dan Suherman dari Lativi menjadi bukti nyata mahalnya harga sebuah profesi jurnalistik. Begitulah. Penghargaan terdalam yang tak pernah berkurang selalu aku persembahkan buat para jurnalis sejak bertahun-tahun silam, pada suatu masa ketika aku menyadari bahwa profesi ini bukanlah profesi main-main. Penghargaan yang melebihi standing ovation dan gelar bergengsi, karena meskipun upahnya sedikit, misi mereka sungguh mulia: mengantarkan pesan (baca: berita) untuk kita sampai titik penghabisan.

Labels:

 
posted by Yustika at 9:45 AM | Permalink |


0 Comments: