Kesempatan Kedua

Monday, May 30, 2005
Everybody has a right for a second chance...
Setiap orang pernah berkubang dalam kesalahan. Kesungguhan adalah kala mereka ingin mengakhiri semuanya, kembali memulai dari awal yang tak ternoda. Masa depan selalu ada bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Kesempatan selalu ada bagi mereka yang ingin menjadi lebih baik.
Maka kita sama sekali tak berhak menjadi hakim. Tak peduli seperti apa masa lalu itu merajam kita. Tak peduli sesakit apa kita berdarah-darah. Yang bisa kita beri adalah cinta setulus hati. Cinta yang memberi mereka kekuatan, cinta yang membimbing mereka bangkit, cinta yang mengangkat mereka kembali ke langit. Juga cinta yang melayani, cinta yang mempercayai, cinta yang setia menanti.
Because love gives. It does not demand...
 
posted by Yustika at 11:19 AM | Permalink | 0 comments

Kuliah

Tuesday, May 17, 2005
Seseorang: “Kamu nggak bisa karena kamu nggak kuliah kan?”

Aku: “Salah!!”

Seseorang: “???”

Aku: “Aku nggak kuliah karena aku nggak bisa.”

Pfff. Ternyata sulit juga ya, menemukan motivasi untuk melakukan sesuatu kala kita benar-benar tidak menyukainya. Benar juga apa yang Yuti pernah bilang, kehidupan itu kontinu dan saling kait-mengkait. Satu kejadian memiliki hubungan kausal dengan kejadian yang lain. Kesalahan di satu sisi bisa juga merembet ke berbagai sisi yang lain.

Hmm, mungkin sudah waktunya aku membuang jauh ego itu. Kini bukan lagi saatnya bicara tentang suka atau tidak suka, melainkan tentang pemenuhan kewajiban. Harusnya aku juga mengingat mereka, orang-orang terkasih itu…
(Buat Papi, Mami, dan seseorang yang selalu memotivasi, saksikanlah… aku juga akan berjuang!)
 
posted by Yustika at 8:55 AM | Permalink | 3 comments

Kebetulan Atau Pertanda?

Saturday, May 14, 2005
Maybe it’s intuition
Something you just don’t question


Saya tidak tahu mengapa, rasanya banyak sekali lintasan-lintasan kejadian dalam hidup ini yang serasa serba kebetulan. Mungkin hidup itu memang seperti puzzle. Kemarin kita menemukan satu kepingan, hari ini kita juga menemukan satu lagi kepingan. Dan secara kebetulan, kepingan-kepingan itu membentuk sebuah pola yang pas. Dan itulah puzzle hidup kita.

Ah, tunggu dulu. Benarkah itu semua kebetulan semata? Mungkin buat kita memang iya, tapi tentu tidak bagi Sang Empunya Skenario. Bisa jadi, Dia memberi kepingan-kepingan itu sebagai pertanda agar kita mengenali jalan yang ditunjukkan-Nya. Lalu bagaimana jadinya jika kita salah menafsirkan pertanda? Apakah puzzle itu akan selesai? Saya rasa puzzle itu akan tetap selesai, entah seperti apa polanya. Dan ketika puzzle itu terbentuk, kita akan benar-benar bersyukur memiliki kepingan-kepingan itu, yang pada awalnya kita bahkan sering tak tahu untuk apa.
Satu setengah bulan yang lalu saya menemukan sebuah kepingan indah. Betapa lucu, beberapa tahun silam sebenarnya saya sudah menggenggam kepingan yang sama. Namun, saat itu saya membuangnya begitu saja. Beruntung, Dia mengembalikan kepingan itu ke tangan saya. Lagi-lagi, kebetulan atau pertanda? Entahlah. Yang jelas, kepingan itu adalah kepingan terindah yang pernah saya miliki. Moga makin jelas seperti apa pola puzzle hidup ini.
 
posted by Yustika at 9:07 AM | Permalink | 0 comments

Alzheimer

Friday, May 13, 2005
Tadi habis nonton Oprah Winfrey Show. Salah satu bintang tamunya adalah Maria Shriver, istri Gubernur California Arnold Schwarzenegger (adduhh, susah bener nulisnya!). Temanya tentang Alzheimer, sebuah penyakit yang kini sudah menyerang lebih dari enam juta penduduk Amerika Serikat (angka yang fantastis, bukan?).

Buat kita, mungkin, Alzheimer tampak asing. Banyak yang menyebut penyakit ini sebagai penyakit pikun. Padahal lebih dari itu, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian. Gejala awalnya memang tampak seperti pikun: lupa di mana meletakkan barang, sulit mengingat fungsi benda-benda, sulit mengingat nama-nama, atau bahkan lupa bagaimana cara melakukan sesuatu. Pada stadium paling parah, penderita Alzheimer bahkan tidak dapat mengingat apapun serta tidak dapat merespon stimulus apapun dari lingkungan.

Yang perlu diwaspadai, ternyata penyakit ini tidak hanya menyerang orang-orang lanjut usia, melainkan juga dapat menyerang orang yang berusia 30-an. Sayangnya, penyebab dan obat penyakit ini belum dapat ditemukan dengan pasti.

Perjuangan untuk melawan penyakit Alzheimer tidak hanya dilakukan oleh si penderita. Keluarganya juga harus turut serta. Seorang penderita Alzheimer tidak dapat berjuang sendirian karena penyakit ini benar-benar menculik pikiran dan ingatannya. Dengan support penuh dari keluarga, lingkungan sekitar akan dapat menerima kehadiran si penderita dan si penderita juga tidak akan kehilangan harga dirinya.
Di akhir acara, Maria Shriver, yang ayahnya menderita Alzheimer stadium awal, mengulang kalimat yang pernah dikatakan suaminya kepadanya, “Terimalah ayahmu apa adanya. Jangan salahkan tingkah lakunya yang berbeda. Masalahnya bukan pada ayahmu. Masalahnya ada pada dirimu, pada bagaimana kamu menerima dia apa adanya.”
 
posted by Yustika at 8:59 AM | Permalink | 0 comments

Komplemen

Dialog I
Perempuan: “Pengen makan seafood…”
Laki-laki: “Ah, tapi aku nggak suka seafood tuh.”
Perempuan: “Haa? Nggak suka seafood? Pasti ada yang salah deh, wong makanan enak gitu. Seafood tuh makanan paling enak, kesukaanku banget.”
Laki-laki: “Ya terserah. Kalau aku, nggak suka.”

Dialog II
Laki-laki: “Belajar yang rajin, dong. Udah susah-susah masuk elektro, nggak belajar yang bener.”
Perempuan: “Maleeeessss... Pengen nulis, pengen baca. Kayaknya aku lebih cocok ke sastra deh.”
Laki-laki: “Sastra? Nggak ada asyiknya, tau.”
Perempuan: “Yeee... sastra itu menyenangkan. Bisa bikin halus perasaan. Bisa berekspresi tentang kehidupan.”
Laki-laki: “Oh ya? Ya udah, kamu aja yang baca sastra. Biar perasaanmu halus, biar ntar bisa nasehatin aku.”
Perempuan: “Coba baca sastra deh.”
Laki-laki: “Ogah. Lebih asyik belajar elektro.”

Dialog III
Perempuan: “Apa asyiknya sih belajar elektro? Aku nggak bisa nemu implementasinya dalam dunia real.”
Laki-laki: “Lho, buat apa nyari implementasi segala? Belajar ya belajar aja.”
Perempuan: “Ya nggak gitu. Kita harus tahu dong, buat apa kita belajar kayak gituan. Moral of the story-nya apa. Implementasinya kayak gimana.”
Laki-laki: “Ah, alesan aja. Belajar ya belajar. Dapet nilai bagus. Selesai.”
Perempuan: “Nah, ini dia… pragmatis banget sih kamu.”

Dialog IV
Perempuan: “Haa? Selama kuliah kamu nggak aktif di mana-mana?”
Laki-laki: “Nggak. Nggak seneng organisasi.”
Perempuan: “Lho, bukannya masa kuliah tuh masa paling menyenangkan untuk aktif terlibat di mana-mana? Buat kenal banyak orang sebanyak-banyaknya?”
Laki-laki: “Nggak juga. Aku toh nggak ada masalah nggak kayak gitu.”
Perempuan: “Ck ck ck. Kok bisa ya, nggak ikutan apa-apa. Pasti kamu sibuk belajar ya? Dasar anak pintar.”
Laki-laki: “Ah, nggak juga. Aku juga sering main kok.”

Dialog V
Laki-laki: “Haa? Kamu dulu sering ikut demo?”
Perempuan: “Iya. Sampe pernah ke bundaran HI segala.”
Laki-laki: “Ck ck ck. Buat apa sih ikut gituan? Kurang kerjaan.”
Perempuan: “Ya itu kan salah satu sisi dinamika kampus.”
Laki-laki: “Dinamika kampus apaan. Di ITB aja, jumlah yang ikut demo dikit banget. Kalau ada demo, yang banyak malah yang nonton.”
Perempuan: “Wah, kamu tipikal anak ITB banget. Apatis. Nggak punya idealisme.”
Laki-laki: “Kok bisa?” (nggak terima dibilang nggak punya idealisme)
Tuhan memang berhak menentukan skenario-Nya sendiri. Meskipun tampak begitu aneh, yakinlah bahwa semua perbedaan akan mencair bila kita memiliki satu ikatan. Ketika kita menemukan orang yang tepat, (entah bagaimana) kita pasti akan tahu…
 
posted by Yustika at 8:50 AM | Permalink | 1 comments

Pendidikan Anak

Wednesday, May 11, 2005
Anak adalah amanah, tentu semua orang tahu. Tapi ternyata tidak semua orang paham bagaimana men-treatment anak semenjak usia dini. Tak terkecuali saya. Empat tahun berkubang dalam buku-buku bertema pernikahan (huehehe…), membuat saya merasa harus berkata, “Cukup. Kini beralih ke fase berikutnya.”. Meski ilmu tentang pernikahan tak ada habisnya, melihat teman-teman sebaya sudah mulai menimang momongan, mau tak mau saya merasa butuh juga mengintip dunia futuristik berjudul “dunia anak” itu.

Menjadi kakak dari seorang adik yang usianya terpaut sepuluh tahun ternyata membawa keasyikan tersendiri dalam urusan intip-mengintip ini. Bagaimana tidak, perkembangan adik dari tahun ke tahun termonitor dengan cukup jelas. Lumayan asyik juga mengamati bagaimana pendidikan yang diberikan kedua orang tua kepada adik. Bahkan saya juga turut andil bereksperimen dalam pendidikan itu (hehehe, ngaku-ngaku...).

Eksperimen yang paling berhasil saya lakukan adalah menumbuhkan minat baca adik. Saya pernah membaca (entah di mana), bahwa anak yang terbiasa berinteraksi dengan buku sejak usia dini, mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menjadi cerdas. Maka sejak adik memasuki bangku sekolah dasar, dengan semangat empat lima saya selalu rutin menghadiahi buku-buku. Tentu buku-buku itu disesuaikan dengan perkembangan usianya: mulai dari buku-buku bergambar, buku cerita berhuruf besar, sampai --kini usia adik hampir tiga belas-- novel-novel tebal.

Hasilnya? Luar biasa. Minat baca adik melebihi minat baca saya kala seusianya. Harry Potter 5 habis dilahap hanya dalam tempo tiga hari. Kalau buku-buku bacaannya sudah terbaca semua, maka ia akan beralih ke surat kabar langganan bapak saya. Bahkan Kompas yang bagi sebagian orang merupakan surat kabar yang “berat”, buat adik saya sudah menjadi bacaan selingan selain novel-novelnya. Kini ia sudah memiliki buku tulis yang sudah disulap menjadi buku kumpulan cerpen dan puisi yang ditulisinya untuk menuangkan imajinasi.

Yang lebih menggembirakan lagi, minat belajar adik juga tinggi (kalau ini sih akibat treatment dari orang tua yang notabene memang praktisi pendidikan). Ia rajin sekali mengerjakan lembar-lembar soal LKS, beberapa kali lipat lebih jauh dari yang ditugaskan oleh sang guru. Tanpa disuruh, ia kini sudah terbiasa mematikan televisi dan beranjak ke meja belajar selepas maghrib. Subhanallah, jauh lebih rajin daripada si kakak ini, hehehe…

Beberapa waktu lalu, Kompas memuat sebuah feature tentang pendidikan prasekolah. Artikel itu mematahkan anggapan bahwa lembaga pendidikan prasekolah yang baik harus serba mahal. Di situ dikisahkan tentang Salam (Sanggar Anak Alam) di kampung Nitiprayan, Kabupaten Bantul. Dengan kesederhanaan, lokalitas, dan persahabatan dengan lingkungan, Salam mampu menawarkan pendidikan yang menarik bagi anak usia prasekolah.

Jangan bayangkan Salam memiliki fasilitas permainan edukatif import, peralatan multimedia, atau program bahasa asing mutakhir. Salam sangat sederhana. Jalan menuju ruang depan yang digunakan sebagai sekolah hanyalah jalan setapak dari bambu. Di depan sekolah terhampar sawah milik penduduk. Sebagian besar kegiatan belajar dilakukan di lantai beralas karpet. Alat-alat permainannya pun sangat sederhana.

Yang membuat saya tertarik adalah: buku menjadi menu utama dalam kegiatan belajar Salam (nah lho, buku lagi kan...). Dalam pertemuan selama dua jam, anak-anak mendengarkan guru mendongeng dan membacakan buku cerita, menggambar, bermain, atau bernyanyi. Sebagaimana halnya bapak saya, Salam tidak memaksakan anak harus bisa menulis dan membaca pada usia prasekolah ini. Bapak saya selalu bilang, adalah salah jika orang tua terlalu menargetkan: anak usia sekian harus bisa ini, harus bisa itu. Biarkan saja semua mengalir menurut perkembangan usianya. Tidak ada gunanya pula anak diperkenalkan pada hal-hal yang serba modern dan global, tetapi tidak mengenal identitas lokal.

Ada hal lain yang membuat saya tertarik pada Salam. Lembaga pendidikan prasekolah berbasis komunitas ini juga menggunakan model pembelajaran alami. Setiap Sabtu (kegiatan belajar hanya tiga kali sepekan) seluruh kelas digabung dengan acara ke sawah dan berkebun. Pemandangan yang mengesankan ketika anak-anak itu takjub saat mencabut tanaman kacang dan menemukan kacang tanah bergelantungan di bagian akar. Asyiknya lagi, uang sekolahnya sukarela, rata-rata Rp 15.000 tiap bulan. Sejumlah sukarelawan mengajar tanpa memperoleh bayaran.

Membaca fenomena Salam mengingatkan saya pada Tomoe Gakuen, sekolah Totto Chan yang terkenal itu. Saya bahkan mau mengajar sukarela di sekolah-sekolah seperti itu, yang benar-benar memperhatikan aspek pendidikan anak tanpa sisi komersial. Seperti itulah seharusnya sekolah: ia dibangun atas dasar kesadaran akan pentingnya pendidikan anak semenjak usia dini.
Hehehe... serius amat ya, artikel saya kali ini. Mungkin ini akibatnya kalau terlampau sering berdiskusi dengan ibu-ibu muda, serta beberapa kali ikut seminar pendidikan anak. Ah, tak apa. Sudah seharusnya kita mulai memikirkan pendidikan yang dapat melindungi anak-anak kita dari dunia yang makin rusak. Toh itu semua, kelak juga demi anak-anak saya tercinta...
 
posted by Yustika at 9:23 AM | Permalink | 2 comments

Jendela

Thursday, May 05, 2005
Mentari sore meriap warna, bisiknya menerpa sadarku dan larik-larik huruf di tanganku
Pucuk rerumput melembut dikecup semilir rasa, mencipta ruang penuh makna
Kekasih, aku di sini menujumu
 
posted by Yustika at 8:41 AM | Permalink | 0 comments