Terima Kasih kepada Withe dan Kurniawan

Thursday, January 06, 2005
Pada harian Kompas Rabu, 5 Januari 2005, saya menemukan sebuah artikel menarik dengan judul seperti di atas. Artikel itu ditulis oleh Ronny Pattinasarany, seorang pengamat sepakbola sekaligus mantan pemain tim nasional Indonesia. Saya pikir, ada baiknya saya men-share artikel ini di blog saya.

-----------------------------------------------------------
Ada dua faktor kunci kemenangan Indonesia melawan Malaysia. Pertama, kita beruntung punya pelatih yang mampu membaca permainan dan tidak larut dalam situasi kalut timnya. Peter Withe menunjukkan kelas ini. Ia mampu menghadapi segala tekanan, tetap tenang dan penuh konsentrasi mengamati setiap situasi di lapangan.

Ketinggalan satu gol dan harus mencetak lebih dari 2 gol untuk bisa lolos ke final bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pelatih. Tidak sedikit pelatih yang kehilangan konsentrasi dan tidak mampu untuk secara tenang mengamati situasi serta tidak berani mengambil keputusan yang berisiko tinggi terhadap kelangsungan status jabatannya.

Tidak demikian dengan Withe. Ia sadar akan posisinya yang bisa terancam jika gagal membawa kemenangan, apalagi di dunia persepakbolaan kita, sikap menghargai kinerja pelatih hanya dinilai berdasarkan prestasi menang atau kalah.

Berbekal pengalaman serta kemampuannya membaca situasi permainan, ia dengan berani mengambil keputusan untuk mengubah komposisi timnya. Guna mengejar ketinggalan, penempatan tiga pemain yang berfungsi mengawal daerah sentral pertahanan tidak lagi dianggap penting. Kalau toh ada serangan lawan, diharapkan dua pemain yang berfungsi menjaga daerah sentral pertahanan mampu mengatasinya.

Dalam situasi yang kurang menguntungkan, Withe harus cepat dan tepat mengambil keputusan siapa dari kelima pemain lini pertahanan yang harus ditarik keluar. Akhirnya pilihan jatuh ke Ismed Sofyan yang memang penampilannya mulai menurun dan kurang agresif membantu serangan. Berbeda dengan Ortisan Salossa, yang masih banyak diharapkan bisa menunjang serangan melalui sisi kiri lapangan.

Untuk bisa mengejar ketinggalan, ia memasukkan Kurniawan. Pergantian ini membuat komposisi pemain berubah. Mauly Lessy yang berperan di daerah sentral pertahanan digeser ke kanan mengambil peran Ismed dan hanya menempatkan dua pemain di sentral pertahanan: Charis Yulianto dan Firmansyah Agus.

Di lini depan juga terjadi perubahan, Kurniawan yang masuk mengambil peran Ilham Jayakesuma sebagai target man, sedang Ilham ditarik mundur sedikit beroperasi di belakang Kurniawan. Di sini kelebihan Withe. Ia tidak menempatkan dua pemain ini dalam posisi sejajar. Jika ini terjadi, akan lebih mudah bagi lini pertahanan Malaysia karena pemain banyak bertumpuk di jantung pertahanan, hingga daerah operasi mereka makin sempit.

Dengan Ilham dan Boas beroperasi di belakang Kurniawan, daya serang Indonesia makin bervariasi. Gerakan ketiga pemain ini sulit terbaca lawan, Boas bebas bergerak di antara pemain lini pertahanan lawan, demikian juga dengan Ilham. Situasi ini memecah konsentrasi pemain belakang Malaysia.

Taktik ini ampuh dalam merusak konsentrasi pemain lawan, akibatnya mereka tidak lagi disiplin dan sulit meng-cover daerahnya akibat pergerakan pemain yang cepat dan sering berubah arah.

Masuknya Kurniawan di awal babak kedua, yang mengubah taktik tim, tidak mampu diantisipasi Malaysia. Terlihat mereka tidak siap mental dengan perubahan ini. Pelatih dan pemain Malaysia tidak sempat lagi mengubah pola main timnya sebagai counter taktik yang dikembangkan Indonesia.

Di sini kelebihan Withe. Dia tidak melakukan perubahan komposisi pemainnya saat istirahat, yang kemungkinan kalau ini dilakukan, pihak Malaysia bisa membaca dan mempersiapkan penangkalnya.

Faktor kedua, tampilnya Kurniawan sebagai penyelamat tim. Ia mampu memberi inspirasi bagi rekan lainnya yang mulai terlihat frustrasi untuk kembali tampil percaya diri. Kehadiran Kurniawan di depan mampu merusak konsentrasi pemain lini pertahanan lawan.

Organisasi lini pertahanan mulai goyah, Rosdi Thalib, Khaironisam Shabudin, dan Norhafiz Zamani yang begitu tangguh menghadapi serangan Indonesia mulai goyah. Perubahan arah permainan yang cepat membuat mereka sering kehilangan posisi, dan lahirlah gol balasan Kurniawan.

Tak pelak, tampilnya Kurniawan di saat pemain dalam keadaan frustrasi menembus pertahanan lawan patut diacungi jempol. Motivasinya begitu tinggi. Kendati punya nama besar, ia tidak kecewa diposisikan sebagai pemain cadangan.

Ia mampu mengendalikan dirinya untuk bisa menerima keadaan dan tidak membuat ia berkecil hati, tapi justru menjadi cambuk untuk selalu bisa tampil maksimal bagi tim.

Penampilan gemilang Kurniawan menjadi modal besar bagi tim. Withe harus tetap bisa mempertahankan situasi ini. Duet Boas dan Ilham tetap harus dipertahankan, sedang Kurniawan tetap merupakan kartu truf saat dibutuhkan, saat tim mengalami kebuntuan.

Jika ia tampil sebagai starter dan tim berada dalam kesulitan, saya tidak melihat ada pemain yang mampu bertindak sebagai penyelamat tim. Kalau toh ada, tidak sebaik Kurniawan.
-----------------------------------------------------------

Komentar saya: He he he… Jadi Mr. Pattinasarany, lebih baik Kurniawan tetap diposisikan sebagai
cadangan, begitu?
 
posted by Yustika at 1:41 PM | Permalink |


0 Comments: