Fakir Miskin dan Anak Yatim

Monday, September 25, 2006

Tadi selepas tarawih, aku nyari-nyari episode baru Kiamat Sudah Dekat di televisi. Ternyata nggak ada, yang ada malah Lorong Waktu 6. Yo wis lah. Karena udah terlanjur bawa sebungkus keripik Lay, jadilah aku nongkrong di depan televisi meninggalkan aktivitas packing *aku mau pulaanggg... yuhuuuu*.

Episode kali ini cukup menohokku. Kisahnya tentang pengingatan untuk peduli pada fakir miskin dan anak yatim, karena sebenarnya mereka adalah petunjuk jalan menuju surga. Dikatakan juga bahwa orang-orang lapar yang meminta-minta pada kita, sejatinya adalah perantara salam Rasulullah untuk kita.

Teringat kutipan dari Catatan Seorang Ukhti tentang fakir miskin dan anak yatim ini, ”Seandainya pun uang kita habis untuk memberi sedekah buat mereka, itu tidak jadi masalah. Karena kesempatan kita untuk mencari uang tetap lebih besar daripada mereka.”

Jadi malu. Karena sering menghitung-hitung uang yang akan disedekahkan. Karena sering menggelengkan kepala di perempatan ketika mereka mendatangi. Karena sering pura-pura tidur di bus atau menutup pintu rumah untuk menghindari mereka.

Jadi ingat Mas Catur. Berkaca dari pengalaman, harusnya aku memang malu sama dia, yang hampir selalu mengulurkan uang kecil untuk mereka. *Inget nggak, Mas... Kita sampai masuk ke sebuah plaza di Jakarta untuk membeli sesuatu demi memiliki kembali uang kecil, karena yang tersisa tinggal lembaran uang lima puluh ribuan...*

Ramadhan ini, semoga semuanya berubah menuju arah yang lebih baik!
 
posted by Yustika at 12:16 AM | Permalink | 1 comments

Cincin Nikah

Thursday, September 21, 2006
Buat yang akan menikah dan mempunyai keinginan untuk menikah, ada baiknya baca postingan di bawah ini. Sangat perlu untuk diketahui.

Emas putih BUKAN platina

Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih).

Karena postingan ini agak sedikit berbau kimia, maka kita buat perjanjian dulu ya. Nama logam yg diikuti dengan lambang kimianya berarti adalah logam murni. Nama logam yg tidak diikuti dengan lambang kimianya, berarti logam campuran.

Emas putih adalah campuran emas Au (yg berwarna kuning) dan logam lain yg berwarna putih seperti nikel Ni, perak Ag, palladium Pd, platinum Pt atau rhodium Rh. Adanya campuran logam2 putih ini akan mengubah warna emas dari kuning menjadi putih. Emas kuning adalah campuran antara emas Au, tembaga Cu dan seng Zn; sehingga warnanya kuning. Kadar emas dinyatakan dengan karat. 18 karat artinya 75% emas dan 25% logam lain.

Platina Pt adalah logam berwarna putih. Dalam perhiasan, satuan kemurnian platina dinyatakan dengan Pt900, Pt950 dan Pt1000. Pt900 artinya perhiasan tersebut mengandung platina 90% (900 from 1000). Umumnya yg digunakan dalam perhiasan adalah Pt900 dan Pt 950, meski ada juga Pt 1000 (platina murni). Platina 2 kali lebih berat daripada emas. Harga pergramnya 2-2,5 kali lebih mahal daripada emas. Jadi untuk desain yg sama (bentuknya sama) maka cincin platina akan lebih mahal 4-5 kali daripada emas. Oleh karena itu gelang atau kalung dari platina akan sangat jarang ditemui karena harganya sangat mahal.

Emas putih supaya warnanya cemerlang maka perlu disepuh (plating) dengan rhodium. Lama-lama plating-nya ini akan hilang sehingga emas putih perlu disepuh lagi dengan rhodium supaya warnanya cemerlang. Platina warnanya tidak akan pernah pudar.

Gambar disebelah kiri ini menunjukkan cincin dari emas putih yg disepuh rhodium (atas) dengan cincin dari platina. Sama kan warnanya. Sedang gambar di sebelah kanan menunjukkan cincin yg dibuat dari platina dan emas putih yg tidak disepuh. Warna putih adalah platina, sedang warna gelap itu adalah emas putih. Could you see the difference?

*gambar tidak bisa dilihat di sini (-yust)*

Cincin platina amat sangat jarang dijual di Indonesia karena tidak laku (harga terlalu mahal). Kalau tidak salah ada toko jewellery yg menjual cincin platina di Plaza Indonesia. Dan kalo tidak salah sih yg dijual ditoko itu juga cincin yg mahal2.

Lately... banyak orang mulai memilih cincin kawin dari emas putih untuk menghindari emas kuning. Banyak salah kaprah yg sudah tersebar luas di masyarakat bahwa emas putih adalah platina. Jadi memilih cincin kawin dari emas putih sbenernya juga sama saja artinya dengan menggunakan emas kuning (atau emas ungu... hehehehe ada lho di Jepang).

Jadi bagaimana? Perlukah memakai cincin kawin? Hmmm... cincin kawin itu sendiri kan sbenernya cuma budaya, tidak ada aturannya. Menurutku sih daripada menggunakan cincin kawin dari emas (ga peduli putih, kuning atau ungu) yang sudah jelas2 haram (bagi laki2), maka mendingan ga usah pake cincin kawin saja sekalian.

Tapi kadang ada juga laki2 yg pengin memakai cincin kawin. Alasannya sih macem2 tergantung orang. Mungkin dia terlalu banyak fans dan capek menghadapi fans2nya hihihi. Atau dia pengin pake cincin kawin biar tiap kali mau selingkuh dia ingat kalo udah ada istri di rumah hihihi.

Na... untuk kasus2 yg seperti ini, maka cincin kawin apa yang harus dipilih untuk laki2? (emas apapun warnanya udah tereliminasi dengan sempurna). Kalau memang punya rejeki lebih.. bolehlah pake cincin kawin platina. Tapi untuk membeli cincin kawin platina yg murah, sepertinya harus ke luar negeri. Yang dijual di indonesia kan yang mahal2. Mungkin harganya 10-15 juta per pasang. Di jepang, simple ring (no diamond) dari Pt900 paling murah (3 gram) bisa dibeli dengan 2 juta rupiah. Di Indonesia 2 juta rupiah tu baru bisa beli cincin emas putih dengan berlian kecil.

Karena untuk membeli cincin platina yang murah tu harus ke luar negeri, mungkin bisa juga pake alternatif lain. Misalnya cincin kawin dari sterling silver (atau silver 925, 92.5% silver dan 7.5% tembaga), titanium, stainless steel atau Pt50 (campuran platina 5% dengan silver). Titanium adalah logam yg lebih ringan dari emas dan juga lebih murah. Oleh karena itu memakai cincin titanium bagi beberapa orang lebih terkesan seperti maen2, atau dengan kata lain tidak cocok untuk cincin kawin. Dua yg terakhir ini aku ga tahu udah dijual di Indonesia apa belum. Kalo di Jepang sih sudah banyak dijual cincin pair yg dari stainless steel atau Pt500.

In summary, my wedding ring recommendation for moslem man are:
1) ga sah pake cincin kawin
kalo tetep pengin pake, maka:
2) cincin kawin platina (only if km bisa nyari cincin platina yg murah.... titip teman yg lagi di luar negeri hehehe)
3) cincin kawin sterling silver (tapi rajin disepuh ya...)
4) cincin kawin Pt50 (ni sama aja kek sterling silver sih... cuma yg 5% tu udah jelas platina)
5) cincin kawin stainless steel

Buat yang perempuan mah... hihihi... terserah mau pake apa. Cihuiiiiiiiiiii...

platinum wedding ring, an everlasting one for your everlasting wedding
mungkin salah satu alasan kenapa ak harus dapat beasiswa tu adalah supaya bisa beli cincin kawin platina yg murah ROFL

UPDATE:
Toko emas Kaliem, Melawai Jakarta, katanya sih menjual cincin platina. harga per gramnya Rp 350.000.

*dikutip dari sini*


Nah, udah baca kan? Memang susah bukan main mencari toko emas yang bisa bikin cincin platina. Aku nggak yakin di Solo ada. Di Jakarta pun cuma ada beberapa, kukira. Sekedar berbagi kerepotan untuk mencari cincin nikah, sekarang aku jadi pengen cerita jalan-jalanku ke Jakarta akhir pekan lalu.

Saking penasarannya dengan Toko Kaliem ini, aku memutuskan main ke Jakarta untuk survei *padahal nikahnya masih lama, hehehe*. Buat yang pengen tahu, Toko Kaliem ini salah satu dari sekian banyak toko emas di Melawai Plaza, dekat Pasaraya Grande Blok M. Salah satu yang terbesar di situ.

Di toko ini, kita bisa pesan cincin pure platina *catat ya: pure, tanpa campuran apapun* dengan harga 1 gramnya 500 ribu rupiah. Kata mereka, karena platina itu berat, untuk pesan wedding ring sepasang dipatok sejumlah 14 gram alias 7 juta rupiah *jadi enggak bisa kita minta di bawah 14 gram*. Itu udah termasuk biaya pembuatan. Komplit lah pokoknya. Tapi jika asesoris mata yang dipasang bukan imitasi alias berlian beneran, maka harganya bisa nambah lagi jadi di atas 7 juta rupiah.

Mbak Lucy, pramuniaga yang ramah banget melayaniku waktu itu, mungkin maklum melihat wajahku yang rada-rada shock mikir harga segitu. Dia nawarin solusi alternatif sambil cerita bahwa banyak pasangan yang akhirnya memilih langkah ini. Solusi yang ditawarkan: beli cincin emas putih untuk calon pengantin putri dan bikin cincin perak dengan model yang sama untuk calon pengantin pria.

Di Kaliem, cincin emas putih yang bagus *udah pake berlian* harganya sekitar 2 sampai 2,5 juta rupiah. Sementara cincin perak tidak dihitung per gram, tapi per satuan cincin. Harga per satuannya sekitar 500 sampai 600 ribu rupiah. Kita bisa minta Kaliem bikin cincin perak dengan model yang sama. Jadi, jatuhnya total cuma sekitar 2,5 sampai 3 juta rupiah. Jauh lebih hemat, kan?

Kelebihan solusi alternatif ini adalah: (1) lebih hemat; (2) cincin emas putih bisa dijual kembali, kalau cincin platina kan enggak bisa dijual lagi *meskipun cincin nikah tidak untuk dijual, siapa tahu kelak keadaan ekonomi mepet*; dan (3) udah dapat cincin emas putih yang bagus dengan berlian.

Kadang-kadang kita mikir pengen punya cincin yang sama dengan suami ya, tapi kalau harga segitu terlalu berat, solusi alternatif bisa jadi pilihan. Kekurangannya paling-paling harus sering bawa cincin peraknya ke toko emas buat digosok, karena cincin perak cepat sekali kusam.

Oke, segitu dulu deh ceritanya. Moga menambah wawasan. Tetap semangat buat yang berburu cincin ;)
 
posted by Yustika at 11:51 AM | Permalink | 26 comments

Ke Pasar Seni

Tuesday, September 12, 2006
Ahad 10 September, sebelum ke Jakarta, aku menyempatkan jalan-jalan ke Pasar Seni ITB 2006. Hebat ya, acara-acara yang digagas anak-anak seni selalu besar gaungnya dan bisa sukses. Salut buat totalitas dan integritas mereka. Berikut ini oleh-oleh dari sana.


Lampion-lampion lucu. Ada yang bentuknya bola sepak. Satu buah minimal 50 ribu.


Lukisan di Pasar Seni bagus-bagus lho. Sukaaaa banget lihatnya. Sayangnya mahal buat kantongku.



Quilt yang jadi background stand di atas bagusss bangettt. Harganya satu juta enam ratus ribu. Ada pula boneka-boneka lucu pake baju-baju manis. Semuanya hand made. Aku beli dua boneka. Harusnya 80 ribu, tapi setelah kutawar dapat 65 ribu.



Ini kerajinan miniatur yang sekarang lagi nge-trend. Hand made juga... dan dibuat dengan sangat detil. Seneng banget lihatnya. Sayangnya muaahalll. Satu kotak kecil miniatur (yang sudah disusun jadi) bisa berharga jutaan rupiah.


Eksibisi seni dari seorang seniman.



Dua foto di atas adalah seni instalasi dari Himasra UPI. Keren kan.

Seni lukis dengan media kaos dan sepatu.



Seni keramik dari mahasiswa seni rupa ITB.
 
posted by Yustika at 3:25 PM | Permalink | 0 comments

Cari Kerja

Sepekan ini bener-bener kerasa banget jadi job seeker. Selain karena ada Career Days, juga ada tiga panggilan tes dan kesibukan ngirim beramplop-amplop surat lamaran. Sayangnya, dua panggilan tes ternyata bentrok satu sama lain; satu di Jakarta dan satu di Bandung. Nggak bisa di-reschedule, jadi harus milih salah satu.

Iseng-iseng, aku ngitung berapa surat lamaran yang pernah kukirim semenjak aku lulus dua bulan lalu. Ternyata Sodara-Sodara, ada 124 surat lamaran! 85 via e-mail, 31 via pos, dan 8 via Career Days. Itu belum termasuk apply via pcd.itb.ac.id. Fiuuuhhh, banyak juga ya. Berapa yang dipanggil nggak kukasih tau di sini ah, ntar jadi ketauan aku gagal berapa kali :p

Jumat lalu aku ke Jakarta buat interview. Ini pengalaman pertama ke Jakarta sendirian. Sebelumnya, aku selalu ditemani Mas Catur kalau ke sana. Bener-bener takut, secara nggak ngerti Jakarta sama sekali. Akhirnya naik travel saja biar gampang. Apalagi pool-nya deket sama tempat interview di salah satu perusahaan di bilangan Sudirman ini.

Akhirnya hari Senin dipanggil lagi oleh perusahaan yang sama untuk job training. Perusahaan ini bertempat di lantai 28 Wisma BNI, dari kost Maya di Pasar Minggu --tempat aku numpang nginep-- cukup sekali naik metro mini. Nggak setakut waktu hari Kamis lalu, soalnya udah lumayan ngerti rutenya. Jadilah sendirian lagi menyusuri jalanan Jakarta. Lama-lama berani juga :p

Sayangnya, banyak hal yang membuatku berpikir ”kok gini sih” di perusahaan itu. Meskipun udah langsung diterima kerja, aku memilih mengundurkan diri saja. Bisa dibilang perusahaan ini nggak bonafit dan proses rekrutmennya nggak jelas. Bisa dapat uang gede sih di sini, tapi aku bener-bener nggak suka sama kerjaannya. Ya sudah, akhirnya aku pulang ke Bandung.

Kalau mau mikir sisi negatifnya, aku bener-bener rugi datang ke Jakarta. Udah berat diongkos, aku jadi nggak punya kesempatan untuk memenuhi panggilan tes perusahaan yang di Bandung. Susah-susah cari kerja, begitu dapat... eh, nggak bonafit. Tapi kan di postingan ”Berpikir Positif” sebelum ini, aku pengen mengubah mindset tuh. Ya sudah, dicari hikmahnya saja.

Paling enggak aku jadi berani ke Jakarta sendirian. Jadi tahu sedikit bagian dari ibukota yang luas itu. Jadi tahu kost Maya yang nyaman. Jadi bisa ngrasain singkong goreng yang uenakk buangeett di bawah jembatan halte busway Tosari. Anggap saja ini dalam rangka jalan-jalan ke Jakarta. Aku percaya, pekerjaan yang bagus masih menantiku di luar sana. Semangaaaaaattttt!!!
 
posted by Yustika at 3:13 PM | Permalink | 2 comments

Berpikir Positif

Dua kata di atas gampang diucapkan, tapi sulit banget dilakukan. Belakangan ini aku ditolak kerja terus sama perusahaan-perusahaan. Semenjak lulus, belum ada satu pun yang nyantol. Huh, sempet jadi males banget cari kerja. Jadi ngerasa nggak kompeten, inferior, bla bla bla...

Kemarin, pas puncak-puncaknya bete karena baru saja ditolak kerja lagi, aku baca tulisan bagus banget di blog Ilma.

“Each morning I wake up and say to myself, I have two choices today. I can choose to be in a good mood or I can choose to be in a bad mood. I always choose to be in a good mood. Each time something bad happens, I can choose to be victim or I can choose to learn from it. I always choose to learn from it. Every time someone comes to me complaining, I can choose to accept their complaining or I can point out the positive side of life. I always choose the positive side of life.

Life is all about choices. When you cut away all the junk, every situation is a choice. You choose how you react to situations. You choose how people will affect your mood. You choose to be in a good mood or bad mood. It’s your choice how you live your life.

Every day you have the choice to either enjoy your life or to hate it. The only thing that is truly yours --that no one can control or take from you-- is your attitude, so if you can take care of that, everything else in life becomes much easier.”


Dezighh! Serasa ditonjok banget aku. Jadi malu… Sekarang aku jadi semangat lagi. Nganggur? Ah, baru dua bulan ini...

*Ma kasih buat Mas Catur yang nggak henti-henti nyemangatin (atau nyuruh-nyuruh? hehe piss) ’tuk cari kerja terus*
 
posted by Yustika at 2:59 PM | Permalink | 0 comments

Pernikahan



Eh, kalau lihat-lihat foto wedding ala barat, pasti bagus-bagus ya... Jadi mupeng... Tapi pernikahan ala Solo nggak mungkin kayak gitu, yang ada juga corak kayak gini nih.


Pola batik di atas namanya Sidomukti. Dipakai pada special occasion seperti pernikahan. Melambangkan kehidupan yang makmur dan penghormatan (atau cinta) yang mendalam oleh orang lain.



Nah, kalau dalam acara lamaran secara adat, wali perempuan Jawa memakai pola batik di atas ini. Nama polanya Satria Manah. Melambangkan seorang ksatria dengan busur dan panah yang membidik targetnya dengan tepat. Artinya, lamaran akan diterima.



Sementara ketika acara lamaran diterima, keluarga perempuan Jawa memakai pola batik di atas ini. Nama polanya Semen Rante. Rante artinya rantai. Melambangkan hubungan yang dekat, cocok, dan mengikat. Dalam kepercayaan Jawa, menceraikan seorang wanita akan merusak nama baik si wanita. Makanya pernikahan disimbolkan dengan rantai yang mengikat.

Nanti kalau aku menikah, pengennya pakai baju adat juga, secara sekarang ini kaum muda Jawa sudah mulai kehilangan akar budayanya. Alih-alih pakai baju adat, mereka malah pada rame-rame bikin baju bridal ala barat. Aku nggak mau ikut-ikut. Aku kan bangga jadi orang Solo...

 
posted by Yustika at 2:01 PM | Permalink | 3 comments

Bangga Jadi Orang Solo

Sepanjang pekan lalu, tanggal 1-7 September, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo tengah punya hajat menggelar Bengawan Solo Festival (BSF) 2006. *Sayangnya aku malah sedang ada di Bandung.* BSF dibuka dengan karnaval wayang dari Stadion Sriwedari menuju Balaikota Solo. Partisipasi lebih dari 30 peserta sanggar, kelompok wayang, dan kelompok seni dari 20 kota di Jateng dan luar Jateng serta animo masyarakat untuk menyaksikannya menjadi bukti bahwa spirit wayang masih tetap eksis. Kreasi wayang yang ditampilkan pun beragam, mulai dari wayang orang tradisional Solo, wayang jazz Baluwarti, wayang lesung Karanganyar, kethek ogleng Wonogiri, kuda lumping Kendal, dongrek condro Madiun, sampai seniman wayang dari Jerman.

Penyelenggaraan pameran budaya BSF 2006 juga diawali dengan pemutaran film Opera Jawa karya Garin Nugroho di Grand Theatre, Solo Grand Mall. Yang lebih membanggakan lagi, alasan Garin membawa filmnya ke Solo adalah karena BSF dinilai penting bagi Solo, mengingat kota ini sangat menonjol di bidang seni pertunjukan. *Du du du du, bangga dong...*

Sejak lama Solo sudah didengung-dengungkan sebagai kota budaya. Ini petikan dari situs tentang sejarah kota Solo, “The reason why Solo is called Kota Budaya (A Town of Cultural Greatness) is that in the past it was one of the Javanese cultural centres. This has led to the preserving attitude towards all forms of Javanese culture and traditions in Surakarta, including old architectural works. It has developed from the awareness of the fact that the town has a rich variety of architectural and traditional heritages, such as traditional, European, modern, and post-modern architecture. Two of these (traditional and European) have been of primary importance in creating Surakarta’s modern identity.”

Kalau bicara tentang Solo dan nafas Jawanya, maka siap-siap saja mendengar tentang sejarah panjang sebuah kota. “The history of Surakarta began when Sunan Paku Buwana II ordered Tumenggung Honggowongso, Tumenggung Mangkuyudo, and the Dutch Army Commander J. A. B Van Hohendorff to find the location to set up the new capital city of the Mataram Kingdom. After considering physical and non-physical factors, in 1746 AD (or 1671 of Javanese calendar) a village near Bengawan river called Sala was chosen. Since then, Sala has turned into Surakarta Hadiningrat and continued developing.

Under the Giyanti treaty, 13 February 1755, the Islamic Mataram Kingdom was divided into Surakarta and Yogyakarta. Under the Salatiga treaty, the Surakarta Kingdom was divided into Kasunanan and Mangkunegaran.

From the historical facts, the development of Surakarta was very much affected by the roles of the Kasunanan goverment, Mangkunegaran government, Vastenburg Fort as the centre for the Dutch close surveilence on the Surakarta Kingdom, and Pasar Gede Hardjanagara market as the town’s centre of economy. The roles of those places had formed the cultural area with the Kasunanan Kingdom as the centre. Further development continued around this region to this day.” Untuk lebih jelasnya, klik di sini.

Aku juga pernah menulis tentang sentimen yang kurasakan tentang suasana Solo yang kental kebersahajaan, kedamaian, dan kejawaan, yang senantiasa membuat aku rindu. Baca di sini.


Tiba-tiba jadi pengen pulang lagi...
 
posted by Yustika at 1:24 PM | Permalink | 0 comments

Penyesuaian

Friday, September 08, 2006
Menyesuaikan diri dengan hal baru bukan sesuatu yang mudah bagiku. Dan belakangan ini aku harus berusaha. Jadi inget tulisan Desi tentang transisi...

Sudah seminggu balik ke Bandung, masih saja home sick. Ini gara-gara lama di rumah nih. Kangen sama Yesti, kangen sama masakan Mami (meski Mami jarang masak :p), kangen sama kasurku yang peyot itu. Aduhh, pengen pulang lagi...

Trus juga harus menyesuaikan lagi dengan ritme kehidupan Bandung. Udara dingin, makanan seadanya ala anak kost, bersibuk-sibuk lihat lowongan kerja di koran, kirim surat lamaran, kembali buka karir.com, pcd.itb.ac.id, sama jobsdb.com... Huh, kesibukan yang agak membosankan.

Yang paling kerasa: harus menyesuaikan diri dengan dua penghuni kost baru. Masih gelap, belum kenal. Trus trus, ternyata aku kangen juga sama Maya, temen sebelah kamar yang kini kerja di Jakarta. *Aiihhh, Maya... Aku kangen sama kamu... Kangen sama celotehanmu, sama kelembamanmu, sama obrolanmu, sama style-mu yang easy going, cuek, dan apa adanya... Juga kangen blusukan lagi ke kamarmu minjem installer, CD writer, atau nonton film bareng-bareng... Sekarang nggak ada lagi yang rajin ngunci pagar dan pintu depan sepeninggalmu (secara aku males keluar gitu loh :p). Huhuhu, Maya... I miss u...*

Huh, aku benci masa transisi ini.
 
posted by Yustika at 4:41 AM | Permalink | 3 comments